Tunjangan Guru Dipotong, IGI Protes Keras

0
23
Miris, Banyaknya Tugas Daring Membuat Siswa Ini Sampai Bunuh Diri
Ketua Umum JSDI, Muhammad Ramli Rahim (doc. MRR)

ACEHSIANA.COM, Jakarta – Ikatan Guru Indonesia (IGI) memprotes keras rencana pemerintah yang akan memotong tunjangan guru. Protes tersebut disampaikan Ketua Umum IGI, Muhammad Ramli Rahim dalam rilis yang diterima redaksi acehsiana.com pda Minggu (19/4).

Menurut Ramli, setelah melihat secara utuh, maka IGI memprotes keras langkah pemerintah yang memotong tunjangan guru hingga mencapai Rp3,3 triliun lewat Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 54 Tahun 2020 tentang Perubahan Postur dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2020.

Dijelaskan Ramli bahwa dalam lampiran Perpres Perubahan Postur dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2020, tunjangan guru setidaknya dipotong pada tiga komponen yaitu Tunjangan Profesi Guru (TPG) PNS daerah dari yang semula Rp 53,8 triliun menjadi Rp 50,8 triliun, kemudian penghasilan guru PNS daerah dipotong dari semula Rp 698,3 triliun menjadi Rp 454,2 triliun. Lalu, pemotongan juga dilakukan terhadap tunjangan khusus guru PNS daerah di daerah khusus, dari semula Rp 2,06 triliun menjadi Rp 1,98 triliun.

“Perpres Perubahan Postur dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2020 merugikan sejumlah pihak yang justru sebetulnya membutuhkan dukungan lebih dari pemerintah di tengah situasi penyebaran virus corona,” ujar Ramli.

Dikatakan Ramli bahwa pemotongan anggaran di sektor pendidikan juga dilakukan pemerintah terhadap dana Bantuan operasional Sekolah (BOS), bantuan operasional penyelenggaraan PAUD, bantuan operasional pendidikan kesetaraan, serta bantuan operasional museum dan taman budaya.

Ramli merinci dana BOS dipotong dari yang semula Rp 54,3 triliun menjadi Rp 53,4 triliun, bantuan operasional penyelenggaraan PAUD dipotong dari Rp 4,475 triliun menjadi Rp 4,014 triliun, lalu bantuan operasional pendidikan kesetaraan dipotong dari Rp 1,477 triliun menjadi Rp 1,195 triliun.

“Disisi lain anggaran Kemdikbud yang lebih dari 70,7 triliun tidak banyak berubah. Oleh karena itu kami berharap Kemdikbud memiliki rasa empati yang tinggi terhadap guru-guru kita yang mengalami dampak pandemi Covid-19 ini. Jangan sampai ada yang berkurang pendapatannya,” ungkap Ramli.

Ramli menambahkan bahwa justru guru-guru harus dijaga pendapatannya karena tidak jarang kita menemui guru yang membantu anak didiknya yang tidak mampu apalagi dalam kondisi pandemi seperti ini. B

“Bahkan kami menemukan guru-guru yang dengan penuh kerelaan membeli kuota data atau pulsa untuk anak didik mereka meskipun sekarang Permendikbud membolehkan dana BOS untuk kuota data baik untuk guru dan siswa. Namun rasa empati guru terhadap anak didiknya tidak akan hilang begitu saja apalagi jika melihat keluarga anak didiknya dalam kesulitan,” terang Ramli.

Ramli menegaskan bahwa IGI lebih cenderung agar anggaran-anggaran tidak bermanfaat dan tidak mengubah keadaan yang ada di Kemdikbud itu yang dialihkan untuk Corona.

“Anggaran peningkatan kompetensi Guru di Dirjen GTK Kemdikbud tidak banyak bermanfaat seperti anggaran organisasi penggerak yang lebih dari setengah triliun dan anggaran lain terkait peningkatan kompetensi Guru oleh Kemdikbud, kenapa tidak dialihkan saja untuk Corona,” pungkas Ramli.

Di akhir rilis Ramli menyindir bahwa puluhan tahun Kemdikbud menghabiskan dana triliunan rupiah untuk peningkatan kompetensi guru, tetapi kompetensi guru tidak beranjak membaik. Ramli juga meyakini bahwa organisasi penggerak tidak akan mengubah banyak hal terkait kompetensi guru. (*)

Editor: Darmawan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini