STOP IRI DAN DENGKI

0
21

Oleh : Kilawati

Setiap orang punya keinginan memiliki sesuatu dan menjadi seperti orang lain. Hal itu merupakan suatu kewajaran sebagai umat manusia. Keinginan- keinginan dipacu oleh hawa nafsu. Hawa nafsu tersebut dapat difilter dengan keimanan kepada sang pemilik kehidupan sehingga menjadi jalan kebaikan bagi diri kita sendiri.

Ketika keinginan tersebut muncul dan keimanan terhadap keberadaan Tuhan itu menipis maka akan muncul sesuatu keinginan ” aku harus memiliki apa yang kamu punya dan menjadi seperti kamu”. Hal itu wajar kalau dilakukan secara positif sesuai dengan kemampuan yang dimiliki tanpa harus di paksakan. Bukankah sesuatu yang di paksakan akan menghasilkan sesuatu keburukan bagi diri kita sendiri. Karena Sang pencipta menciptakan kadar rezeki dan kemampuan sesuai dengan porsinya masing- masing. Semua bisa berubah selama kamu berusaha untuk merubahnya tetapi bukan dengan cara memaksakan keadaan.

Ketika kita memaksa terhadap suatu keinginan yang menentang suatu keadaan maka yang terjadi adalah susah melihat orang senang dan senang melihat orang susah. Kalau sudah tercipta pemikiran seperti itu maka pakaian syaitan yang bernama iri sudah melekat pada diri seorang manusia. Aura wajah sudah tidak lagi mengeluarkan sinar cerah yang hanya ada wajah cemberut ketika melihat keberhasilan yang di capai orang lain karena ketercapaiannya tidak sesuai ekspektasi. Pikiran pun mulai kacau terhadap keinginan- keinginan yang tidak tercapai sehingga berbagai penyakit datang menghampirinya. Padahal kita masih dapat bangun dan menghirup udara di pagi hari dalam keadaaan sehat merupakan nikmat yang luar biasa dari sang pemilik kehidupan.

Untuk apa kita gundah gulana dalam menjalani proses hidup masing- masing. Jadilah diri sendiri untuk mencapai segala keinginan kita jangan jadi diri orang lain kalau orang Inggris mengatakan ” be yourself “. Jika kita tidak menjalani prinsip seperti itu maka yang terjadi adalah memaksakan kehendak. Ketika kehendak tersebut tidak kesampaian maka timbullah kebencian. Kenyataannya orang yang dibenci tidak tahu apapun mengapa dia di benci.

Jika kebencian sudah meradang syaitan pun berkecamuk dalam diri sehingga lupa adanya Tuhan. Kalau sudah seperti itu berbagai cara dilakukan agar dapat melumpuhkan orang yang dibenci termasuk mengunjungi tempat- tempat yang dilaknat oleh Allah karena mempersekutukanNya. Maka tingkatan iri pun berubah menjadi dengki.

Kesadaran terhadap keberadaan Tuhan pun hilang bahwa Allah selalu mengintai setiap gerak-gerik kehidupan manusia. Mengapa, Allah membiarkan umatNya tersesat? Bukan, Allah tak menyayangi umatNya tapi karena umatNya sendiri yang memilih jalan yang sesat dan Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang- orang yang sesat seperti yang terdapat dalam surat Al a’raf ayat ke 186 yang berbunyi

مَنْ يُّضْلِلِ اللّٰهُ فَلَا هَادِيَ لَهٗ ۖوَيَذَرُهُمْ فِيْ طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُوْنَ

Artinya :
Barangsiapa dibiarkan sesat oleh Allah, maka tidak ada yang mampu memberi petunjuk. Allah membiarkannya terombang-ambing dalam kesesatan.

Perbuatan iri dan dengki akan membuat seorang hamba terjerumus ke dalam sifat musyrik. Musyrik adalah sifat mempersekutukan Allah dengan hal lain maka merupakan dosa yang tak pernah mendapatkan pengampunan kecuali dia melakukan pertaubatan. Maka celakalah bagi orang – orang yang mempersekutukan Tuhanku ( Q.S Fussillat).

Kilawati Guru SMPN Sabang, Juga pengurus IGI Kota Sabang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini