Menu
Leading News For Education For Aceh

Situasi Kemanusiaan di Gaza Melampaui Bencana, Ribuan Pengungsi Dievakuasi dari Rumah Sakit Terkepung

  • Bagikan
Israel Bombardir Rafah, Pengungsi Palestina Terjebak di Gaza

ACEHSIANA.COM – Sekitar 8.000 pengungsi telah dievakuasi dari sebuah rumah sakit yang terkepung di kota utama Khan Younis di Gaza selatan, tempat mereka mencari perlindungan, pada Selasa (6/2). Rumah sakit tersebut, yang dikelola oleh Bulan Sabit Merah Palestina (PRCS), telah dikepung oleh pasukan penjajah dan pelaku genosida, Israel selama lebih dari dua minggu, dikelilingi oleh penembakan dan pertempuran sengit.

“Situasi kemanusiaan di Jalur Gaza melampaui bencana,” kata Tommaso Della Longa, Juru Bicara Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) kepada para wartawan di Jenewa, Selasa (6/2).

Ia mengatakan, Komite Internasional Palang Merah (ICRC) telah diberitahu bahwa rumah sakit Al-Amal sebagian besar telah dikosongkan setelah pengepungan yang panjang oleh pasukan penjajah Israel.

“Sebanyak 8.000 pengungsi internal yang mencari perlindungan di rumah sakit Bulan Sabit Merah Palestina di Khan Younis telah meninggalkan rumah sakit tersebut kemarin,” jelasnya, dikutip dari AFP. Dia bercerita, rumah sakit itu dihantam beberapa kali, termasuk pada Jumat (2/2), ketika seorang sukarelawan PRC terbunuh.

Sekitar 100 pasien lansia, terluka dan cacat tetap berada di sana, dengan sekitar 100 staf dan sukarelawan, kata ICRC. Bahkan sebelum evakuasi, Della Longa menyebut, rumah sakit Al-Amal telah menghadapi tantangan yang sangat besar, termasuk kekurangan obat-obatan, makanan, dan air.

“Mengisi kembali persediaan hampir tidak mungkin, begitu pula akses untuk ambulans,” jelasnya.

PCRS mengatakan pada Selasa, bahwa pengeboman serta tembakan keras dan terus menerus di sekitar rumah sakit Al-Amal berlanjut, mengakibatkan pecahan peluru beterbangan di rumah sakit. Rumah sakit tersebut, yang dilindungi oleh hukum kemanusiaan internasional, telah berulang kali menjadi sasaran serangan Israel ke Gaza sejak perang meletus empat bulan lalu.

Militer penjajah Israel menuduh Hamas menggunakan fasilitas medis sebagai pusat komando, sebuah tuduhan yang dibantah oleh Hamas. Hamas, yang menguasai Gaza sejak 2007, telah melancarkan roket dan serangan bunuh diri terhadap Israel sebagai balasan atas blokade dan serangan penjajah Israel.

Kementerian Kesehatan yang dikelola Hamas di Gaza mengatakan keadaan di rumah sakit Nasser di dekatnya juga mengkhawatirkan.

“Pendudukan penjajah Israel memperketat pengepungannya terhadap kompleks medis Nasser dan menargetkan perimeternya secara intensif,” kata Juru Bicara Kementerian itu, Ashraf al-Qudra.

Dia menjelaskan, ada 450 orang yang terluka, 300 staf medis, dan 10.000 orang yang mengungsi di tempat itu. Ashraf menyebut, para pasien kekurangan obat bius dan obat-obatan.

“Generator di kompleks medis Nasser akan berhenti dalam waktu empat hari karena kekurangan bahan bakar,” katanya. Dia juga menuduh pasukan penjajah Israel mencegah pergerakan ambulans.

Menurut laporan PBB, lebih dari 3.000 orang telah tewas dan lebih dari 20.000 orang terluka akibat konflik di Gaza sejak November 2023. Sekitar 1,5 juta orang, atau hampir 80 persen populasi Gaza, membutuhkan bantuan kemanusiaan mendesak, termasuk makanan, air, kesehatan, dan perlindungan.

Organisasi kesehatan dunia (WHO) mengatakan, sistem kesehatan di Gaza telah runtuh akibat serangan penjajah Israel dan kekurangan sumber daya. WHO juga mengatakan, sekitar 50 persen fasilitas kesehatan di Gaza telah rusak atau tidak berfungsi, dan sekitar 40 persen staf medis telah meninggalkan pekerjaan mereka karena ketakutan atau trauma.

WHO telah mengirimkan bantuan medis dan obat-obatan ke Gaza, serta mendirikan rumah sakit lapangan dan klinik mobile untuk memberikan layanan kesehatan darurat. Namun, WHO mengatakan, bantuan tersebut masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan mendesak penduduk Gaza.

Sementara itu, upaya perdamaian internasional untuk mengakhiri konflik di Gaza masih belum membuahkan hasil. Meskipun PBB, Liga Arab, Uni Eropa, dan negara-negara lain telah menyerukan gencatan senjata segera dan tanpa syarat, penjajah Israel dan Hamas masih bersikeras pada tuntutan mereka masing-masing.

Penjajah Israel mengatakan, mereka akan terus menyerang Gaza sampai mereka menghancurkan terowongan bawah tanah dan infrastruktur militer Hamas. Hamas mengatakan, mereka akan terus melawan sampai penjajah Israel mengakhiri blokade dan agresi terhadap Gaza. Kedua belah pihak juga menolak usulan untuk mengirim pasukan internasional ke Gaza untuk mengawasi gencatan senjata. (*)

Editor: Darmawan

  • Bagikan