2 C
Munich
Jumat, Desember 2, 2022

Pentingnya Mengajari Ilmu Agama pada Anak

Must read

Oleh: Muhammad Syawal Djamil

UNGKAPAN “Belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu” ternyata  menjadi penyemangat yang begitu familiar di lembaga pendidikan, baik itu di sekolah, pesantren maupun dayah. Ungkapan ini menekankan kepada kita bahwa pentingnya belajar di waktu kecil. Wabilkhusus belajar tentang ilmu agama.

Mengapa ilmu agama menjadi penting diajarkan kepada anak sejak kecil? Yah, jawabannya ialah karena anak perlu tahu bagaimana cara berhubungan dengan Tuhan, dan tahu bagaimana bersikap terhadap manusia yang ada di lingkungannya. Seperti bagaimana bersikap dengan ibu dan bapaknya, teman-temannya, dan lingkungan sekitarnya.

Tak jarang kita dapati, seorang anak yang pintar namun minus ilmu agama, berubah menjadi pemberontak yang melawan ibu-bapaknya. Bahkan, didapati juga anak yang dengan teganya membunuh ibu dan bapaknya. Kenapa hal demikian terjadi? Ya, jawabannya karena ketika kecilnya tidak dibekali ilmu agama.

Kalau mau mengakui, kita yang sudah dewasa, menjadi tahu bagaimana cara berhubungan dengan Tuhan saat sudah dewasa begini tak lain didorong dan berbekal ilmu agama yang kita peroleh sejak kecil. Beruntung bila ilmu agama yang kita dapati itu berhasil kita “upgrade” sepanjang proses perjalanan hidup kita.

Belajar di waktu kecil tidaklah menjadi penghambat bagi pertumbuhan psikomotorik anak, malah mampu membuat perkembangan otaknya menjadi lebih berkembang. Sejumlah peneliti, mengatakan bahwa makhluk manusia sejak bayi otaknya telah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Karena itu, manusia sejak bayi atau sejak kecil sudah bisa diajarkan belajar banyak hal. Tidak hanya membaca, bahkan ilmu berhitung sekalipun.

Dalam sejarah Islam, tercatat jika para ulama para ulama dulu sudah mampu membaca, dan bahkan, sudah mampu menghafal sejak usia yang tergolong masih dini. Imam Asy-Syafi’i misalnya, diketahui dalam sejarah Islam sudah mampu membaca Alquran sejak masih dalam kandungan. Dan beliau telah menghafal kitab tebal karya Imam Malik, Al-Muwaththa’, ketika berusia 15 tahun.

Kenyataan ini, semakin menegaskan bahwa belajar di waktu kecil memang akan memberi bekas yang sangat mendalam dan sukar untuk hilang (lupa). Seperti ibarat Batu yang diukir. Bertahun-tahun lamanya ukiran yang ada pada Batu tidak akan pernah hilang.
Nyan ban !!

Muhammad Syawal Djamil adalah guru Sekolah Sukma Bangsa Pidie

- Advertisement -spot_img

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Latest article