Menu
Leading News For Education For Aceh

Mogok Kerja, Pekerja Federal Desak AS Hentikan Bantuan Militer ke Israel

  • Bagikan
Pekerja federal AS risiko mata pencaharian dalam mendorong perubahan kursus pada perang Gaza
Protes pekerja Federal AS di depan gedung putih

ACEHSIANA.COM – Puluhan ribu pekerja federal AS telah mengadakan mogok kerja untuk menuntut pemerintah AS mengubah kebijakan luar negerinya terkait perang di Gaza, yang telah menewaskan lebih dari 2.000 orang, sebagian besar warga sipil Palestina.

Mogok kerja, yang dimulai pada hari Senin, adalah bagian dari gerakan yang disebut Federal Workers for Peace, yang terdiri dari pegawai negeri sipil, kontraktor, dan pegawai militer yang menentang dukungan AS terhadap Israel dalam konflik tersebut.

Para pemogok mengatakan mereka bersedia mengorbankan gaji dan karier mereka untuk menekan pemerintah AS agar menghentikan bantuan militer kepada Israel, yang mencapai $3,8 miliar per tahun, dan mendukung solusi dua negara yang adil bagi Israel dan Palestina.

“Kami merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menggunakan hak kami sebagai pekerja federal untuk berbicara atas nama orang-orang yang tidak memiliki suara,” kata Sarah Jones, seorang analis intelijen di Departemen Pertahanan, yang bergabung dengan mogok kerja.

“Kami tidak bisa diam saja ketika uang pajak kami digunakan untuk membiayai pembunuhan massal, pelanggaran hak asasi manusia, dan penjajahan. Kami menuntut perubahan kebijakan yang sesuai dengan nilai-nilai demokrasi dan kemanusiaan yang kami pegang teguh,” tambahnya.

Menurut juru bicara Federal Workers for Peace, mogok kerja telah menarik lebih dari 50.000 pekerja federal dari berbagai lembaga dan departemen, termasuk Departemen Luar Negeri, Badan Intelijen Pusat, Badan Keamanan Nasional, dan Departemen Kehakiman.

Mogok kerja ini telah menimbulkan dampak pada operasi pemerintah AS, terutama di bidang intelijen, keamanan, dan diplomasi. Beberapa pejabat senior telah mengeluarkan peringatan tentang risiko keamanan nasional dan ancaman hukum bagi para pemogok.

Namun, para pemogok mengatakan mereka tidak takut akan konsekuensi yang mungkin mereka hadapi, dan berharap aksi mereka dapat menginspirasi pekerja federal lainnya dan masyarakat umum untuk bergabung dengan mereka.

“Kami tahu kami mengambil risiko besar, tetapi kami percaya bahwa ini adalah saatnya untuk bertindak. Kami tidak bisa menunggu lagi. Kami harus menunjukkan solidaritas kami dengan rakyat Palestina, dan mendesak pemerintah AS untuk menghormati hak-hak mereka,” tutur James Smith, seorang teknisi komputer di Badan Keamanan Nasional, yang juga ikut mogok. (*)

Editor: Darmawan

  • Bagikan