Menu
Leading News For Education For Aceh

Jeritan Hidup Cut Dhea Jadi Inspirasi Pencari Masa Depan

  • Bagikan
Oplus_0

Oleh. Abdul Hamid SPd MPd

Cut Dhea adalah seorang siswa SMA yang tinggal di kota Juang, Bireuen. Di usianya yang masih belia, ia telah memikul tanggung jawab yang besar. Sebagai anak sulung dari tiga bersaudara, Dhea tidak hanya harus menjaga prestasi akademiknya, tetapi juga merawat keluarganya. Ibunya sedang berjuang melawan tumor, sehingga beban mengurus rumah tangga dan mengurus adik-adiknya yang masih bersekolah di SMP dan SD ada dipundaknya. Selain itu, neneknya yang sudah lanjut usia juga membutuhkan perhatian dan perawatan dari seorang Cut Dhea.

Setiap pagi, sebelum fajar menyingsing, Dhea sudah bangun untuk mempersiapkan sarapan bagi keluarganya. Setelah memastikan semua kebutuhan keluarganya terpenuhi, ia berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki sejauh 4.3 kilometer. Meski jaraknya cukup jauh, Dhea tidak pernah mengeluh. Di tengah perjuangannya, ia tetap bersemangat dan terus menunjukkan prestasi yang gemilang di sekolah.

Para guru dan teman-temannya di sekolah sangat kagum dengan ketekunan dan semangat Dhea. Ia selalu menjadi contoh bagi teman-temannya, baik dalam hal akademik maupun sikapnya yang penuh tanggung jawab. Keadaan keluarganya yang penuh tantangan tidak menyurutkan semangatnya untuk belajar dan meraih cita-citanya.

Berita tentang ketekunan dan perjuangan Dhea akhirnya sampai ke telinga Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Bireuen. Tergerak oleh kisah Dhea yang inspiratif, kepala cabang dinas tersebut memutuskan untuk mencari donatur yang meringankan beban hidup Dhea. Suatu hari, Dengan penuh haru, kepala cabang dinas menyerahkan satu unit sepeda kepada Dhea.

“Saya sangat terharu dan bangga dengan ketekunan dan semangat Dhea,” ujar kepala cabang dinas. “Semoga sepeda ini dapat membantu Dhea dalam perjalanan ke sekolah, dan menjadi penyemangat untuk terus berprestasi.”

Dhea menerima sepeda tersebut dengan mata berkaca-kaca. Baginya, sepeda itu bukan sekadar alat transportasi, tetapi simbol dari pengakuan dan apresiasi atas perjuangannya. Dengan sepeda itu, perjalanan Dhea ke sekolah menjadi lebih cepat dan ringan, memberinya lebih banyak waktu untuk belajar dan merawat keluarganya.

Kisah Dhea menjadi inspirasi bagi banyak orang di kota Juang, Bireuen. Semangat dan ketekunannya dalam menghadapi berbagai tantangan hidup mengajarkan kepada semua orang bahwa dengan tekad yang kuat dan kerja keras, semua rintangan bisa dilalui. Dhea terus berjuang, tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk keluarganya, dan untuk masa depan yang lebih baik.

Sejak menerima sepeda tersebut, kehidupan Dhea mulai sedikit berubah. Ia tidak lagi harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk berjalan kaki ke sekolah. Waktu yang biasanya dihabiskan untuk perjalanan sekarang bisa digunakan untuk belajar lebih banyak atau membantu keluarganya. Harapan Prestasi akademiknya semakin meningkat, dan ia semakin dikenal di sekolah sebagai siswa teladan.

Namun, tantangan di rumah tetap ada. Kondisi ibunya yang semakin parah membuat Dhea harus membagi waktu lebih ketat antara belajar dan mengurus keluarga. Pagi hari setelah sarapan, Dhea mengantarkan adik-adiknya ke sekolah dengan sepeda, kemudian kembali ke rumah untuk merawat ibunya sebelum berangkat ke sekolah. Di sekolah, ia tetap mengikuti pelajaran dengan tekun, selalu memperhatikan dan mencatat setiap materi yang disampaikan oleh guru.

Guru-guru di sekolah semakin menyadari betapa luar biasanya perjuangan Dhea. Mereka berusaha membantu sebisa mungkin, memberikan dukungan moral dan bantuan tambahan jika diperlukan. Mereka bahkan menggalang dana untuk membantu biaya pengobatan ibunya. Semangat gotong royong ini semakin membuat Dhea termotivasi untuk terus berjuang.

Di rumah, meski sibuk dengan tugas sekolah, Dhea selalu berusaha memberikan waktu untuk ibunya. Setiap sore setelah pulang sekolah, ia duduk di samping ibunya, bercerita tentang hari-harinya di sekolah dan mendengarkan cerita ibunya tentang masa lalu. Kebersamaan ini memberikan kekuatan tambahan bagi Dhea dan ibunya.

Waktu terus berlalu, dan kondisi ibunya belum ada tanda tanda membaik, namun ada harapan yang menyala. Dengan semangat dan doa, keluarga ini terus berjuang bersama. Neneknya yang tadinya sering merasa khawatir, kini merasa lebih tenang melihat semangat Dhea yang tak pernah surut.

Kita berharap Dhea akan menjadi anak yang sukses, suatu saat nanti Dhea menyampaikan pidato kelulusan yang sangat menyentuh hati banyak orang. “Perjalanan ini tidak mudah,” katanya. “Tapi saya belajar bahwa di balik setiap kesulitan, selalu ada harapan. Saya berterima kasih kepada semua orang yang telah membantu dan mendukung saya. Khususnya kepada ibu, nenek, dan adik-adikku, yang menjadi sumber kekuatan terbesar dalam hidupku.”

Air mata haru akan mengalir di wajah banyak orang yang hadir. Kisah perjuangan Dhea menjadi inspirasi, bukan hanya bagi teman-temannya, tetapi juga bagi masyarakat di kota Juang, Bireuen. Mereka melihat bahwa dengan kerja keras, ketekunan, dan dukungan dari orang-orang tercinta, setiap mimpi bisa diraih meski dengan banyak rintangan di sepanjang jalan.

Harapan penulis Dhea melanjutkan pendidikannya di universitas dengan semangat baru. Ia tahu perjalanan ini masih panjang, tetapi ia siap menghadapi setiap tantangan yang datang. Dengan sepeda yang dulu diterimanya sebagai hadiah, ia mengenang setiap langkah perjuangannya, dan dengan semangat itu, ia siap menulis bab baru dalam hidupnya. Sepeda ini menghantarkan ku jadi sarjana.

Penulis adalah kepala cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Bireuen

  • Bagikan