Menu
Leading News For Education For Aceh

DPR AS Usulkan Bantuan Militer Rp 277 Triliun untuk Israel, Senat AS Belum Setuju

  • Bagikan
AS Tetap Dukung Israel Meski Ditolak Tawaran Gencatan Senjata
Asap mengepul di atas Khan Younis di selatan Jalur Gaza saat bombarder Israel

ACEHSIANA.COM, Washington DC – Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Amerika Serikat (AS) yang dikuasai Partai Republik mengusulkan Rancangan Undang-Undang (RUU) yang akan memberikan bantuan militer baru senilai USD 17,6 miliar (Rp 277 triliun) kepada penjajah Israel, sekutu terdekat AS di Timur Tengah. RUU ini diajukan di tengah meningkatnya ketegangan antara penjajah Israel dan Hamas, kelompok militan Palestina yang menguasai Jalur Gaza.

Menurut Komite Alokasi Dana DPR AS, anggaran ini akan mencakup dana untuk membantu sistem pertahanan rudal penjajah Israel, seperti Iron Dome dan Arrow, yang telah digunakan untuk menangkal serangan roket dari Hamas. Selain itu, anggaran ini juga akan digunakan untuk pengadaan sistem persenjataan canggih tambahan, seperti pesawat tempur F-35 dan helikopter Apache, serta produksi artileri dan amunisi penjajah Israel lainnya.

Sebagian dari anggaran Rp 277 triliun ini juga akan digunakan untuk menambah persenjataan dari AS yang diberikan kepada penajjah Israel setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 terjadi. Serangan itu menewaskan 13 orang penjajah Israel dan lebih dari 200 orang Palestina, serta menghancurkan sejumlah infrastruktur di Gaza. AS telah menyatakan dukungan penuh kepada penjajah Israel dalam mempertahankan diri dari serangan Hamas, yang dianggap sebagai organisasi teroris oleh AS dan sejumlah negara lain.

Ketua DPR AS Mike Johnson mengatakan pemungutan suara perihal RUU soal pendanaan yang diusulkan oleh panel Alokasi Dana DPR ini dapat dilakukan pada pekan depan.

“Kebutuhan untuk mendukung sekutu terdekat kita dan pasukan kita sendiri di wilayah ini tidak pernah lebih mendesak,” ujar Johnson di hadapan para anggota DPR AS, sebagaimana diberitakan Reuters.

Namun, RUU ini belum tentu dapat disetujui oleh Senat AS, yang dikuasai Partai Demokrat. Senat AS sebelumnya telah menolak mentah-mentah RUU yang diajukan oleh DPR AS pada November 2023, yang memberikan bantuan militer baru untuk penjajah Israel senilai USD 14,3 miliar (Rp 225 triliun)—namun dengan syarat bantuan tersebut harus dibayarkan dari pengambilan sebagian besar dana yang telah ditargetkan untuk Revenue Service AS, lembaga pajak AS.

Salah satu faksi dari Kongres AS itu diprediksi akan mengusulkan RUU yang bisa pada saat bersamaan membantu penjajah Israel sekaligus memberikan lebih banyak dana bantuan militer untuk Ukraina, yang sedang berhadapan dengan ancaman invasi dari Rusia. RUU Senat yang sama juga diperkirakan akan berisi pengajuan untuk memperkuat keamanan di sepanjang perbatasan bagian selatan AS dengan Meksiko, yang menjadi salah satu isu utama dalam agenda Presiden Joe Biden.

Pemimpin Mayoritas Senat, Chuck Schumer, telah mengambil langkah-langkah untuk memulai pembahasan mengenai RUU ini pekan depan—dengan pemungutan suara tahap pertama akan diselenggarakan selambat-lambatnya pada Rabu (7/2). Schumer mengatakan RUU ini penting untuk menjaga keamanan nasional AS dan sekutu-sekutunya.

“Kita tidak boleh membiarkan Rusia menginvasi Ukraina, atau Hamas menghancurkan penjajah Israel. Kita harus berdiri bersama dengan teman-teman kita dan melindungi kepentingan kita,” kata Schumer, seperti dikutip dari The New York Times.

Adapun sebelum RUU soal pendanaan bantuan militer untuk Israel dan Ukraina dapat disahkan, DPR dan Senat harus meloloskan RUU yang sama dari masing-masing badan legislatif. Setelahnya, RUU ini baru bisa diserahkan ke Presiden Joe Biden untuk diratifikasi hingga terlahir sebagai Undang-Undang baru yang harus diadopsi. Biden sendiri telah menyatakan dukungannya terhadap bantuan militer untuk penjajah Israel dan Ukraina, namun juga menekankan pentingnya diplomasi dan dialog untuk menyelesaikan konflik-konflik tersebut. (*)

Editor: Darmawan

  • Bagikan