Menu
Leading News For Education For Aceh

Daya Beli Masyarakat dan Aktivitas Ekonomi Terus Menurun Akibat Melemahnya Rupiah

  • Bagikan
Daya Beli Masyarakat dan Aktivitas Ekonomi Terus Menurun Akibat Melemahnya Rupiah

ACEHSIANA.COM, Jakarta – Kondisi daya beli masyarakat yang tengah melemah dan aktivitas ekonomi di dalam negeri yang lesu diperkirakan akan terus berlanjut selama nilai tukar rupiah masih berada di atas Rp 16.000/US$ dan tren suku bunga acuan tetap tinggi.

Abdul Manap Pulungan, ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), menyatakan bahwa dampak dari kedua kondisi ini telah menyebabkan sektor tenaga kerja mengalami masalah, terutama karena maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK).

Menurut Abdul Manap, PHK dan stagnannya gaji atau pendapatan pekerja dipicu oleh penurunan pertumbuhan barang modal dan bahan baku, sehingga ekspansi perusahaan terhambat dan kapasitas produksi menurun.

“Karena faktor depresiasi rupiah yang mahal. Jadi korporasi itu akan menahan untuk ekspansi. Kalau itu terjadi, maka akan berpengaruh terhadap sektor tenaga kerja,” kata Abdul Manap pada Kamis (11/7).

Data Satu Data Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan bahwa pada periode Januari-Mei 2024 jumlah pekerja yang terkena PHK mencapai 27.222 orang, meningkat 48,48% dari 18.333 orang pada periode yang sama tahun 2023.

Akibat maraknya PHK, jumlah pekerja informal yang pendapatannya tidak menentu pun meningkat di Indonesia.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa hingga tahun ini jumlah pekerja informal masih mendominasi.

Per Februari 2024, persentasenya mencapai 59,15% dari total jumlah penduduk yang bekerja sebesar 142,18 juta orang, sedangkan sisanya, 40,83%, adalah pekerja formal.

“Meskipun sebetulnya ketika terjadi PHK orang tetap akan bekerja, tetapi dia akan bekerja di sektor informal yang daya belinya relatif lebih rentan dibandingkan sektor-sektor formal. Kenapa formal lebih kokoh? Karena tiap bulan pasti ada gaji yang diterima dari perusahaan,” ucap Abdul Manap.

Bagi pekerja formal, kenaikan gaji atau pendapatannya pun masih jauh lebih rendah dibanding tekanan harga bahan pangan pokok, yang tergambar dari tingginya inflasi bahan pangan bergejolak atau volatile food beberapa bulan terakhir.

Inflasi bahan pangan bergejolak naik sejak Januari 2024 hingga mencapai puncaknya pada Maret 2024 sebesar 10,33%, sebelum turun ke posisi 5,96% pada Juni 2024.

Per Mei 2024, inflasi bahan pangan bergejolak masih sebesar 8,14%, jauh di atas rata-rata kenaikan gaji di Indonesia.

Data Bank Indonesia mencatat bahwa kenaikan gaji untuk aparatur sipil negara (ASN) pada periode 2019-2024 hanya sebesar 6,5%, dengan catatan bahwa pada periode 2020-2023 tidak ada kenaikan gaji ASN.

Kenaikan upah minimum regional (UMR) atau gaji pegawai swasta rata-rata hanya 4,9% pada 2020-2024.

Menurut Abdul Manap, tekanan nilai tukar rupiah dan suku bunga tinggi BI yang saat ini berada di level 6,25% menyebabkan perusahaan cenderung sulit menaikkan gaji para pekerjanya.

Alhasil, daya beli masyarakat terdampak karena biaya produksi menjadi lebih mahal akibat beban bunga tinggi serta bahan baku dan modal yang terdampak depresiasi kurs.

“Pada saat aktivitas perusahaan menurun, tidak serta-merta perusahaan akan menaikkan gaji meskipun ada kenaikan inflasi. Jadi secara tidak langsung pendapatan orang tergerus cukup tinggi, sehingga orang akan menahan belanja,” jelas Abdul Manap.

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) juga telah merosot dalam tiga bulan terakhir. Berdasarkan rilis BI terbaru per Juni 2024, IKK berada di level 123,3, meskipun masih dalam kategori optimis (>100).

Angka ini turun dari posisi Mei 2024 yang sebesar 125,2, dan jauh di bawah posisi April 2024 sebesar 125,2.

Pemerintah menganggap penurunan IKK ini dipicu oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terus melemah beberapa hari terakhir. Kurs rupiah masih bertahan di level di atas Rp 16.000/US$.

“Itu biasanya kita lihat dari sentimen yang terjadi terhadap kurs. Kurs itu secara tidak langsung memengaruhi kepercayaan bukan hanya pelaku investasi, bisnis, tetapi juga rumah tangga,” kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Nathan Kacaribu saat ditemui di Gedung Parlemen, Jakarta, Senin (8/7).

Febrio menambahkan bahwa penurunan IKK selama tiga bulan beruntun ini lebih banyak dipicu oleh kecenderungan kelas menengah yang menahan belanja saat nilai tukar rupiah masih tertahan.

Oleh sebab itu, bila kurs rupiah kembali menguat, ia yakin angka indeks tersebut akan naik kembali.

“Kalau belanja kelas menengah kan tidak kecil-kecil, sehingga ada perilaku optimisme. Maka kita senang melihat arah perbaikan kurs sekarang, ini akan memperbaiki sentimen ke depan, khususnya untuk rumah tangga,” ucap Febrio.

Per hari ini, rupiah masih terus berada di level tinggi, meninggalkan level Rp 15.000 pada awal April 2024 dan akhir Mei 2024.

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah diperdagangkan di angka Rp 16.200 per US$ pada pukul 10.34 WIB, Kamis (11/7). (*)

Editor: Darmawan

  • Bagikan