1.9 C
Munich
Kamis, Desember 1, 2022

Bicara Tentang Climate Crisis, Guru Sukma Bangsa Ini Diundang ke Finlandia

Must read

ACEHSIANA.COM, Helsinki – Bicara tentang perubahan iklim (climate change), guru Sukma Bangsa Lhokseumawe, Sarlivanti SPd MPd, diundang ke Finlandia. Sarlivanti berada di Finlandia pada tanggal 8 – 14 Mei 2022, sebagai salah seorang pembicara climate crisis di Tampere University, Finlandia.

Menurut Sarlivanti, program tersebut merupakan kerjasama antara Faculty of Education and Culture, Tampere University dengan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung dan Sekolah Sukma Bangsa.

Dikatakan Sarlivanti bahwa program tersebut mengangkat tema Curriculum development for Climate Change Education. Sarlivanti mempresentasikan tentang Lesson Learned from Crisis.

“Saya menyampaikan bagaimana perjuangan Sekolah Sukma Bangsa melewati beragam krisis, dimulai dari krisis konflik dan bencana yang menjadi cikal bakal lahirnya Sekolah Sukma Bangsa di Indonesia, krisis di masa pandemi covid-19, dan Climate Crisis,” ujar Sarlivanti.

Sarlivanti menambahkan bahwa isu tentang Climate Crisis menjadi topik utama yang dipresentasikan.

“Bagaimana Sekolah Sukma Bangsa sangat concern terhadap isu lingkungan, menjadikannya sebagai sebuah budaya sekolah untuk menjadi sebuah habituasi atau perubahan perilaku berbasis lingkungan. Dalam penerapan di sekolah, Sekolah Sukma membentuk tim Green School Project, kemudian mengintegrasikannya dalam proses pembelajaran dengan menerapkan beragam model pembelajaran untuk membentuk pemahaman pentingnya mengantisipasi dampak dari perubahan iklim,” sebut Sarlivanti.

Sarlivanti mengungkapkan bahwa agenda lain selama di Finlandia adalah kunjungan ke Tampere University Lab School. Dalam pertemuan tersebut, lanjut Sarlivanti, kepala sekolah menjelaskan bagaimana mekanisme pengelolaan sekolah dan diikuti dengan wisata kelas.

“Konsep moving class memberikan kenyamanan tersendiri bagi anak-anak disana. Kelas yang paling menarik adalah Home Economic Class. Di kelas ini siswa belajar bagaimana memasak dan mempersiapkan serta menyajikan makanan, belajar housekeeping, belajar menyuci dan menyetrika. Di kelas siswa benar-benar dilatih untuk mandiri dalam hidupnya,” tutur Sarlivanti.

Lebih lanjut Sarlivanti menambahkan bahwa spihaknya juga mengunjungi Nature School, sekolah yang mengelaborasikan alam dalam pembelajaran, dari alam siswa belajar beragam ilmu pengetahuan.

Sarlivanti juga mengikuti workshop dari para pakar di Tampere University terkait Self Cultivation, Ecosocial, Narrative Curriculum, dan Climate Change on Education. Dalam workshop tersebut, para pakar memberikan gambaran nyata pentingnya mengintegrasikan isu perubahan iklim dalam proses pembelajaran.

“Siswa harus dididik untuk mengubah perilaku berbudaya lingkungan sehingga menjadi pribadi yang memiliki rasa peduli dan peka terhadap lingkungan, dan hal ini menjadi bagian dari upaya pencegahan bencana akibat perubahan iklim,” pungkas Sarlivanti.

Sementara itu, Direktur Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe, Zubir, berharap perubahan iklim menjadi perhatian serius semua kalangan.

“Semoga semua sekolah dan universitas di Indonesia mengimplementasikan Kurikulum Perubahan Iklim. Ini harus dimulai dari lembaga pendidikan, membentuk generasi berbudaya lingkungan masa depan” harap Zubir. (*)

Editor: Darmawan

- Advertisement -spot_img

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Latest article