Menu
Leading News For Education For Aceh

Arab Saudi Tolak Normalisasi Hubungan dengan Israel Sebelum Palestina Merdeka

  • Bagikan
Israel Bombardir Rafah, Pengungsi Palestina Terjebak di Gaza

ACEHSIANA.COM, Riyadh – Arab Saudi menegaskan bahwa tidak akan ada hubungan diplomatik dengan penjajah Israel kecuali jika negara Palestina merdeka diakui di perbatasan tahun 1967 dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya. Saudi juga meminta agresi Israel di Jalur Gaza dihentikan segera.

Pernyataan tegas ini disampaikan oleh Kementerian Luar Negeri Arab Saudi pada Rabu (7/2), sehari setelah juru bicara Keamanan Nasional Gedung Putih John Kirby mengatakan bahwa pemerintahan Biden telah menerima umpan balik positif bahwa Arab Saudi dan Israel bersedia untuk melanjutkan diskusi normalisasi.

Dilansir dari Reuters, Kementerian Luar Negeri Arab Saudi mengatakan bahwa pernyataan tersebut dikeluarkan untuk menegaskan posisi teguh Arab Saudi terhadap Washington terkait isu Palestina, sehubungan dengan komentar yang disampaikan Kirby.

“Arab Saudi tetap berpegang pada posisi prinsipnya bahwa solusi yang adil dan permanen untuk masalah Palestina adalah dasar untuk normalisasi hubungan dengan penjajah Israel,” kata kementerian tersebut dalam sebuah pernyataan.

Arab Saudi juga mengecam “kebijakan agresif dan ilegal penjajah Israel” terhadap rakyat Palestina, dan mendesak masyarakat internasional untuk mengambil tindakan untuk mengakhiri pelanggaran hak asasi manusia dan hukum internasional oleh penjajah Israel.

Arab Saudi, yang merupakan sekutu utama AS di Timur Tengah, belum menormalkan hubungan dengan Israel, meskipun telah memberikan persetujuan diam-diam kepada negara tetangga Teluk, Uni Emirat Arab dan Bahrain, untuk menjalin hubungan dengan penjajah Israel pada 2020.

Arab Saudi menunda rencana yang didukung AS untuk menormalkan hubungan dengan penjajah Israel, karena menunggu hasil pemilihan presiden AS pada November 2020. Namun, setelah Joe Biden terpilih sebagai presiden AS, Arab Saudi masih belum menunjukkan tanda-tanda untuk melanjutkan rencana tersebut.

Sementara itu, penjajah Israel memulai serangan militernya di Gaza setelah militan dari Gaza yang dikuasai Hamas menewaskan 1.200 orang dan menyandera 253 orang di Israel selatan pada 7 Oktober. Serangan penjajah Israel telah menewaskan lebih dari 200 orang di Gaza, termasuk 59 anak-anak, dan melukai lebih dari 1.400 orang lainnya, menurut kementerian kesehatan Gaza.

Penjajah Israel mengklaim bahwa serangan-serangannya bertujuan untuk menghancurkan infrastruktur dan personel Hamas, yang dianggap sebagai organisasi teroris oleh Israel, AS, dan sejumlah negara lain. Namun, serangan-serangan penjajah Israel juga menghancurkan gedung-gedung sipil, termasuk rumah sakit, sekolah, dan kantor media.

PBB, Uni Eropa, dan sejumlah negara telah menyerukan gencatan senjata segera antara penjajah Israel dan Hamas, dan menawarkan bantuan kemanusiaan untuk korban konflik. Namun, upaya mediasi dari Mesir, Qatar, dan PBB belum membuahkan hasil. (*)

Editor: Darmawan

  • Bagikan