2.6 C
Munich
Kamis, Desember 1, 2022

Abrasi Krueng Inong Ancam Jembatan Bernilai Miliaran Rupiah di Nagan Raya

Must read

ACEHSIANA.COM, Nagan Raya – Curah hujan yang tinggi dalam beberapa hari ini di daerah Beutong dan Beutong Banggalang Kabupaten Nagan Raya mengakibatkan debit air Krueng Inong meningkat. Hal ini mengakibatkan terjadinya abrasi di aliran singai Krueng Inong. Pantauan tim acehsiana.com pada Selasa 19 Mei 2020, salah satu tempat terparah abrisi terjadi di jembatan yang menghubungkan Gampong Meunasah Pante dan Gampong Blang Baro PR hingga nyaris merobohkan jembatan tersebut.

Imum Mukim Pulo Raga, Hasan Basri R menjelaskan bahwa jembatan tersebut sangat vital sebagai penghubung empat desa dalam Kemukiman Pulo Raga Kecamatan Beutong Kabupaten Nagan Raya.

Para penduduk yang berdomisili di Kemukiman Pulo Raga, tambah Hasan, sangat khawatir dengan kondisi abrasi yang dapat mengancam keselamatan jembatan yang menjadi sarana transportasi dan urat nadi perokonomian masyarakat. Selain debit air yang meningkat beberapa hari belakangan ini, lanjut Hasan, abrasi juga diperparah dengan adanya galian C sekitar lima ratus meter daerah hulu dari jembatan.

“Kami berharap agar pemerintah segera menangani abrasi Krueng Inong mengingat kondisi ini sangat darurat. Abutment jembatan hampir roboh sehingga sangat urgen untuk ditangani segera,” ujar Hasan.

Dikatakan Hasan bahwa jika jembatan tersebut roboh maka perekonomian dan transportasi masyarakat akan terganggu. Hasan Basri juga berharap galian C di bagian hulu jembatan dapat dihentikan.

“Galian C tersebut merupakan salah satu penyebab abrasi terjadi di daerah alisan singai Krueng Inong yang berdekatan dengan jembatan,” beber Hasan.

Hasan Basri menambahkan bahwa sebelum jembatan tersebut dibangun, masyarakat yang berdomisili di kemukiman Pulo Raga menggunakan sampan sebagai sarana transportasi penghubung antara kemukiman menuju pusat Kecamatan maupun Kabupaten.

“Pada malam hari masyarakat tidak bisa menjangkau pusat Kecamatan maupun pusat Kabupaten karena sampan sebagai sarana transpirtasi sudah tidak ada. Walaupun kondisi mendesak semisal ada warga yang sakit,” pungkas Hasan.

Lebih lanjut Hasan menegaskan bahwa tidak jarang warga kemukiman Pulo Raga harus bermalam di rumah warga Gampong Meunasah Pante dan sekitarnya karena sampan sudah tidak ada atau debit air yang terlalu tinggi. Akibatnya, tutup Hasan, penjaga sampan tidak berani menyeberangkan sampannya. Hasan Basri berharap kedepan kondisi seperti ini tidak terjadi lagi bagi warga Kemukiman Pulo Raga. (*)

Konstributor: Muhammad Yunus
Editor: Darmawan

- Advertisement -spot_img

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Latest article