Jum. Agu 12th, 2022
Prof Mujiburrahman Dilantik Sebagai Rektor UIN Ar-Raniry, Ini Pesan Menteri Agama

ACEHSIANA.COM, Jakarta – Prof Dr Mujiburrahman MAg dilantik oleh Menteri Agama (Menag), Yaqut Cholil Qoumas sebagai Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Banda Aceh. Pelantikan tersebut berlangsung pada Kamis (28/7) di Auditorium HM Rasjidi Kantor Kementerian Agama (Kemenag), Jakarta.

Prof Mujiburrahman dilantik bersamaan dengan 6 (enam) Rektor Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) lainnya. Keenam Rektor lain yang dilantik selain Rektor UIN Ar-Raniry, Prof Mujiburrahman adalah Dr Syarif SAg MA sebagai Rektor IAIN Pontianak; Prof Dr Marjoni Imamora MSc sebagai Rektor UIN Mahmud Yunus Batusangkar.

Selanjutnya, Prof Dr Ridha Ahida MHum sebagai Rektor UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi; Prof Dr H Zaenal Mustakim MAg sebagai Rektor UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan; Dr H Muhammad Darwis Dasopang MAg sebagai Rektor UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan; dan Prof Dr Zakiyuddin MAg sebagai Rektor UIN Salatiga.

Menag Yaqut menitipkan pesan agar rektor yang dilantik mampu membuktikan bahwa mereka amanah, tepat, dan layak untuk memimpin dan memajukan PTKIN di Indonesia.

“Transformasi dari IAIN (Institut Agama Islam Negeri) menjadi UIN (Universitas Islam Negeri) harus betul-betul dikawal transisinya sehingga memenuhi tujuan yang diharapkan,” ujar Yaqut.

Dikatakan Yaqut bahwa PTKIN diharapkan mampu melahirkan intelektual berkarakter yang menyadari tanggung jawab moral sebagai kaum intelektual dan sekaligus agamawan.

“PTKIN bukan sekedar tempat mencetak sarjana, melainkan harus bisa melahirkan intelektual yang agamawan dan agamawan yang intelek,” sebut Yaqut.

Yaqut meminta kepada seluruh pimpinan PTKIN agar memberikan perhatian terhadap akuntabilitas pengelolaan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) di PTKIN serta pengelolaan proyek hingga pemeliharaan gedung sarana yang pembiayaannya berasal dari Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). Yaqut mengaku bahwa ia mengamati masih terdapat gedung-gedung yang dibangun dengan SBSN dan bantuan luar negeri di kampus PTKIN belum optimal pemanfaatan dan pemeliharaannya.

“Kita semua harus merapatkan barisan dan satu frekuensi dalam membangun tata kelola organisasi, sistem birokrasi dan pelayanan yang terbaik di perguruan tinggi untuk mahasiswa, dosen dan segenap warga kampus,” pungkas Yaqut. (*)

Editor: Darmawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *