Jum. Agu 19th, 2022

ACEHSIANA.COM – Darussalam – Atsiri Research Center (ARC)-Pusat Unggulan Iptek Perguruan Tinggi (PUIPT) Nilam Aceh Universitas Syiah Kuala (USK) memberikan pelatihan produk inovasi nilam kepada UMKM di Makasar.

Pelatihan berlangsung selama 3 hari sejak 18 Juli 2022 hingga 20 Juli 2022. Pelatihan yang diikuti oleh 20 orang peserta tersebut dilaksanakan di Hotel Kryad Haka Makasar bekerja sama dengan Yayasan Hadji Kalla.

Tim instruktur dipimpin langsung oleh Kepala ARC-USK Syaifullah Muhammad dengan anggota Nadia Isnaini, Adinda Gusti Vonna dan Nanda Funna Ledita.

Dalam Pelatihan selama 3 hari penuh tersebut telah diberikan berbagai materi mengenai dasar-dasar pengembangan nilam dari hulu ke hilir, praktek langsung pengembangan produk berbasis minyak nilam yang telah dipurifikasi seperti parfum, sabun, medicated oil dan body butter. Juga diberikan materi terkait Business Model Canvas (BMC), branding, digital marketing, pengelolaan keuangan UMKM, Pengurusan Izin BPOM dan HAKI.

Selama pelatihan peserta memproduksi langsung produk inovasi nilam dibawah bimbingan instruktur ARC yang berpengalaman. Peserta juga diberikan alat produksi agar bisa terus mengembangkan usaha dimasa yang akan datang.

Manajer Bidang Ekonomi dan Sosial Yayasan Hadji Kalla, Herni dalam sambutannya menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada ARC dan peserta pelatihan yang selama 3 hari penuh mengikuti berbagai materi yang diberikan. Herni menyampaikan bahwa kegiatan ini telah lama direncanakan oleh Yayasan Hadji Kalla dan saat ini telah berhasil dilaksanakan.

“Direktur Eksekutif Yayasan Hadji Kalla sendiri yang meminta kami untuk melaksanakan pelatihan ini bekerjasama dengan ARC” urai Herni.

“Beliau pernah mengikuti seminar yang nara sumbernya Kepala ARC, Syaifullah Muhammad, kemudian dilanjutkan membuat MoU dan MoA dengan Rektor USK dan ARC” lanjut Herni.

“Kegiatan ini dibiayai oleh CSR nya Kalla Group yang dilaksanakan oleh Yayasan Hadji Kalla. Kami berharap dapat memberikan area baru bagi masyarakat Sulawesi khususnya UMKM untuk mendapatkan penghasilan” jelas Herni lebih lanjut.

“Kami berharap bengetahuan yang diperoleh selama 3 hari ini baik teori maupun praktek langsung dapat dikembangkan lebih lanjut kepada masyarakat desa di berbagai pelosok Sulawesi” tutup Herni.

Sementara itu Kepala ARC dalam paparannya menyampaikan bahwa Sulawesi merupakan salah satu produsen nilam terbesar di Indonesia terutama Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Barat, juga ada sebagian kecil di Sulawesi Selatan.

Beberapa perusahaan besar telah lama membina petani, penyuling dan membeli langsung minyak nilam dari masyarakat dan pengumpul. Hanya saja seluruh produk yang diperdagangkan adalah minyak nilam mentah (Crude Patchouli) yang diperoleh dari penyulingan secara tradisional melalui ekstraksi uap panas (steam).

“Di Sulawesi belum ada sentuhan inovasi untuk purifikasi (pemurnian) dan peningkatan kualitas minyak nilam yang dikembangkan menjadi produk turunan nilam seperti parfum, medicated oil aroma terapi, body butter dan lain-lain” urai Syaifullah

“Pengembangan produk turunan selait meningkatkan nilai tambah, pembukaan lapangan kerja, peningkatan penghasilan masyarakat, juga akan membentuk ekosistem baru dari tataniaga nilam yang lebih berkeadilan untuk semua stake holders, dimana harga minyak nilam akan relatif stabil seiring meningkatnya kebutuhan minyak nilam akibat munculnya start up baru atau UMKM yang menggunakan nilam sebagai bahan baku produk inovasi mereka. Ini akan berdampak positif untuk jangka panjang khususnya kepastian supply bahan baku nilam secara berkelanjutan” urai Syaifullah lebih lanjut.

“Bersama Yayasan Hadji Kalla, kita akan upayakan mereplika keberhasilan ARC membangun ekosistem baru (Blue Ocean) nilam drngan pendekatan Pentahelix di Aceh untuk diterapkan di Sulawesi. Sehingga UMKM produk turunan nilam akan berkembang juga di Sulawesi. Sudah saatnya minyak nilamnya dari negeri kita dan parfumnya pun ada dinegeri kita juga. Nilam from seed to seal harus terjadi dinegeri kita sendiri” pungkas Syaifullah yang merupakan Doktor bidang Teknik Kimia lulusan Australia ini.

Kegiatan pelatihan ditutup secara resmi Rabu Sore, 20 Juli 2022 oleh Herni mewakili Direktur Eksekutif Yayasan Hadji Kalla. Penutupan ditandai dengan penyerahan sertifikat, alat produksi dan juga ratusan botol 4 produk yang diproduksi selama pelatihan untuk bisa segera dipasarkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *