Rab. Jul 6th, 2022

 

 

 

Oleh Feri Irawan (ferifodic@gmail.com)

Wisuda bagi anak Taman Kanak Kanak , Siswa SD, SMP bahkan SMA lang Trending saat ini. Tidak ada kewajiban wisuda bagi anak TK atau siswa SD,smp ataupu SMA, karena kegiatan ini tidak memiliki landasan hukum yang kuat.

Menurut Kamus Bahasa Inggris Terjemahan Indonesia Tamat sekolah/Wisuda berarti graduation. Tamat disematkan pada jenjang PAUD, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah, sedangan wisuda disematkan pada jenjang pendidikan Tinggi (Sarjana, Pasca Sarjana).

Sedangkan Pengertian wisuda yang diambil dari “Wikipedia”, Wisuda adalah suatu proses pelantikan kelulusan mahasiswa yang telah menempuh masa belajar pada suatu universitas.

Tamat sekolah biasanya dilakukan pada akhir tahun pelajaran (misalnya di Indonesia tingkat TK setelah 1 atau 2 tahun, Tingkat Sekolah Dasar setelah 6 tahun, Tingkat SMP dan tingkat SMA setelah 3 tahun).

Wisuda biasanya dilakukan di perguruan tinggi setiap akhir semester dalam kalender akademik baik semester genap maupun semester gasal (ganjil).

Wisuda biasanya memakai pakaian yang ditentukan, pakaian pria menggunakan hem putih dan celana hitam bersepatu hitam, pakaian wanita menggunakan kebaya tradisional tipis dengan kain jarik, tapi secara umum menggunakan baju toga.

Filosofi Pakaian dan Topi Toga saat wisuda

Baju toga identik dengan warna hitam yang dikonotasikan dengan perihal yang misterius serta gelap. Pemilihan warna hitam gelap pada toga adalah simbolisasi yaitu misteri serta kegelapan telah berhasil dikalahkan sarjana, waktu mereka menempuh pendidikan di bangku kuliahan.

Tidak hanya itu, sarjana diharapkan mampu menyibak kegelapan dengan ilmu pengetahuan yang selama ini didapat olehnya.

Warna hitam melambangkan keagungan. Sudut-sudut persegi pada topi toga menyimbolkan seorang sarjana dituntut untuk berpikir rasional serta memandang segala sesuatu hal dari beraneka sudut pandang.

Seremoni memindahkan kuncir tali toga yg semula berada di kiri menjadi ke kanan berarti waktu masa kuliah lebih banyak otak kiri yg digunakan semasa kuliah, diharapkan sesudah lulus, sarjana tak sebatas memakai otak kiri (hardskills) semata, tetapi pula dapat menggunakan otak kanan yang berhubungan dgn aspek kreativitas, imajinasi, serta inovasi, dan aspek softskills lainnya.

Secara garis besar filosofi wisuda (pakaian dan topi) bagi mahasiswa bahwa ke depan, mereka diharapkan mampu mengekspresikan secara menyeluruh dan maksimal pengemblengan selama di kampus.

Mengaplikasikan ‘bahasa kampus’ ke dalam ‘bahasa lapangan’ di tengah dinamika perubahan yang kian cepat. Tentu saja, harapan itu akan berpeluang besar direalisasikan bila pencapaian gelar itu butuh perjuangan besar melalui komitmen menimba ilmu, dan bukan hasil “main mata” antara mahasiswa dengan dosen soal nilai dan pembuatan skripsi.

Dulu seremonial wisuda memiliki makna yang maha agung karena merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa dari seseorang setelah melewati berbagai jenjang pendidikan dengan berbagai cerita, pengalaman, serta keberhasilan yang diraih di pendidikan tingggi yang telah dicita-citakan.

Tetapi justru sekarang ini, makna wisuda tergerus seiring bertambah marak dan seringnya anak-anak diberbagai jenjang pendidikan mengalaminya. Hal ini terjadi karena kita menempatkan wisuda pada porsi, makna dan fungsinya supaya kita tidak salah kamar.

Untuk sampai tingkat wisuda orang harus berjuang mati-matian, menguras tenaga, otak, waktu dan biaya untuk mencapainya dan kemudian menghadapi dunia kerja.

Akan lebih hebat jika di acara pelepasan tamat sekolah siswa diberi kesempatan untuk unjuk kebolehan, keterampilan (bakat dan minat) dalam berbagai event seni budaya dan olah raga (kreasi) sebagai bentuk apresiasi terakhir untuk almamater tercinta.

Pelepasan siswa-siswi bisa dilakukan secara sakral tanpa anak-anak bergaya seolah mahasiswa yang telah usai skripsi. Kita harus ingat bahwa jalan mereka masih panjang. Butuh setidaknya 10 tahun ke depan untuk menggenapi gelar sarjana kebanggaan kelak. Setelah mereka berhasil sebagai seorang maha pelajar.

Oleh karena itu, masih sangat dini kita mengadakan event wisuda bagi jenjang PAUD, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Amat besar beban yang mesti dipikul para pemakai toga ini. Jangan memaksakan beban itu kepada anak-anak lulusan jenjang PAUD, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Biarkanlah kita memberi arti wisuda pada tempat dan porsinya sehingga anak-anak kita pada saatnya tahu sesungguhnya arti sebuah perjuangan pada jenjang pendidikan tinggi.

Dalam Surat Edaran (SE) Mendikbud No 1 Tahun 2021 menyebutkan bahwa kriteria kelulusan siswa dan penyelenggaraannya tanpa menyentuh bahwa siswa itu harus mengikuti berbagai kegiatan wisuda pada tiap jenjang PAUD, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Namun tiap sekolah memiliki inisiatif sendiri untuk mengadakan wisuda pada tiap jenjang. Jika hal itu ditentukan oleh sekolah, tentunya ada kepentingan mengapa hal itu diadakan. Apakah itu atas usul dari sebagian orangtua, tentunya orangtua punya pemikiran sendiri mengapa hal itu perlu diadakan.

Maaf, ini hanya opini saja, bukan berarti saya antipati pada proses acara wisuda siswa pada umumnya. Mungkin misi mulia dan tujuan acara ini dimaksudkan agar mereka, para calon generasi penerus di masa depan itu, punya cita-cita belajar setinggi-tingginya sampai menjadi seorang sarjana kelak. Wallahu’alam.

Penulis adalah Kepala SMKN 1 Jeunieb Kabupaten Bireuen Aceh

Editor. Hamid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *