Rab. Jul 6th, 2022

Oleh:

Dr Muhammad Yasar STP MSc

Dua hari ini (Jumat dan Sabtu 17-18 Juni 2022), layar medsos terbelah menjadi dua bagian. Hal ini dipicu oleh perdebatan seputar penting tidaknya perangkingan dalam pembagian rapor. Jika ditelisik memang dalam beberapa tahun terakhir, rangking sudah tidak dibubuhkan didalam buku rapor siswa/murid. Namun secara lisan umumnya guru tetap menyampaikan kepada orang tua wali yang mengambil rapor, rangking berapa yang diperoleh putra-putrinya di semester tersebut.

Bagi yang putra-putrinya memperoleh rangking terbaik, maka akan kita temui postingan prestasi membanggakan itu di status media sosialnya seraya berdoa dan bersyukur ala ortu zaman now. Sementara yang belum memperoleh rangking akan biasa-biasa saja, namun belakangan merasa sangat terbela oleh pejuang anti rangking kelas yang berwara-wiri begitu gencarnya dan terus berusaha merubah mindset masyarakat bahwa rangking memang tak penting.

Perdebatanpun tak terelakkan mulai dari debat kusir hingga debat yang lebih ilmiah disertai ragam argumen menarik dan tentunya sangat sengit, antara mencerahkan hingga menggerahkan. Fenomena inipun berhasil menjadi trending topik dijagad maya, hingga turut menggerakkan  penulis untuk terlibat didalamnya dengan menurunkan tulisan singkat dan sederhana ini.

Bagi golongan pro rangking, mereka berpendapat bahwa rangking penting dengan alasan untuk meningkatkan motivasi siswa/murid. Tentunya hal ini kontra dengan golongan anti rangking yang justru mengkhawatirkan sebaliknya, rangking dipandang dapat melemahkan motivasi siswa/murid yang lebih banyak. Mungkin perpaduan pendapat inilah yang membuat para guru atau sekolah  ragu-ragu dalam bertindak. Di dalam buku rapor tidak dibubuhkan tetapi secara lisan tetap disampaikan khusus kepada yang bersangkutan, sehingga dengan demikian diharapkan siswa/murid dengan rangking akan termotivasi, yang non rangking tidak down motivasinya.

Ada benarnya bagi yang berpendapat bahwa tugas sekolah harus memintarkan seluruh siswa/muridnya bukan malah membeda-bedakan siswa/murid lewat rangking. Namun juga tidak ada salahnya jika diantara seluruh siswa/murid yang telah dipintarkan ini kemudian diurutkan berdasarkan peringkat kepintarannya. Kita jangan lupa, perangkingan tidak semata dituju kepada penumbuhan motivasi, tetapi juga melatih daya saing. Perihal setiap anak punya kelebihan tersendiri tentu beda konteknya dalam perangkingan. Supaya adil, idealnya semua anak ditempatkan dalam rangking sesuai kriteria potensi yang ingin dicuatkan.

Ada rangking berdasarkan perolehan nilai ujian tertinggi, ada pula berdasarkan mata pelajaran tertentu, keterampilan tertentu, olah raga tertentu, bakat tertentu, dan lain sebagainya. Mengatakan perangkingan tidak penting sama halnya menghambat penumbuhan daya saing. Tanpa sistem perangkingan, sekolah juga berpotensi kehilangan peta potensi anak didiknya. Sistem perangkingan juga sebenarnya dapat membantu orang tua dalam memacu anaknya agar lebih giat belajar. Oleh sebab itu, perlu pengkajian yang lebih sistematis agar kita terhindar oleh opini pragmatis tendensius dengan menjudge rangking itu tidak perlu sama sekali.

Meskipun banyak kasus menunjukkan tidak adanya korelasi antara rangking yang diperoleh saat sekolah dengan ketercapaian sukses masa depan si anak, bukan berarti meraih rangking itu tidak penting. Yang tidak penting itu adalah membanding-bandingkan capaian rangking, karena memang setiap anak punya kelebihan masing-masing.

Sebetulnya jika kita lihat dalam model pendidikan kita, akan tiba waktunya rangking itu tidak diperlukan sama sekali yakni dilevel pendidikan tinggi. Dimana basis penilaian hanya tertera dalam bentuk IPK atau Indeks Prestasi Komulatif. Di level ini peserta didik ingin dibentuk kemampuan bersanding bukan bersaing. Dan kedua kemampuan ini sebenarnya mutlak diperlukan oleh setiap peserta didik. Karena ada kala perlu dipacu kerjasamanya, adapula masanya dituntut daya saingnya. Dan kita berharap dunia pendidikan mampu membekalinya dengan baik, Insya Allah.

Perlu juga dicatat bahwa jenjang pendidikan adalah suatu rangkaian proses yang tidak boleh dipisahkan satu sama lain. Mulai dari PAUD/TK hingga Doktoral memiliki misi pembentukan pribadi yang berkelanjutan dan berkesinambungan yakni menjadikan generasi bangsa ini sesuai dengan  cita-cita para pendiri bangsa dan tujuan pendidikan nasional sebagaimana tertuang di dalam UUD 1945 dan UU Pendidikan itu sendiri. Hindarilah absorbsi dan adobsi bentuk dan sistem pendidikan negara luar yang hanya didasari pada dalih dan dalil  modernisasi dan globalisasi dengan tetap mengedepankan karakteristik atau jati diri bangsa.

Penulis adalah Ketua Masika Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Aceh dan Dosen Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (FP USK). (*)

Editor: Darmawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *