Rab. Jul 6th, 2022
Perguruan Tinggi Diharapkan Hindari Fenomena Kampus Stunting

ACEHSIANA.COM, Jakarta – Perguruan Tinggi (PT) di Indonesia diharapkan menghindari fenomena kampus stunting (kerdil). Harapan tersebut disampaikan mantan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas), Prof M Nuh pada Sabtu (11/6) dalam webinar SEVIMA di hadapan lebih dari 9.000 rektor dan dosen di Jakarta.

Menurut Nuh, Indonesia saat ini memiliki lebih dari 4.500 perguruan tinggi.

“Sayangnya, belum semua kampus tersebut memiliki kualitas yang baik dan pendaftar yang mencukupi,” ujar Nuh.

Nuh bahkan menyebut sejumlah kampus tersebut sebagai kampus stunting. Nuh mengajak kampus untuk terus meningkatkan kualitas dan jumlah mahasiswanya.

“Jangan sampai kampus ‘hidup segan mati pun tak mau’. Karena, masyarakat Indonesia yang butuh berkuliah jumlahnya juga tak sedikit,” sebut Nuh.

Dikatakan Nuh bahwa terdapat tiga jenis kampus. Pertama, kampus yang baru didirikan langsung bertemu ajalnya. Kedua, kampus stunting yang hidup enggan mati tak mau. Ketiga, kampus yang berkembang.

“Tentu kita ingin kampus di Indonesia berkembang dan bisa mencerdaskan kehidupan bangsa, bukan jadi kampus stunting, atau biasa orang jawa bilang kuntet,” tutur Nuh.

Nuh menyebut belum banyak masyarakat Indonesia yang punya peluang mengeyam bangku pendidikan tinggi.

“Angka Partisipasi Kasar (jumlah anak Indonesia yang berkuliah) baru 30 persen, berarti masih jutaan masyarakat belum berkesempatan kuliah,” ucap Nuh.

Sementara itu, Product Manager SEVIMA, Pranatha, mengajak PT memberikan sebuah pelayanan terbaik kepada mahasiswa dan masyarakat. Sehingga dapat membuat citra yang positif bagi perguruan tinggi.

“Salah satu layanan tersebut adalah menyederhanakan administrasi pendaftaran mahasiswa dengan pelayanan One Day Service (layanan satu hari),” imbuh Pranatha.

Lebih lanjut Pranatha menerangkan bahwa sistem Akademik berbasis awan (Siakadcloud) yang tersedia di internet sudah memungkinkan kampus menggelar seluruh administrasi pendaftaran mahasiswa hanya dalam waktu satu hari.

Misalnya, ucap Pranatha, pengisian formulir pendaftaran secara online, ujian masuk berbasis komputer, seleksi wawancara melalui video conference, hingga pengumuman secara online.

“Intinya, masyarakat dibuat semudah mungkin untuk memperoleh layanan dari kampus. Baik itu sistem akademik dan pendaftaran mahasiswa baru yang cepat, mudah, dan efisien,” pungkas Pranatha. (*)

Editor: Darmawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *