Rab. Jul 6th, 2022

ACEHSIANA.COM – Puncak Peringatan Hari Lahir Pancasila ke-77 pada 1 Juni 2022 dipusatkan di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur.

Peringatan tahun ini merupakan yang pertama kali digelar di luar ibu kota Jakarta.

Peringatan Hari Lahir Pancasila 2022 di Ende, NTT. Menjadi lokasi pertama di luar ibu kota negara,” kata Sekretaris Dewan Pembina Pancasila Mayjen (Purn) Wisnu Bawa Tenaya saat konferensi pers Peringatan Hari Lahir Pancasila di Rumah Jabatan Bupati Ende, Selasa (31/5/2022).

Baca Juga: MUI Terbitkan Fatwa Tentang Hukum Kurban Saat Wabah PMK, Ini 10 Poin Utamanya

Wisnu mengatakan, Ende dipilih karena memiliki sejarah dalam penggalian nilai-nilai Pancasila. Khususnya, oleh Bung Karno saat menjalani masa pembuangan selama 1934-1938 di Ende.

Wisnu mengatakan, Peringatan Hari Lahir Pancasila juga akan menjadi saksi sejarah upacara kenegaraan yang dipimpin Presiden Jokowi sebagai inspektur upacara. Selain upacara kenegaraan, Peringatan Hari Lahir Pancasila 2022 ini juga disemarakkan dengan banyak kegiatan lainnya.

“Harapannya melalui rangkaian kegiatan ini bisa membentuk semangat baru yang menginternalisasikan nilai-nilai Pancasila ke pelosok negeri sehingga menginspirasi masyarakat terutama kaum muda untuk bergotong royong dan mengedepankan persatuan untuk membumikan Pancasila,” kata Wisnu.

Baca Juga: Pencarian Hari Keenam Terus Dilakukan, Keluarga Ridwan Kamil Sudah Ikhlas Apapun Takdir Eril

Plt Sekretaris Utama BPIP Karjono mengatakan, tema Peringatan Hari Lahir Pancasila tahun ini adalah Bangkit Bersama Membangun Peradaban Dunia. Menurut Karjono, kalimat ini lah yang disebut Bung Karno sebagai taman sari dunia. Di mana, hidup dalam keanekaragaman tetapi menjadi kekuataan karena adanya musyawarah mufakat.

“Keberagaman di Ende dan NKRI menjadi kekuatan. Inilah sejatinya kebhinekaan,” kata Karjono.

Alasan Kota Ende Disebut Kota Pancasila

Berdasarkan laman Kemdikbud seperti dikutip dari detiknews, Bung Karno diasingkan di Ende, Pulau Flores mulai 14 Januari 1934 hingga 18 Oktober 1938.

Disebutkan dalam laman Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya, pengasingan ini bermula dari pertemuan politik di kediaman Muhammad Husni Thamrin pada 1 Agustus 1933 di Jakarta.

Soekarno ditangkap seorang komisaris polisi saat dia keluar dari kediaman Husni Thamrin. Bung Karno pun diasingkan selama delapan bulan tanpa adanya proses pengadilan.

Keputusan pengasingan Bung Karno oleh Gubernur Jenderal Pemerintah Kolonial Hindia Belanda, De Jonge, akhirnya dikeluarkan pada 28 Desember 1933. Saat itu, Soekarno diputuskan diasingkan ke Ende saat usianya 32 tahun.

Baca Juga: Vladimir Putin Dikabarkan Idap Penyakit Mematikan, Divonis Hanya Bisa Hidup 3 Tahun Lagi

Dalam pengasingannya selama empat tahun, Soekarno tinggal bersama istrinya, Inggit Garnasih, mertuanya Ibu Amsi, dan kedua anak angkatnya Ratna Juami serta Kartika. Rumah pengasingan yang ditempati mereka adalah rumah milik Haji Abdullah Ambuwaru.

Dalam masa pengasingannya ini, Bung Karno memikirkan rumusan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia, demikian dikutip dari detiknews. Dia memperoleh gagasan atau inspirasi saat merenung di bawah pohon sukun.

Soekarno rupanya mendapat ide dari lima cabang pohon itu. “Di kota ini kutemukan lima butir mutiara, di bawah pohon sukun ini pula kurenungkan nilai-nilai luhur Pancasila,” ujar Bung Karno saat itu. Inilah cerita di balik julukan Kota Ende sebagai Kota Pancasila.

Empat tahun sembilan bulan empat hari setelah Bung Karno diasingkan di Ende, tepatnya 18 Oktober 1938, dia dipindahkan ke Bengkulu.

Baca Juga: Presiden Jokowi Terima Kunjungan Puteri Indonesia 2022 dan Miss Universe 2021

Kemudian pada tahun 1951 Presiden RI pertama itu kembali mengunjungi Ende. Saat itu dirinya bertemu Haji Abdullah Ambuwaru dan menyampaikan niatnya agar rumah pengasingannya itu dijadikan museum.

Pada kunjungan keduanya tanggal 16 Mei 1954, Bung Karno akhirnya meresmikan rumah tersebut sebagai Rumah Museum.

Di bawah pohon sukun di kota pengasingannya, Bung Karno dahulu biasa duduk selama berjam-jam. Buku Kisah Istimewa Bung Karno menyebutkan, beberapa murid Soekarno seperti Djae Bara dan lainnya yang ada di Ende pernah mengatakan, perenungan Presiden pertama RI itu biasanya dilakukan pada Jumat malam.

Pohon sukun tersebut menghadap ke laut Pantai Ende dan jaraknya dari rumah pengasingan hanya 700 meter. Akan tetapi, pohon aslinya sebetulnya sudah tumbang pada tahun 1970-an.

Pohon yang asli pada akhirnya diganti dengan pohon sukun serupa dan dijuluki sebagai Pohon Pancasila sejak 1980-an.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *