Jum. Jul 1st, 2022

Seluruh SMA di bawah binaan Cabang Dinas Pendidikan Kabupaten Aceh Utara bersiap untuk menerapkan kurikulum terbaru untuk kelas X, atau Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM). Persiapan tersebut dilakukan melalui peningkatan pengetahuan guru melalui berbagai kegiatan dalam komunitas penggerak yang telah dibentuk. Salahsatunya dilaksanakan oleh komunitas penggerak regional III SMA Aceh Utara yang terdiri dari SMA Negeri 1 Matangkuli, SMA Negeri 1 Payabakong, SMA Negeri 1 Pirak Timu, SMA Negeri 1 Tanah Luas, SMA Negeri 1 Syamtalira Bayu, SMA Negeri 1 Meurah Mulia, SMA Negeri 1 Geurudong Pasee, SMA Negeri 1 Simpang Keuramat, SMA Swasta Al-Fatthani, SMA Swasta Ruhul Islam dan SMA Swasta Global Perintis.

Berlangsung di SMA Negeri 1 Syamtalira Bayu, Komunitas Penggerak III melaksanakan workshop bagi Kepala Sekolah yang tergabung juga diikuti oleh Wakil Kepala Sekolah dan Guru yang membidangi kurikulum. Kegiatan yang berlangsung mulai 30 Mai s.d 2 Juni 2022 tersebut menunjukkan progres yang hasilnya langsung bisa diterapkan di sekolah masing-masing.

Kepala SMA Negeri 1 Syamtalira Bayu, Jalaluddin SPd MPd menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan semata-mata pelatihan, namun diselingi oleh diskusi yang mencapai kesepakatan bersama, seperti penyusunan roster dan letak dimana hari proyek penguatan profil pelajar pancasila diterapkan. Jalaludin juga mengungkapkan bahwa komunitas ini merupakan sesuatu yang positif untuk saling memberi pengetahuan dan berbagi praktik baik dalam penerapan kurikulum nantinya.

Narasumber kegiatan ini merupakan Ketua Komunitas Regional III SMA Kabupaten Aceh Utara sekaligus reviewer konten Kurikulum Merdeka, Khairuddin SPd MPd menjelaskan dalam komunitas perlu kesepahaman karena kurikulum merdeka pola pembelajaran terdiri dari intrakurikuler dan proyek penguatan profil pelajar Pancasila. “Karena itu, kita tidak hanya berbagi pengetahuan tentang kurikulum merdeka, namun secara komunitas, kami menyusun roster yang nantinya selain memuat intrakurikuler dan P5, kami juga menyisipkan muatan untuk kurikulum Aceh yang berbasis Islami” imbuhnya.

Khairuddin juga berharap komunitas ini terus berkembang bukan hanya pada saling berbagi pengetahuan, namun juga akan mengadakan kunjungan pada sekolah penggerak yang telah terlebih dahulu menerapkan kurikulum merdeka. Terutama untuk melihat langsung pembelajaran sekaligus sistem dapodik yang nantinya akan menjadi instrumen pengambilan keputusan administrasi sekolah.

Sekolah bergabung di dalam komunitas ini sudah bersiap menerapkan Kurikulum Merdeka. Pasca pelatihan nanti, peserta pelatihan akan mengadakan pengimbasan bagi guru di sekolah masing-masing sekaligus merancang pembelajaran yang berbasis minat dan potensi siswa sebagaimana spirit Kurikulum Merdeka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *