Jum. Jul 1st, 2022
Seorang Petani di Bakotim Diserang Harimau, Berbagai Pihak Desak BKSDA Tangani Serius

ACEHSIANA.COM, Tapaktuan – Seorang petani di Kecamatan Bakongan Timur (Bakotim) Kabupaten Aceh Selatan, Muhajir diserang harimau saat sedang bekerja di kebunnya. Menyikapi hal tersebut, berbagai pihak mendesak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh untuk serius menganangi persoalan tersebut.

Sebagaimana dirilis krusial.com, Muhajir warga Desa Seuleukat Kecamatan Bakotim diterkam harimau saat berada di kebunnya pada Sabtu (21/5). Informasi Muhajir diserang harimau disampaikan seorang warga, Jeri Rahmat.

“Mendapat informasi tersebut, saya menghubungi perangkat Desa Seuleukat guna melakukan evakuasi bersama warga,” ujar Jeri.

Dikatakan Jeri bahwa Muhajir sempat melakukan perlawanan saat berhadapan dengan harimau tersebut. Setelah melakukan perlawanan, Muhajir memanjat pohon kemiri meskipun harimau tersebut terus mengejar dan berusaha memanjat pohon.

Setelah di evakuasi oleh warga, Muhajir dirujuk ke Rumah Sakit Umum Yuliddin Away (RUSYA) Tapaktuan guna mendapatkan perawatan selanjutnya.

Kabar penyerangan Muhajir oleh harimau ditanggapi serius oleh berbagai pihak. Para pihak tersebut meminta BKSDA untuk menangani serius gangguan dari si kucing besar itu terhadap mata pencaharian petani.

Ketua DPRK Aceh Selatan, Amiruddin, menyebutkan bahwa gangguan tersebut sudah berulang kali dialami oleh masyarakat.

“Gangguan harimau bukan hanya berpengaruh pada mata pencaharian warga, tetapi juga mengancam keselamatan masyarakat. BKSDA harus menangani kasus ini dengan serius agar tidak terjadi korban jiwa,” sebut Amiruddin.

Amiruddin menilai BKSDA terkesan belum ada langkah konkrit menangani konflik harimau petani ini. Amiruddin mengungkapkan bahwa serangan harimau terhadap Muhajir nyaris menghilanhkan nyawa korban.

“Kejadian ini sudah berulangkali terjadi. Harimau bahkan menyerang warga kita dengan sangat brutal. Belum lagi penampakan harimau yang sudah sangat sering terjadi. Jika hal ini dibiarkan maka akan mengganggu perekonomian masyarakat Bakotim,” tutur Amiruddin.

Amiruddin bahkan mengusulkan agar ditetapkan status darurat harimau di Aceh Selatan. BKSDA, kata Amiruddin, jangan hanya sibuk mengusir atau mengalau harimau karena dipastikan sikucing besar itu akan kembali lagi dan berkonflik dengan masyarakat.

“Harimau itu harusnya ditangkap bukan dihalau atau diusir. Jangan sampai kesabaran masyarakat habis yang tentunya akan main hakim sendiri. Tolong jangan hanya lindungi harimau, masyarakat juga butuh keamanan dan kenyamanan dalam mencari nafkah,” ucap Amiruddin.

Hal senada disampaikan Koordinator Forum Peduli Aceh Selatan (For-PAS) kepada acehsiana.com, T Sukandi. Menurut T Sukandi, berdasarkan hukum negara maupun hukum agama, semua hewan yang mengancam, mengganggu, dan membahayakan kehidupan manusia dibolehkan untuk dibunuh.

“Termasuk hewan yang dilindungi yang tadinya dilarang untuk dibunuh. Oleh karena itu, pihak berwenang harus menjamin agar kasus ini tidak terulang lagi sehingga kenyamanan masyarakat dalam mencari nafkah merupakan prioritas utama,” pungkas T Sukandi. (*)

Editor: Darmawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *