Sen. Mei 23rd, 2022
WALHI Minta Pembangunan Pabrik Semen PT KSI Dihentikan

ACEHSIANA.COM, Banda Aceh – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Aceh meminta agar pembangunan pabrik semen PT Kotafajar Semen Indonesia (PT KSI) dihentikan. Permintaan tersebut disampaikan Direktur WALHI Aceh, Ahmad Shalihin kepada Bupati Aceh Selatan, Tgk Amran pada Senin (25/4).

Menurut Ahmad, pembangunan pabrik semen dengan kapasitas produksi 6 juta ton/tahun dengan luas area 1.234 hektar tersebut akan berdampak serius terhadap Daerah Aliran Sungai (DAS) Kluet seluas 163.551 hektar yang mencakup DAS Pasie Raja 3.281 hektar dan DAS Kluet Utara 1.369 hektar.

“Selain itu juga berdampak terhadap Cekungan Air Tanah (CAT) Kotafajar seluas 26.910 hektar, mencakup dalam CAT Kecamatan Pasie Raja 3.494 hektar dan Kluet Utara 4.409 hektar,” ujar Ahmad.

Ahmad menambahkan catatan kritis lain yaitu kedua kecamatan lokasi pembangunan pabrik semen tersebut rawan terjadi bencana, baik abrasi maupun kerawanan tingkat gerakan tanah menengah dan juga masuk dalam zona 3 dengan tingkat kerawanan gerakan tanah tinggi.

“Terutama di Gampong Pasie Kuala Asahan, Kecamatan Kluat Utara, cukup rawan terjadi abrasi. Selain itu juga kedua kecamatan ini masuk zona 4 dan 5 tingkat bahaya erosi berat dan sangat berat,” sebut Ahmad.

Dikatakan Ahmad bahwa hal yang paling berbahaya lainnya adalah kedua kecamatan tempat dibangun pabrik semen ini merupakan kawasan rawan bencana alam geologi yaitu gempa bumi tektonik. Tentu ini akan sangat berbahaya bila pembangunan pabrik semen dilanjutkan di lokasi tersebut.

“Catatan ini berdasarkan apa yang tertera dalam Qanun kabupaten Aceh Selatan Nomor 11 tahun 2016 tentan RTRW 2016-2036 sendiri, jadi ini pemerintah sendiri yang mencatat,” terang Ahmad.

Ahmad menambahkan bahwa ia mengkhawatir akan terjadi konflik sosial antara masyarakat dengan perusahaan. Terutama yang sudah ada di depan mata adalah konflik sengketa lahan antara warga dan perusahaan pabrik semen tersebut.

Lebih lanjut Ahmad menuturkan bahwa potensi dampak lainnya yang bakal terjadi akibat pembangunan pabrik semen tersebut adalah bakal terjadi krisis air. Baik kebutuhan air bersih untuk warga, pertanian serta perikanan di dua kecamatan tersebut.

“Hal lain yang tidak dapat dihindari adalah pencemaran limbah cair, debu, udara hingga kebisingan bagi warga yang tinggal berdekatan dengan pabrik,” tutur Ahmad.

Ahmad menegaskan sikap WALHI yaitu, pertama, meminta kepada Bupati Aceh Selatan untuk menunda rencana pembangunan pabrik semen di Aceh Selatan, karena sejauh ini belum ada kebutuhan mendesak yang mengharuskan adanya pabrik semen di Aceh Selatan.

“Kedua, jika dipaksakan untuk dilanjutkan, maka kami minta Bupati Aceh Selatan untuk tidak menerbitkan izin atau rekomendasi kepada PT KSI sebelum melakukan kajian dampak lingkungan secara menyeluruh termasuk kajian terkait aspek kebencanaan sebagaimana tersebut dalam qanun tata ruang kabupaten Aceh Selatan,” ungkap Ahmad.

Ketiga, meminta kepada Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aceh untuk lebih hati-hati dan melakukan pembahasan yang mendalam terhadap dokumen AMDAL PT KSI.

“Keempat, kami minta kepada PT KSI untuk memberikan lisensi atau jaminan (selain instrumen AMDAL) kepada masyarakat terkait penerimaan tenaga kerja, terpenuhi air bersih, dan pengganti lahan pertanian/perkebunan masyarakat yang terkena imbas dari pabrik semen,” tutup Ahmad. (*)

Editor: Darmawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *