Sen. Mei 23rd, 2022
Asesmen Nasional, 50% Siswa Belum Capai Kompetensi Literasi

ACEHSIANA.COM, Jakarta – Hasil Asesmen Nasional (AN), sekitar 50% siswa belum mencapai kompetensi literasi. Hal itu disampaikan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Anwar Makarim, saat rapat kerja dengan Komisi X DPR pada Selasa (12/4).

Menurut Nadiem, hasil AN tersebut menyimpulkan bahwa salah satunya hal belum tercapainya kompetensi literasi adalah masih rendahnya kompetensi literasi dan numerasi.

“Sekitar 50 persen atau setengah daripada siswa kita yang belum mencapai minimum literasi dan numerasi ini lebih urgen lagi. Di mana 2/3 dari siswa kita tidak mencapai minimum kompetensi numerasi di sini,” ujar Nadiem.

Dikatakan Nadiem bahwa meskipun demikian, siswa di Indonesia memiliki survei karakter yang cukup tinggi dalam asesmen nasional ini. Khususnya dalam hal moralitas, spiritualitas, dan kreativitas.

“Secara rata-rata korelasi antara survei karakter kita dan pencapaian literasi dan numerasi ini sangat tinggi. Kita melihat di charta ini, kita melihat di mana survei karakternya tinggi, indeks karakternya tinggi, berkembang dan membudaya, capaian literasi mereka juga sangat tinggi,” sebut Nadiem.

Nadiem menambahkan bahwa berdasarkan hasil AN tersebut, terlihat adanya kesinambungan antara kompetensi literasi dan numerasi dengan suvei karakter. Jika kompetensi numerasi dan literasinya tinggi, maka survei karakternya juga tinggi.

“Jadi ini tidak satu hal dimensi yang tidak saling nyambung, ini semua saling terkoneksi. Jadi sangat penting untuk kita memonitor keduanya,” tutur Nadiem.

Nadiem menerangkan bahwa AN terdiri dari tiga aspek penilaian, yakni kompetensi literasi-numerasi, karakter, dan lingkungan pembelajaran. Untuk kompetensi literasi-numerasi, asesmen berfokus pada pengembangan daya nalar dibanding pengetahuan konten.

Selanjutnya untuk karakter, survei dilakukan terhadap sikap, nilai, dan kebiasaan yang mencerminkan profil Pelajar Pancasila. Serta, basis untuk tumbuh kembang siswa secara utuh dan tidak hanya berfokus pada dimensi kognitif.

Terakhir adalah lingkungan pembelajaran yang pengukurannya terhadap kualitas pembelajaran, refleksi pendidik, perbaikan praktik belajar, iklim keamanan, dan inklusivitas satuan pendidik. Serta, latar belakang keluarga siswa. (*)

Editor: Darmawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *