Sen. Mei 23rd, 2022

ACEHSIANA.COM – Darussalam – Dinas Koperasi dan UKM Aceh bekerjasama dengan Atsiri Research Center (ARC)-Pusat Unggulan Iptek Perguruan Tinggi (PUIPT) Nilam Aceh Universitas Syiah Kuala (USK) menyelenggarakan Pembinaan Sentra Komoditi Unggulan Daerah di Kabupaten Pidie Jaya, 28-31 Maret 2022 di Hotel Ananda, Meureudu. Komoditi yang dipilih adalah Nilam dengan produk turunannya. Pelatihan diikuti oleh 30 peserta dari kalangan petani dan UKM yang ada di Pidie Jaya.

Hadir sebagai narasumber Kepala dan Pengurus ARC, Dr. Syaifullah Muhammad, Dr. Iskandarsyah Madjid, Dr. Essy Harnelly dan Nanda Funna Ledita.

Syaifullah menjelaskan nilam masa lalu dan dan jalan baru nilam Aceh yang telah dirintis oleh ARC sejak 2016. Dalam paparannya Syaifullah menyampaikan bagaimana nilam masuk ke Indonesia dibawa oleh Belanda. Nilam Aceh dengan spesies pogostemon cablin, Benth dibawa dari Philipina sebagai upaya VOC membiaya perang Belanda.
Nilam Aceh (pogostemon cablin, Benth) dari Philipina masuk ke Pasaman Barat di Sumatera Barat, kemudian ke Sidikalang Sumatera Utara berlanjut ke Tapak Tuan di Aceh Selatan. Dari semua nilam yang ditanam di Indonesia, ternyata yang tumbuh di Aceh memiliki keunikan dan karakternya sesuai dengan kebutuhan dunia industri. Belakangan Nilam Aceh memperoleh Sertifikat Indikasi Geografis dari Depkumham RI.

Nilam selanjutnya diekspor dalam bentuk tanaman kering ke Malaya melalui Tapak Tuan Aceh Selatan untuk disuling dan minyaknya dikirim ke berbagai negara termasuk Perancis sebagai bahan baku parfum. Saat ini Indonesia adalah pemasok 90% kebutuhan Nilam Dunia.

“Lebih seratus tahun nilam Aceh menjadi penggerak parfum dunia. Kandungan Patchouli Alkohol dalam nilam Aceh mengintervensi kesetimbangan titik uap senyawa volatile, hingga mencegah aroma menguap secara cepat. Karakter nilam ini membuat parfum menjadi tahan lama (long lasting) dengan komposisi aroma yang unik” urai Syaifullah.

“Kini sejarah telah berubah. Kalau dulu nilamnya dari negeri kita, tapi parfumnya dari Perancis. Kini, nilamnya ada di kampung kita dan parfumnya pun ada di kampung kita” jelas Syaifullah.

Narasumber lainnya Dr. Essy Harnelly dari ARC yang juga merupakan ahli genetika tanaman dari Prodi Biologi Fakultas MIPA USK menyampaikan materi tentang hilirisasi produk nilam. Dengan berbagai kandungan kimia alami dalam minyak nilam maka aneka produk dapat dibuat dan dipasarkan seperti parfum, hand sanitizer, lotion, medicated oil, serum antiaging dll.

“Kita pasti bisa untuk mewujudkan Aceh sebagai daerah penghasil parfum berkualitas dan unik karena kita kaya akan rempah dan atsiri sebagai bahan baku parfum” jelas Essy.

“ARC-USK siap membina, melakukan transfer iptek dan pengembangan jaringan agar produk masyarakat bernilai komparatif dan kompetitif di pasar” tutup Essy.

Dr. Iskandarsyah Madjid yang tampil sebagai narasumber ketiga, mempresentasikan stategi marketing produk UMKM. Ada 4 aspek pasar yang perlu dikembangkan yaitu product, price, place dan promotion.

“Produk harus memiliki keunikan dan dikomunikasikan ke target pasar secara terus-menerus dengan harga yang sesuai dengan kualitas dan daya beli konsumen” ujar Iskandar.

“UMKM perlu menetapkan segmen pasar yang di target agar kemasan produk, strategi branding, komunikasi dan harga dapat disesuaikan” lanjut Iskandar.

Pelatihan berlanjut dengan demo pembuatan parfum dan medicated oil bagi 30 peserta oleh Instruktur ARC Nanda Funna Ledita. Peserta diajarkan bagaimana komposisi, blending, keunikan aroma, daya tahan keharuman dll dari produk parfum dan medicated oil. Peserta juga dibekali dengan peralatan produksi dari Dinas Koperasi dan UKM Aceh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *