Jum. Agu 19th, 2022

ACEHSIANA.COM. Lhokseumawe -SMAN Modal Bangsa Arun mengadakan diskusi budaya pada hari Jumat 18 Maret 2022. Acara yang berlangsung di halaman basket sekolah menghadirkan dua orang narasumber, yakni kandidat Doktor Institut Seni Indonesia Surakarta Rasyidin SSn MSn dan Direktur Institut Meurak Jeumpa Mansur Muhammad Alamsyah (Nyakman Lamjamee).

Acara yang bertajuk “Tetranite : Membaca Teater Tradisional Melalui Adnan PMTOH”, menurut Alfonso O. Oesman SPd selaku guru Seni Budaya, merupakan bagian dari pendalaman pelajaran seni budaya bertujuan mengenalkan kembali seni tradisional.

Kepala SMAN Modal Bangsa Arun Nurasmah SPd MPd dalam sambutannya mengapresiasi kegiatan yang telah dipersiapkan oleh siswa dan menegaskan pentingnya mengenali kesenian tradisional sebagai warisan budaya. “Kalau dulu ibu masih bisa menonton berbagai pertunjukan tradisional seperti Adnan PMTOH, sandiwara, tapi berbeda dengan zaman sekarang mulai memudar,” ungkapnya.

Lebih lanjut ia menambahkan, “Dan kalau melihat tema malam ini, Adnan PMTOH adalah (pelaku) seni bertutur yang di dalamnya terkandung petuah dan nasihat yang baik. Petuah ataupun nasihat adalah ciri kesenian tradisional Aceh yang disampaikan bisa untuk hubungan antar sesama manusia ataupun kepada Allah.”

Sebelum acara dimulai gerimis sempat turun sebentar, namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat para siswa dan guru untuk tetap berhadir. Aroma basah setelah hujan dan wangi bandrek bercampur menemani penampilan seni yang dibawakan oleh siswa seperti tari ratoh jaroe, tari goel, nyanyi, baca puisi, dan saat nonton bareng. Ujarnya.

Kegiatan diskusi malam itu dimoderatori oleh Gizkha Maulina Herman, siswi yang saat ini duduk di kelas XI.

Mengawali diskusi, Nyakman Lamjamee menyampaikan pemaparannya tentang seni tradisional Biola ‘Mop Mop’ Aceh yang terancam hilang.

Pada masa dulu, sebagaimana disampaikan Nyakman, ada 29 grup kesenian, tapi sekarang tinggal 2 dengan formasi yang sudah tidak lengkap dan usia pemainnya di atas 60 tahun. Terangnya.

Kesenian Biola Aceh ini dimainkan oleh tiga orang, satu sebagai syeh yang memerankan ayah mertua dan bermain biola, dua orang lagi memerankan linto dan dara baro.

Cerita yang diangkat adalah tentang kehidupan rumah tangga sehari-hari yang berupa nasihat dan sindiran, kemudian dikemas secara komedi. “Enaknya bentuk kesenian seperti ini adalah kita bisa mengedukasi masyarakat tanpa terkesan menggurui,” tutur pegiat budaya yang aktif berusaha merevitalisasi kesenian tradisional.

Setelah pemaparan narasumber pertama,  diskusi kedua ini diawali membahas Adnan PMTOH dengan nonton bareng rekaman video agar siswa memiliki gambaran bentuk seni bertutur. Keahlian Adnan PMTOH dalam menuturkan cerita hikayat Aceh membuat hikayat yang biasa hanya diucapkan dengan lantunan musikalitas Aceh berubah fungsi menjadi sebuah hikayat dengan alur cerita yang hidup dan memiliki alur plot yang jelas. Keahlian dalam menghidupkan tokoh, laku, dan keahlian dalam berpantun serta diperkuat dengan kemahiran memainkan alat musik dan berimprovisasi menjadi andalannya.

Rasyidin dalam pemaparannya juga menyampaikan pernyataan John C Sagers, seorang Profesor Arkeolog berkebangsaan Amerika, yang memberi gelar Adnan PMTOH sebagai Troubadour Aceh di tahun 1968. Kata Troubadour itu sendiri berasal dari kata Trou”ba*dour`,yang diambil dari suku kata dalam bahasa Inggris, yang artinya “penyanyi keliling”. Disebut seperti itu karena keahlian Tengku Adnan dalam mendendangkan hikayat sembari keliling dari pasar ke pasar, dari satu tempat ke tempat lainnya.

Zaman saat ini, menurut Rasyidin, sudah sangat berbeda dengan saat Adnan PMTOH masih hidup. Saat itu bentuk hiburan tidak banyak, maka seni pertunjukan tradisional hidup dan sering dibanjiri penonton. Kemudian ia menambahkan, “Ritme sekarang lebih dinamis, ada banyak sekali hiburan di sekitar kita dan itu menggeser kesenian tradisional. Harus kita cari formulasi ataupun kemasan baru agar kesenian tradisional kembali mendapat tempat di masa serba digital ini.”

Salah satu pertanyaan yang menarik disampaikan oleh Gizkha, “Apakah penerapan Syariat Islam di Aceh bisa berjalan seiring dengan kebudayaannya?”
Rasyidin mengapresiasi pertanyaan tersebut. Menurutnya, apa yang disepakati dan dilarang ulama harus kita ikuti. “Jadi semisal ulama melarang menggunakan aksesori tertentu, ya kebudayaan harus bisa beradaptasi. Selama ada keingingan dari setiap kita untuk mencari titik temu, maka persoalan-persoalan budaya bisa diselesaikan tanpa harus ada kelompok ataupun bentuk seni yang dirugikan,” pungkasnya.

Setelah acara selesai dan sebelum kembali ke asrama, setiap siswa bergotong-royong membersihkan sampah dan mengembalikan perlengkapan yang digunakan ke tempatnya masing-masing sehingga lapangan sekolah menjadi rapi seperti sedia kala.[*]

Kontributor: Nanta Es

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *