Jum. Agu 19th, 2022

Oleh : Abdul Hamid

Sore itu aku bertemu dengan salah seorang mantan Kepala Dinas Pendidikan Aceh. Banyak mendengar nasehat nasehatnya tentang kehidupan. Dia senior yang patut diambil ilmunya.

“Saya sudah bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil selama 32 tahun 4 bulan. Mengawali karier sebagai guru, lalu pindah kantor, menjabat di beberapa kantor di kabupaten ku”. Ungkapnya.

“Setelah itu pindah menjadi pejabat di beberapa dinas di Provinsi Aceh.” Melanjutkan ceritanya.

“Semenjak saya menjadi guru, banyak sertifikat dan Piagam penghargaan dari berbagai penjuru, termasuk presiden Soeharto memberikan Piagam penghargaan kepada saya.”

“Menjadi pejabat juga banyak Piagam penghargaan yang didapatkan.”

Dia terus berbicara menyeruakkan isi hatinya. Saat di jenjang pendidikan juga banyak ijazah yang berhasil diraih.

“Hal ini hanya bermakna sampai satu detik sebelum pensiun. Sesudah menerima surat keputusan pensiun tak ada arti lagi.” dia seakan mengungkapkan kepedihan hatinya.

Masuk detik menerima sk pensiun, semua sertifikat, semua Piagam Penghargaan dan semua Ijazah SD, SMP, SMA, S1 maupun S2 tidak ada makna lagi, tidak ada nilai lagi, tidak ada manfaat lagi. Itu makna yang kutangkap dari
pembicaannya.

:Sangat terpukul ketika semua Piagam semua sertifikat semua ijazah bahkan semua sk pangkat golongan saya tunjukkan kepada anak anak saya.” Mereka malah berkata: “Semua ini tidak berarti bagi kami tidak ada arti lagi bagi bapak.”

“Saat itu saya sedih bahkan saya menangis meratapi apa yang sudah saya kerjakan puluhan tahun namun tidak ada apa apa lagi, tidak ada nilainya lagi bila sudah pensiun.” Ucapnya.

“Dua hari kemudian saya kumpulkan semua ijazah, semua sertifikat, semua Piagam, saya bakar tanpa ada sisa satupun kecuali SK pensiun dan Buku Nikah.”

“Hanya selembar surat keputusan pensiun yang masih memiliki arti, masih memiliki nilai untukku untuk istri dan anakku.”

“Sebuah Buku Nikah yang masih berguna untuk kami. Buku Nikah dan SK pensiun pun akan tidak memiliki nilai bila aku sudah mati. Buku Nikah tidak ada manfaat lagi bila di antara saya dan istri saya sudah mati.”

“Hanya SK pensiun yang masih berguna bagi anak saya. Itupun bila anak anak masih berumur di bawah 23 tahun. Setelah itu pupus semua perjuangan dan pengorbanan puluhan tahun tidak ada manfaat lagi.” Dia terlihat pucat pasi. Mukanya yang putih berubah tak enak dilihat. Akupun tidak berani menatap matanya lebih lama. Dia mengambil sapu tangan yang selalu ada di kantong celana. Menyeka air mata dan menarik nafas panjang. Kami saling menunduk seperti seorang pasangan yang akan berpisah.

Saya merenung, terbersit di dada “bagi yang sedang bekerja.
Jangan menghalalkan segala cara untuk memperoleh kedudukan. Hal ini akan membuat anda menyesal di waktu purna tugas.”
Bila sudah tidak ada jabatan apalagi atau sudah pensiun Mie di rumoh Han Di wou Lee ( kucing di rumah tidak mau pulang lagi).

Nikmati Takdir Allah.
Cot iju, 22 Februari 2022
Abdul Hamid.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *