Jum. Jul 1st, 2022
Tim perumus ITBI (doc. balipuspanews.com)

ACEHSIANA.COM, Bali – Institut Teknologi Blockchain Indonesia (ITBI) siap didirikan yang didukung oleh 99 guru besar. Pendirian ITBI merupakan hasil Seminar dan FGD yang diselenggarakan Ikatan Saudagar Muslim Indonesia (ISMI) bekerjasama dengan Yayasan Pengembangan Bisnis Management (YPBM) pada Sabtu (22/1) di Hotel Aston Denpasar, Bali.

Sekretaris Jenderal ISMI yang juga Ketua Panitia, Juliana Wahid menjelaskan bahwa ITBI nantinya diproyeksikan sebagai sekolah online pertama yang menggunakan teknologi blockchain.

“Seminar diikuti oleh 99 guru besar dan Rektor dari berbagai Universitas dengan berbagai latar belakang keilmuan. Selain menghadirkan para Profesor dan Rektor, juga menghadirkan Rizki Adam  yang merupakan tokoh muda penggiat blockchain,” ujar Juliana.

Dikatakan Juliana bahwa mereka sepakat perlu didirikan satu lembaga akademi khusus yang membidangi pengembangan dan penelitian secara akademik, sehingga teknologi ini dapat menjadi sebuah mata kuliah umum baru untuk didistribusikan ke seluruh tingkatan pendidikan di Indonesia.

“Inilah yang menjadi dasar kami untuk mendirikan Institut Teknologi Blockchain di Bali,” sebut Juliana.

Juliana menjelaskan bahwa tujuan sosial pendirian Blockchain Academy adalah membantu anak-anak putus sekolah di berbagai daerah di Indonesia, sehingga mereka dapat melanjutkan pendidikan secara gratis dan dapat meneruskan pendidikan mereka hingga ke jenjang Perguruan Tinggi.

Julianan merincikan hasil seminar yaitu, pertama Era teknologi 4.0 terjadi perubahan yang signifikan dalam kompetensi, bukan yang besar mengalahkan yang kecil namun yang cepat mengalahkan yang lambat, oleh karena itu dibutuhkan agility and adaptability agar kita bisa memenangkan persaingan di era 4.0.

“Untuk mendukung kelincahan tersebut maka dibutuhkan teknologi dan blockchain sebagai jawaban dari era teknologi 4.0. Dimana blockchain memiliki makna, block adalah catatan dan chain adalah rangkaian, sehingga menjadi bigdata yang bisa menjadi akses untuk kemajuan ekonomi, pendidikan, politik, dan sosial budaya,” tutur Juliana.

Kedua, Ikatan Saudagar Muslim Indonesia (ISMI) sebagai inisiator dalam menjawab berbagai isu blockchain dengan melibatkan 99 guru besar (Profesor) dari seluruh perguruan tinggi se-Indonesia untuk mewujudkan dan mesukseskan Blockchain Teknologi University di Indonesia.

Ketiga, blockchain mampu mewujudkan capital inflow untuk menarik dana dari luar Indonesia sehingga dapat dikelola dan diedarkan di Indonesia pasca pandemic covid 19 untuk pemulihan perekonomian nasional secara fundamental (ada underlying nya bukan bubble ekonomi).

Keempat, blockchain mampu menciptakan lapangan pekerjaan dalam bidang teknologi informasi untuk menekan pengangguran di Indonesia saat ini dan ke depannya.

Kelima, blockchain dapat sebagai inkubator bisnis bagi UMKM di Indonesia untuk bersaing di tatanan global untuk mendapatkan investasi atau modal.

Keenam, permasalahan di Indonesia kebanyakan tidak mengetahui secara detail tentang blockchain namun hanya melihat aset digitalnya saja, dalam mengatasi permasalahan tersebut tentu penting meningkatkan literasi blockchain agar terjadi kesadaran kolektif tentang pentingnya blockchain bagi pentahelix terdiri dari pemerintah, akademisi, private sektor (sektor swasta), masyarakat dan media.

Ketujuh, agar terjadi kontribusi kolektif dan kolaborasi di antara pentahelix maka dibutuhkan regulasi yang mengatur terkait peran masing-masing dalam membangun iklim yang sehat sesuai dengan pondasi agama, norma dan budaya Indonesia. (*)

Editor: Darmawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *