Jum. Jul 1st, 2022
Ketua IGI Wilayah Aceh, Drs Imran (doc. Imran)

ACEHSIANA.COM, Banda Aceh – Ikatan Guru Indonesia (IGI) Wilayah Aceh menyambut baik kehadiran Kurikulum Prototipe untuk mendorong pemulihan pembelajaran. Sambutan baik tersebut disampaikan Ketua IGI Wilayah Aceh, Drs Imran, saat mengikuti sosialisasi Kurikulum Prototipe pada Selasa (21/12) di kantor LPMP Aceh.

Menurut Imran, perubahan kurikulum tidak dapat dielakkan dan harus disesuaikan dengan keadaan. Dalam penerapan Kurikulum Prototipe, Imran menyoroti betapa pentingnya penguatan literasi bagi guru dan siswa.

“Sebagai organisasi profesi guru, IGI akan mendukung semua program pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Kurikulum sudah seharusnya mengalami perubahan, terutama di masa digitalisasi ini. Tetapi persoalan mendasar kita yaitu kemampuan literasi yang rendah harus ditingkatkan,” ujar Imran.

Dikatakan Imran bahwa selama pandemi Covid-19, adanya kehilangan pembelajaran atau learning loss pada siswa. Untuk itu, lanjut Imran, perlu perlu dilakukan pemulihan pembelajaran. Imran mendorong pemerintah untuk memiliki strategi guna mengajak anak-naka kembali bersemangat mengikuti pembelajaran tatap muka.

Pada kesempatan tersebut, Imran mengapresiasi pemerintah yang kerap mendukung kegiatan IGI dan bersedia bekerjasama. Salah satunya penyelenggaraan pelatihan guru yang bekerjasama dengan IGI.

“Meskipun secara anggaran kami lakukan secara mandiri, tetapi Dinas Pendidikan bersedia menyurati guruguru untuk belajar dengan kami. Demikian juga sertifikat pelatihan yang diselenggarakan IGI ditandatangani oleh Kepala Dinas Pendidikan sehingga emakin banyak guru yang tertarik mengikuti pelatihan IGI,” ungkap Imran.

Sementara itu Plt Kepala Perbukuan Kemendikbudristek, Supriyatni, menegaskan bahwa Kurikulum Prototipe merupakan opsi tambahan bagi satuan pendidikan guna melakukan pemulihan pembelajaran selama kurun 2022 – 2024.

“Dalam pengembangannya, kita melakukan penyusunan dan pengembangan struktur kurikulum, capaian pembelajaran, prinsip pembelajaran, hingga asesmen. Dalam penerapannya, satuan pendidikan kita berikan otoritas untuk mencapai pembelajaran di setiap fase,” terang Supriyatno.

Supriyatno menuturkan bahwa operasional Kurikulum Prototipe dapat dikembangkan sesuai dengan kesiapan dan karakteristik di sekolah. Sekolah, kata Supriyatno, diberikan keleluasaan untuk memilih dan memodifikasi perangkat ajar dari contoh yang disediakan pemerintah atau Menyusun sendiri perangkat ajar sesuai karakteristik peserta didik.

“Kemdikbudristek tetap menyediakan perangkat ajar seperti buku teks pelajaran, contoh modul ajar mata pelajaran, maupun contoh proyek Profil Pelajar Pancasila,” pungkas Supriyatno. (*)

Editor: Darmawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *