Jum. Agu 12th, 2022

  Penulis : Maulidina
Mahasiswa Perbankan syariah Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Islam Institut Agama Islam Negeri Langsa

ACEHSIANA. COM | Perayaan Maulid Nabi yang dalam bahasa Aceh disebut Kenduri Maulod merupakan perayaan memperingati hari kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW atau di Aceh disebut memperingati kelahiran Pang Ulee Alam (penghulu Alam).

Keunduri Maulid tersebut sudah menjadi tradisi  dalam masyarakata Aceh. Bahkan yang terbesar bila dibandingkan dengan tradisi-tradisi lain di Aceh.

Kenapa dikatakan tradisi terbesar? Karena tidak ada desa (Gampong) yang tidak merayakannya meskipun dalam skala kecil.

Kemudian dilaksanakan juga di tingkat kecamatan, kabupaten dan kota yang dilakukan secara besar-besaran. Pada setiap perayaan maulid itu dan sudah menjadi tradisi sejak zaman dahulu.

 

Melalui khanduri maulid, umat Islam bisa merajut persaudaraan, terutama pada masyarakat gampong sunge pauh dengan adanya kenduri maulid dapat merawat solidaritas kebersamaan.

Perayaan Maulid Nabi yang dalam bahasa Aceh disebut Kenduri Maulod merupakan perayaan memperingati hari kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW atau di Aceh disebut memperingati kelahiran Pang Ulee Alam (penghulu Alam)

Untuk itu bagi yang membolehkan merayakan kenduri maulid, juga berbeda tata caranya sesuai dengan adat daerah masing-masing tak mesti dipermasalahkan.

Ada sebagian daerah kenduri di masjid dan di meunasah, masyarakatnya membawa bu kulah, dan ada juga masyarakat membawa nasi kotak.

Apa yang dilakukan  pada saat perayaan Maulid? Pada salah satu hari dalam  3 bulan itu ditetapkan dalam musyawarah besar gampong sebagai hari maulid.

Antara gampong tetangga saling memberitahukan atau diberitahukan jadwalnya agar tidak ada yang bentrok.

Karena  masyarakat gampong yang satu mengundang masyarakat gampong tetangga lainnya untuk hadir di gampong mereka.

Di samping para panitia mengundang dusun tetangga, di sini juga sudah terbentuk tali silaturrahim antara satu dusun dengan dusun yang lainnya.

Kemudian di rumah-rumah mengundang sanak famili, tetangga dan kerabatnya untuk berkenan hadir dan menyantap sedikit hidangan dari tuan rumah.

Ini tentu hal yang sangat positif untuk menyambung dan mengikat silaturrahim antara masyarakat gampong sungai pauh tersebut.

Kadang saudara yang jauh pun merapat utuk memenuhi undangan.

Momentum maulid ini mengajarkan kita cara merawat cinta kepada Baginda Rasulullah SAW dan kehidupan bermasyarakat yang harmonis.

Pada hari H, yang saya lihat warga sungai pauh sangat antusias dan kompak dalam melaksanakan kenduri tersebut.

Masyarakat Gampong Sungai Pauh juga turut mengundang masyarakat gampong dan dusun tetangga lainnya untuk datang ke mesjid atau meunasah (musholla) tempat diadakan kenduri tersebut.

Gampong yang mengundang menyediakan idang (hidangan) yang dibawa oleh setiap warganya yang berisi lauk pauk dan nasi yang sudah dibungkus dengan daun pisang yang disebut bu kulah.

Di daerah ini juga, selain ada acara di Meunasah, masyarakat gampong secara pribadi bagi yang mampu juga membuat kenduri di rumah.

Cuma yang diundang adalah kerabat-kerabat dekat di gampong lain untuk makan bersama di rumah tempat yang mengadakannya.

Kemudian, sebagai penyemarak kenduri ada juga dzikir bersama, Tausiyah dan santunan kepada anak yatim dan piatu di-tempat acara tersebut.

Pada semua perayaan maulid diakhiri dengan makan bersama. Karena kalau ada istilah keunduri pasti ada makan-makan bersama.

Para undangan dipersilahkan untuk membuka idang dan menyantapnya secara bersama-sama.

Tidak tertutup kemungkinan bila makanan berlebih, boleh di bawa pulang dan panitia juga menyediakan kantung plastik untuk undangan membutuhkannya. Ini semua dilakukan sebagai ungkapan atau luapan rasa cinta kepada Rasul. Allahumma shalli ala saidina Muhammad.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *