Rab. Jul 6th, 2022
Pemimpin yang berkarakter dan Amanah

Oleh: Faridah Husni

“Kullukum ra’in, wa kullukum masulun an-ra’iyyatih (Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan diminta pertanggungjawaban).” (HR. Bukhari Muslim)

MAKNA ra‘in (pemimpin) dalam hadits tersebut adalah “penjaga” dan “yang diberi amanah” atas bawahannya. Rasulullah saw memerintahkan mereka untuk memberi nasehat kepada setiap orang yang dipimpinnya dan memberi peringatan untuk tidak berkhianat. Imam Suyuti mengatakan lafaz ra‘in (pemimpin) adalah setiap orang yang mengurusi kepemimpinannya. Lebih lanjut ia mengatakan, “Setiap kamu adalah pemimpin” Artinya, penjaga yang terpercaya dengan kebaikan tugas dan apa saja yang di bawah pengawasann.

Pemimpin diindektikan dengan (pengembala), dan setiap kamu (pengembala) akan diminta pertanggungjawaban dari gembalaannya. Maka seorang pemimpin yang memimpin orang banyak adalah gembala yang akan diminta pertanggungjawabannya atas gembalaannya. “Seorang isteri adalah gembala atas rumah tangga suaminya dan ia diminta pertanggungjawaban atas gembalaannya”. Karena itu menurut konsep Islam, semua orang adalah pemimpin, dan setiap orang harus mempertanggungjawabkan tindakannya kepada sesamanya di dunia dan kepada Allah kelak di akhirat.

Rasulullah saw, dikenal sosok dan figur pemimpin tak ada bandingannya di dunia ini. Ia menjadi uswatun hasanah (contoh teladan) bagi semua orang, sehingga ia dicintai oleh umatnya dan disegani oleh lawannya, disebabkan memiliki akhlak yang agung (QS. al-Qalam: 4), lemah lembut, tidak kasar (QS. Ali Imran: 159). Kepemimpinan Rasulullah saw, dikenal dengan empat ciri utama, yaitu: shiddiq (jujur), amanah (dapat dipercaya dan dihandalkan), fathanah (cerdas berpengetahuan), dan tabligh (berkomunikasi dan komunikatif). Sifat seperti ini telah pula diikuti oleh penerusnya seperti Abubakar ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, dan lainnya.

Abubakar ash-Shiddiq, ketika baru diangkat, ia mengatakan bahwa saya bukanlah orang yang terbaik di antara kalian. Lebih lanjut ia mengingatkan kaumnya agar menaatinya kalau dia lurus, dan mengingatkannya bila dia salah dalam memimpin. Hal yang sama dilakukan khalifah Umar bin Khattab selesai di-bai’at rakyat dalam jabatannya. Umar dikenal juga khalifah yang merakyat, ia tidak diam di rumah/istananya di Madinah, tetapi selalu turun ke pelosok desa, melihat dan mendengar langsung keluhan dan derita rakyatnya yang hidup miskin dan membutuhkan bantuan pemerintah secara tepat dan cepat.

Sementara itu khalifah Umar bin Abdul Aziz selesai di bai’ah umat Islam, sesampai di rumahnya dia menangis. Ketika ditanya isterinya mengapa menangis, dia menjawab, “Saya takut kepada Allah Swt, karena sebagai khalifah, kalau ada seorang saja rakyat yang mati kelaparan, sayalah yang ditanya Tuhan.”

Di samping amanah, sifat adil juga harus ada pada setiap pemimpin. Karena adil dimaknai menempatkan sesuatu pada tempatnya. Tidak memihak dan diskriminatif. Seorang yang terpilih menjadi pemimpin harus mampu berdiri di atas semua golongan, dengan tidak mengutamakan golongan tertentu (QS. al-Maidah: 8). Amanah dan adil merupakan satu prinsip yang harus ditegakkan oleh pemimpin.

Amanah itu Kekuasaan

Ada ungkapan menarik menyebutkan bahwa “amanah” identik dengan “kekuasaan”. Ungkapan ini menyiratkan dua hal: Pertama, apabila manusia berkuasa di bumi, menjadi khalifah maka kekuasaan itu diperoleh sebagai suatu pendelegasian kewenangan dari Allah Swt (delegation of outhority), karena Allah sebagai sumber segala kekuasaan, yang suatu saat nanti harus dipertanggungjawabkannya, dan; Kedua, karena kekuasaan itu pada dasarnya amanah, maka pelaksanaannya pun memerlukan amanah.

Amanah dalam hal ini adalah sikap penuh pertanggungjawaban, jujur, dan istiqamah. Amanah adalah sesuatu yang berat, tidak seperti dipahami sementara orang yang hubbud dunya (cinta dunia). Ketika Allah swt menawarkan amanah kepada langit, bumi dan kepada gunung, semuanya enggan dan menolak menerimanya karena dikhawatirkan tidak mampu mengembannya. Namun ketika tawaran itu ditujukan kepada manusia, manusia langsung menerimanya, sekalipun manusia kata Allah “zalim dan bodoh” (QS. al-Ahzab: 72)

Amanah tidak lagi diartikan sebagai sesuatu yang harus ditunaikan kepada pemberi amanah (QS, an-Nisa‘: 57), akan tetapi diartikan sebagai rezeki yang harus disujud syukuri. Sekarang ini kita saksikan banyak peminat mencalonkan diri jadi pemimpin, caleg dan lainnya, mereka menguber dan mengumbar dengan seribu janji, ia lupa bahwa al-wa’du daynun (janji itu adalah utang). Innal ‘ahda kana masula (setiap janji akan diminta pertanggungjawaban).

Bahkan tidak sedikit pula yang bermain dengan uang (money politics) untuk sampai ke kursi pimpinan. Kita juga menyaksikan banyak pejabat yang dilantik, disertai “sumpah” dengan bersaksikan Alquran di atas kepalanya. Ini tentu berat sekali risikonya bila suatu saat nantinya ia mengkhianati sumpahnya. Barangkali inilah satu penyebab banyaknya pejabat yang tidak berkah dalam jabatannya, menjadi tersangka korupsi dan dijebloskan ke dalam penjara.

Imam al-Ghazali pernah mengatakan bahwa rusaknya negara adalah karena rusaknya para penguasa, dan rusaknya para penguasa adalah karena rusaknya para ulama, dan rusaknya para ulama adalah karena rusaknya para hakim.

Menurut penulis rusaknya negara seperti diutarakan al-Ghazali paling tidak karena tiga hal, yaitu: Pertama, tidak adanya kepemimpinan (krisis kepemimpinan); Kedua, tidak adanya akhlak dan hati nurani (krisis akhlak), dan; Ketiga, tidak adanya pelaksanaan hukum yang benar dan adil (homo homuni lupus). Alasan ini sangat logis, karena semua kita memahami bahwa penguasa itu lambang dari kepemimpinan, para ulama adalah lambang dari akhlak (akhlaqul karimah), dan para hakim adalah lambang terlaksannya hukum yang benar dan adil.

Fenomena tersebut, merupakan fakta yang sedang terjadi di Republik tercinta ini. Kita merasakan hilangnya figur kepemimpinan yang merakyat, berwibawa, jujur dan amanah. Kondisi ini sedang terjadi baik tingkat pusat maupun provinsi bahkan sampai kecamatan dan desa tanpa kecuali.

Dampak dari itu hampir saban hari rakyat protes dan berdemo atas kebijakan dari sang pemimpinnya. Demikian pula kehilangan akhlak dan hati nurani telah menjalar ke mana-mana bak air bah sulit dibendung. Hukum dan peraturan banyak, akan tetapi semuanya merupakan huruf-huruf mati, realisasinya tak pernah membumi. Wallahu a’lamu bish-shawab. (*)

Faridah Husni adalah Mahasiswi Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Syiah Kuala

Editor: Darmawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *