Jum. Agu 19th, 2022
Semangat Guruku, Pulihkan Pendidikan

Oleh

Purwati, S.Pd., M.Hum

“Setiap rumah adalah sekolah dan setiap kita adalah guru”, sebuah kutipan yang di ambil dari Ki Hajar Dewantara yang dapat dijadikan sebagai penyemangat bagi kita semua tentang hakikat pendidikan. Makna yang terkandung didalam kalimat indah tersebut memberikan pengertian bahwa rumah merupakan tempat utama bagi anak-anak dalam memperoleh pendidikan. Ilmu pengetahuan yang disampaikan secara natural diharapkan dapat mengubah tingkah laku anak-anak. Selain itu, wujud orang tua dan anggota keluarga lainnya dijadikan sebagai guru yang dapat memberikan pengetahuan. Tidak hanya guru yang ditemui di sekolah yang dianggap sebagai guru bagi anak tetapi peran orang tua mampu menyeimbangkan posisinya dengan guru.

Pandemi COVID 19 yang telah kita rasakan selama dua tahun ini, sangat berdampak terhadap wajah pendidikan di Indonesia. Perubahan budaya belajar yang dilaksanakan seolah-olah membuat meriang bagi sebahagian pelajar dan orang tua. Sistem belajar yang biasanya dilaksanakan secara tatap muka harus di rubah menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJR) melalui  sistem daring. Ketidaksiapan para pelajar dari beberapa faktor membuat pendidikan itu sendiri seperti loss learning. Penyediaan media belajar bagi pelajar seperti handphone, masih dirasa sangat meberatkan bagi sebahagin orang tua. Sehingga tak jarang kita mendengar adanya kasus pencurian handphone yang dilakukan dengan tujuan untuk fasilitas belajar anak. Belum lagi masalah jaringan yang tidak stabil di beberapa daerah membuat para pelajar yang mengikuti pembelajaran tidak memahami dengan baik pesan edukasi yang disampaikan oleh guru. Jika dilihat dari sisi kemajuan teknologi pada saat sekarang ini, pandemi COVID 19 telah memberikan pelajaran yang baik kepada kita semua salah satunya dalam pengenalan penggunaan teknologi itu sendiri, dengan tujuan agar para siswa dapat mengoperasionalkannya sesuai dengan kebutuhan. Selain itu, keikutsertaan orang tua dalam mendidik anak akan memperkuat kerjasama dengan guru. Mengutip dari pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nadiem Makariem, beliau menyampaikan bahwa “Pendidikan yang efektif itu membutuhkan kolaborasi dari guru, siswa, dan orang tua”. Melalui kolaborasi tersebut, orangtua murid akan turut merasakan peran guru dalam membimbing anak didiknya, dan hal tersebut dapat menimbulkan empati kepada profesi guru yang selama ini mungkin belum tersampaikan dengan baik.

Seiring dengan turunnya angka COVID di Indonesia dan dikeluarkannya Surat Keputusan Bersama (SKB) empat menteri telah membuka jendela bagi dunia pendidikan. Salah satu point penting yang terdapat dalam SKB tersebut adalah memperbolehkan sebahagian daerah untuk melalukan pembelajaran tatap muka terbatas.  Tentu saja teknis penyelenggaraan kegiatan tersebut harus tetap memperhatikan kesehatan, keselamatan dan juga ketentuan-ketentuan lain yang tertera di dalamnya. Dengan adanya peraturan tersebut, maka lembaran baru dunia pendidikan mulai tampak. Menanggapi hal tersebut, sebahagian orang tua tidak setuju dengan pembelajaran tatap muka terbatas. Bukan tanpa alasan, pengalaman pahit merebaknya wabah yang telah terjadi membuat mereka khawatir akan muncul varian baru yang dapat menular ke anak-anak yang lain. Sehingga mereka mimilih untuk tetap melaksanakan pembelajaran dari rumah secara daring. Namun tanggapan yang berbeda juga muncul dari sebahagian orang tua siswa yang lain, mereka sangat menyambut baik dengan kembalinya belajar di sekolah. Bertemunya kembali guru dan siswa disekolah merupakan hal yang sangat dirindukan oleh keduanya. Hubungan emosional yang terjadi dalam proses pembelajaran dapat terbangun kembali. Bimbingan dan arahan secara langsung merupakan momen yang sangat dinantikan oleh para siswa.

Sementara bagi guru, pemberlakuan pembelajaran tatap muka terbatas seperti memulihkan pendidikan yang selama ini ikut sakit karena pandemi. PR besar bagi guru dalam membangkitkan semangat para siswa untuk terus belajar dan berinovasi guna memperbaiki diri bukanlah hal yang mudah. Seperti pernyataan William Butler Yeats “Pendidikan bukanlah mengisi ember, tetapi menyalakan api.” Peran seorang guru bukan hanya membuat siswanya menjadi pintar tetapi lebih dari itu. Hadirnya guru di tengah-tengah siswa dapat menginspirasi mereka menjadi pribadi yang lebih baik dalam berbagai aspek kehidupan.

Guru yang hebat akan selalu memikirkan yang terbaik untuk siswanya. Tidak ada kata lelah untuk membimbing, menjelaskan, dan mendemonstrasikan hal-hal baik. Guru merupakan sosok yang luar biasa dalam dunia pendidikan. Tuntutan besar bagi para guru dalam mendidik siswa sesuai dengan perkembangan zaman akan membuat guru lebih memantapkan langkah dalam mengemas pendidikan. Kesiapan guru dengan dibarengi planning yang matang akan menjadikan pendidikan lebih baik dan dapat menjawab tantangan dunia. Membekali siswa dengan keterampilan dan akhlak yang mulia agar dapat bersaing secara global merupakan cita-cita mulia seorang guru kepada siswa-siswanya. Atas dasar hal tersebut maka guru juga di tuntut untuk profesional. Profesionalisme guru telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Pada pasal 1 ayat 1 dinyatakan, guru adalah pendiidk profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidika anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Dengan demikian, untuk menjadi guru perlu keahlian, keilmuan, jiwa, ketelatenan dan kualifikasi pendidikan profesi yang sesuai. Keprofesional yang dimiliki oleh guru menjadi bukti ketidakraguan bagi masyarakat untuk mempercayakan anak-anak mereka berada dalam pelukan hangat guru.

Dalam pandangan Islam, guru memiliki keutamaan seperti dalam sebuah hadis yang menyebutkan “Sesungguhnya Allah, para malaikat dan semua makhluk yang ada di langit dan di bumi, sampai semut yang ada di liangnya dan juga ikan besar, semuanya bershalawat kepada mualim (orang yang berilmu dan mengajarkannya) yang mengajarkan kebaikan kepada manusia (HR. Tirmidzi). Begitu mulianya posisi guru sehingga semua kebaikan tersebut melekat pada diri mereka. Sehingga sudah sepatutnya guru mendapat penghargaan dan penghormatan sebagai pahlawan dalam memuliakan sesama manusia.

Sudah sepantasnya pemerintah memberikan perhatian lebih dan penghargaaan kepada guru dengan meningkatkan kesejahteraan mereka. Melalui beberapa program yang dilakukan oleh pemerintah, diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan guru dalam menunjang eksistensi keprofesionalan mereka. Dengan demikian semangat para guru untuk terus mencipatakan generasi bangsa yang berbudi pekerti, berilmu, dan cinta tanah air tidak akan pernah surut karena faktor lain yang membebaninya. Semangat guru ku, untuk pendidikan yang merata bagi seluruh rakyat Indonesia. (*)

Penulis adalah Pengajar Linguistik Terapan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *