Sen. Sep 20th, 2021
Faisal Terpilih Sebagai Ketua IGI Kota Lhokseumawe Periode 2021 – 2026

ACEHSIANA.COM, Lhokseumawe – Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kota Lhokseumawe meminta Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdikbud) Kota Lhokseumawe agar tidak mengeluarkan pernyataan yang dapat menimbulkan keresahan atau blunder. Hal itu disampaikan Ketua IGI Kota Lhokseumawe, Faisal ST MSc menanggapi pernyataan Kadisdikbud Kota Lhokseumawe, Drs Ibrahim A Rahman yang melarang guru belum divaksin untuk mengajar.

Kadisdikbud Kota Lhokseumawe, Ibrahim, melalui serambinews.com, menegaskan bahwa guru yang belum divaksin tidak boleh mengajar.

“Kita sudah arahkan agar semua guru mengikuti vaksinasi. Jadi sekarang ini bagi yang belum divaksin, maka tidak boleh mengajar. Akan diganti oleh guru yang lain (yang sudah divaksin),” ujar Ibrahim pada Minggu (5/9) sebagaimana dilansir serambinews.com.

Ibrahim memberi dispensasi bagi guru yang secara medis memang tidak bisa divaksin ataupun harus ditunda vaksin.

“Bila tidak bisa divaksin akibat faktor keseharan, maka guru tersebut masih tetap bisa mengajar,” tambah Ibrahim.

Terkait tersebut, Ketua IGI Kota Lhokseumawe, Faisal, menyayangkan Kadisdikbud mengeluarkan pernyataan yang dapat menimbulkan keresahan di kalangan guru dan bahkan menyebabkan blunder.

“Berapa persen guru yang sudah divaksin? Berapa persen guru yang tidak boleh divaksin? Bukankah vaksin tersebut merupakan kegiatan sukarela bukan paksaan? Oleh karena itu data guru yang sudah divaksin atau belum sangat penting agar pemerintah tidak melakukan hal gegabah sehingga sangat merugikan masyarakat sebagaimana sangat tidak profesionalnya Pemko Lhokseumawe dalam menerapkan PPKM,” tegas Faisal.

Dikatakan Faisal bahwa jika seandainya jumlah guru yang belum divaksin lebih banyak, maka tentu akan terjadi kekosongan di sekolah. Hal ini, tambah Faisal sangat merugikan siswa yang terancam loss learning akibat pembelajaran yang tidak pasti dan tidak punya platform yang jelas selama pandemi.

“Jika terjadi kekosongan guru di sekolah, percuma saja menerapkan pembelajaran tatap muka (PTM),” sebut Faisal.

Faisal menambahkan bahwa Disdikbud tidak boleh gegabah dan latah dalam bersikap. Faisal menuturkan sebagiknya Disdikbud melakukan analisis data dengan mempertimbangkan manfaat dan mudharat.

“Jangan sampai kegelisahan kita terhadap Covid-19 mengesampingkan kekhawatiran atas kebodohan generasi muda yang terancam mengalami loss learning selama pandemi,” tutup Faisal. (*)

Editor: Darmawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *