Kam. Mei 26th, 2022

ACEHSIANA.COM, Banda Aceh – Dinas Pendidikan (Disdik) Aceh mengutus tim terapis autis untuk melakukan needs assessment ke Sekolah Luar Biasa (SLB) yang berada dalam wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar. Kegiatan tersebut berlangsung mulai tanggal 2 Agustus 2021 hingga sekarang.

Tenaga Ahli Disdik Aceh, Istiarsyah, menjelaskan bahwa tim tersebut terdiri dari 11 terapis dan 1 orang dokter yang telah memiliki kualifikasi professional dalam bidang terapi Applied Behaviour Analysis (ABA). Istiarsyah menjelaskan cara tim terapai autis dalam melakukan needs assessment  tersebut.

“Terapi ABA merupakan salah satu alternatif terbaik dan sangat efektif untuk anak-anak dengan autism, karena terapi ini disusun secara terstruktur yang berfokus mengajarkan seperangkat keterampilan khusus pada anak,” ujar Istiarsyah.

Dikatakan Istiarsyah bahwa terapi ABA tersebut seperti keterampilan untuk memahami dan mengikuti instruksi verbal, merespon perkataan, mendeskripsikan sebuah benda, meniru ucapan dan gerakan, hingga dapat mengajarkan anak-anak untuk membaca dan menulis. Jika anak-anak dengan autism tidak ditangani dengan segera, maka akan berpengaruh buruk terhadap kinerja perkembangan pendidikannya.

Salah seorang tenaga terapis autis, Cahaya Purnama Sari, menerangkan bahwa kegiatan Needs Assessment merupakan langkah awal untuk mengumpulkan informasi yang komprehensif. Nantinya, tambah Cahaya, hasil tersebut akan digunakan untuk membuat pertimbangan keputusan belajar siswa Autis di sekolah, jika anak masih berada di level 1, maka perlu penambahan jam untuk mereka terapi.

“Melalui hasil analisis asesmen ini, kita dapat melihat bagaimana kemampuan anak disetiap penjabaran verbal operant yang telah diujicobakan,” kata Cahaya.

Cahaya menambahkan bahwa secara visual hasil asesmen yang ada di lembar scoring form akan terlihat dengan jelas tentang kemampuan manding, tacting, listener, VP/MTS, play, social, imitation, echoic, vokal spontan, LRFFC, Intraverbal, reading, writing, math, linguistic dan kemampuan dalam group, sehingga keputusan peningkatan kompetensi anak pun sesuai dengan kebutuhan belajarnya.

Lebih lanjut Cahaya mengungkapkan bahwa pelaksanaan asesmen dilakukan harus dengan prosedur yang sesuai dengan kaidah asesmen yaitu dengan memperhatikan 3 hal, characters, time dan setting. Pelaksanaan assesmen ini menggunakan Asesmen milestone VB-MAPP dari Mark L. Sundberg, Ph.D., BCBA-D, dengan mengisi scoring form sesuai dengan butir instrument, ada 170 milestone yang diasesmen, di mana milestone tersebut dibagi menjadi 3 level. Nah, level ini yang menentukan kebutuhan belajar anak nantinya.

“Setelah rangkaian assessment selesai dijalankan, maka, selanjutnya adalah pengambilan keputusan diagnosa yang dilakukan oleh seorang dokter,” sebut Cahaya.

Salah seorang dokter yang terlibat, Riza menuturkan bahwa peran pihaknya sebagai dokter praktisi Biomedical Intervention Therapy (BIT) adalah melakukan Alloanaesis pada orang tua anak penyandang Autistic Spectrum Disorder (ASD).

“Diantaranya dengan menanyakan informasi dari orang tua mengenai ciri-ciri serta perilaku yang ditujukkan oleh anak seperti kemampuan bicara atau bahasa, interaksi sosial, kemampuan bermain dan ketidak mampuan anak dalam menunjukkan minat yang biasanya bersifat repetitif/ stimming dan terbatas, tentunya harus didukung juga dengan informasi tentang riwayat tumbuh kembang anak, riwayat saat kehamilan hingga persalinan. Tidak cukup sampai disitu, saya juga memberikan informasi mengenai diet bagi anak ASD, yaitu diet casein free, gluten free, dan sugar free (CFGFSF),” ucap Riza. (*)

Editor: Darmawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *