Jum. Jan 21st, 2022
Dirjen Vokasi Sebut Pelajar SMK Harus Ditanamkan Soft Skill

ACEHSIANA.COM, Jakarta – Sebanyak 60 SMK diberi penghargaan Teaching Factory (TEFA) tahun 2021 atas terobosannya dalam merintis produk/jasa sesuai kompetensi keahlian di sekolahnya. Penghargaan tersebut diberikan oleh Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek) melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi (Dirjen Diksi).

Hal itu sebagaimana dijelaskan oleh Dirjen Diksi, Wikan Sakarinto dalam keterangannya pada Jumat (20/8). Menurut Wikan, TEFA harus bermula dari industri sehingga peserta didik dan sekolah dapat menciptakan produk berkualitas, diterima oleh pasar, dan menghasilkan proses yang berkesinambungan.

“Tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga berdampak, termasuk dalam program link and match paket 8+i, TEFA juga harus disesuaikan dengan kurikulum bersama industri dan terus menghadirkan pakar agar berkesinambungan. Harus start from the end, jangan tiba-tiba ingin membuat sesuatu,” ujar Wikan.

Dikatakan Wikan bahwa TEFA merupakan pengembangan dari pendidikan sistem ganda, yaitu competence based training (CBT) dan production based education and training (PBET) yang dilaksanakan oleh SMK. Hasil dari pengembangan ini, lanjut Wikan, diharapkan dapat menanamkan jiwa kewirausahaan bagi siswa.

“Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam produksi barang dan jasa tersebut, antara lain produk yang dibutuhkan di pasar, mengapa produk tersebut dibeli, siapa pembelinya, bagaimana proses pembeliannya, bagaimana mutu dan penampilan produknya, bagaimana modelnya, dan bagaimana merek, pelayanan dan garansinya,” sebut Wikan.

Plt Direktur SMK, Wartanto menegaskan bahwa program bantuan TEFA diikuti oleh 949 SMK. Kemendikbudristek, tambah Wartanto, menghadirkan juri dari unsur industri, akademisi, dan praktisi bisnis yang menilai proposal dan rencana bisnis peserta dalam bentuk business model canvas.

“Program bantuan TEFA telah disosialisasikan melalui rangkaian pelaksanaan seri webinar pada tanggal 18 sampai 21 Mei 2021 dengan narasumber yang berasal dari kalangan profesional atau mitra industri yang kompeten,” terang Wartanto.

Lebih lanjut Wartanto menyampaikan bahwa TEFA harus dapat memproduksi produk/jasa yang mendorong peserta didik berwirausaha. Produk yang dihasilkan, pungkas Wartanto, bukan sekadar mengembangkan bahan, tetapi dapat disalurkan ke masyarakat hingga mendapat pengakuan hak cipta.

“TEFA juga harus menghasilkan proyek bagi para peserta didik hingga mereka bisa mengaplikasikan sesuai kebutuhan industri. Selain itu, mereka juga bisa berkreasi dan berkolaborasi hingga menghasilkan usaha mandiri dengan upaya project based learning. Jadi, harus terus dilakukan diskusi dan ide-ide baru yang bisa dipecahkan bersama,” tutup Wartanto. (*)

Editor: Darmawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *