Sab. Sep 25th, 2021

Acehsiana.com – Darussalam – Atsiri Research Centre (ARC) Universitas Syiah Kuala (USK), menerima kedatangan petani nilam Gampong Blang Tingkeum Kecamatan Seulimum, Aceh Besar di kantor ARC USK Darussalam Banda Aceh pada Rabu, 28/2021

Kedatangan petani nilam tersebut merupakan rangkaian dari kegiatan Pengabdian Kepada Masayarakat, LPPM USK yang diprakarsai oleh Prof. Rina Sriwati Bulan, dosen Fakultas Pertanian sekaligus Kepala Divisi Riset  ARC USK.  “Petani diundang ke ARC agar mereka bisa melihat sendiri fasilitas yang dimiliki ARC dalam pengolahan minyak nilam hingga menjadi produk turunan dan agar mereka yakin dalam mengembangkankan tanaman nilam”, urai Rina Sriwati, yang juga merupakan professor ahli penyakit tanaman dari Fakultas Pertanian USK.

Prof. Rina Sriwati Bulan bersama beserta tim, Dr. Hartati Oktarina dan Dr. Irfan Zikri, telah memperkenalkan metode baru pembibitan nilam kepada petani setempat sejak bulan Mei 2021. Lahan milik petani telah jadikan kebun percontohan dan transfer teknologi teknik pembibitan terbuka dan tertutup.

Metoda ini  dilakukan untuk menghasilkan bibit berkualitas, disamping itu aplikasi Trichoderma sebagai zat perangsang tumbuh dan pengendalian hayati penyakit tanaman juga dilakukan pada bibit.

Petani mengaku, dengan metode ini bibit nilam yang dihasilkan lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya.

“Kali ini pengabdian di Lamteuba untuk nilam didukung oleh Insentif Pengadian dari LPPM USK.

Selanjutnya kami akan berusaha agar program nilam di Lamteuba dapat terus dikembangkan melalui berbagai inisiatif pembinaan dari ARC sebagai Pusat Unggulan Iptek -USK” lanjut Rina.

Program Pengabdian kepada Masyarakat ini akan terus berlanjut dengan program pendampingan kepada petani. Seperti pengakuan salah seorang petani, M. Nur, yang sangat berharap agar terus didampingi agar mereka dapat terus mengembangkan nilam.

“Khusus untuk penyulingan memang kami belum memiliki ketel yang standard masih menggunakan drum, namun kami optimis suatu saat nanti digampong Blang Tingkeum akan hadir ketel yang layak. oleh sebab itu kami memohon agar saat ini penyulingan nilam gampong dapat dilakukan di kantor ARC” ungkap M.Nur meyakinkan.

Petani lainnya, Tarmizi, menyampaikan bahwa, Gampong Blang Tingkeum kemukiman Lamteuba pernah menjadi desa penghasil nilam terbesar di Aceh besar, namun karena ketidakpastian harga dimana setelah menanam akhirnya harga anjlok dan tidak ada yang membeli, tidak tau harus membawa hasil panen mereka kemana maka petani menjadi trauma dan akhirnya beralih ke komoditi lainnya.

Dalam kesempatan itu, ARC juga memdemonstrasikan beberapa teknik cepat dan tepat guna untuk mengetahui kualitas minyak nilam yang dibawa oleh petani. Tarmizi membawa sampel minyak nilam yang disulingnya sendiri untuk diperiksa dan dijual kepada ARC. Dihadapan para petani, kadar patchouli alcohol (PA) minyak tersebut diprediksi menggunakan alkohol meter, diperkirakan kadar PA sekitar 32-34%. Namun kepastian nilai PA akan diperoleh setelah pemeriksaan dengan GCMS. Selain kadar PA, juga dilakukan pengujian kadar air dan kemurnian minyak nilam dari unsur pengotor.

Tanaman Nilam Blang Tingkeum juga memiliki keunggulan yang lain yaitu, tidak terserang hama dan penyakit. Kondisi ini sangat dipengaruhi oleh sumber bibit yang diperoleh dari desa tersebut tanpa introduksi dari daerah lain. Diakhir diskusi ketua kelompok petani nilam menyampaikan kekagumannya dengan berbagai proses minyak nilam hingga menjadi berbagai produk turunan.

 

Prof. Rina yang juga Ketua Nilam Innovation Park (NinoPark) ARC-USK kembali menjelaskan bahwa dalam lima tahun terakhir harga nilam satabil dan menguntungkan semua pihak, mulai dari petani, penyuling, pengumpul sampai eksportir.

“Sejak 2018 harga minyak nilam sangat baik dan stabil, berada pada kisaran Rp. 600-700 ribu  per kg. Kestabilan ini berkat komitmen dari dunia usaha untuk membeli minyak nilam dengan harga yang wajar secara berkesinambungan. Selain itu kestabilan juga terjadi akibat ekosistem tata niaga yang kondusif dimana minyak nilam Aceh sudah mulai dipurifikasi dan dirubah menjadi berbagai produk turunan. Dukungan berbagai stake holder dari Perguruan Tinggi, Pemerintah dan masyarakat sangat membantu added value dari minyak nilam Aceh” tutup Rina.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *