Jum. Sep 24th, 2021

ACEH KEMBALI BERSINAR DENGAN PRESTASI DI BIDANG PENDIDIKAN
Oleh:
Hamdani, S.Pd., M.Pd.
(Kepala Bidang SMA dan PKLK Dinas Pendidikan Provinsi Aceh;
Mahasiswa Program Doktor UNISU)

Dalam survei pendidikan di Indonesia, setiap tahun selalu ada yang menduduki peringkat. Sebagai tempat yang dekat kekuasaan dan memiliki penduduk mayoritas peringkat awal biasanya disabet oleh propinsi di Jawa. Kemudian, menyebar ke provinsi lain di luar Jawa. Salah satu provinsi paling barat, yakni Provinsi Aceh.

Selaku Gubernur Aceh, Ir. Nova Iriansyah, M.T., didampingi Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Drs. Alhudri, M.M., saat meninjau penyelenggaraan ujian akhir di sebuah SMA di Kota Banda Aceh tahun 2021 mengatakan, tahun ini jumlah siswa-siswi Aceh yang lulus SMBPTN tercatat 6.888 orang (41%) dari 16.767 peserta. Prestasi ini menempatkan Aceh di peringkat 8 nasional.
Sebagai posisi kedelapan Aceh boleh berbangga. Artinya, pendidikan Aceh kembali bersinar.

Berdasarkan pengumuman terbaru dari Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT), Provinsi Aceh berada pada posisi delapan terbanyak nasional meluluskan siswa-siswinya pada Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) tahun 2021.

Perlu diketahui jumlah siswa-siswi Aceh yang mendaftar pada SBMPTN tahun ini mencapai 16.767 peserta. Dari jumlah tersebut, 6.888 peserta atau 41 persennya dinyatakan lulus. Informasi tersebut disampaikan Ketua Tim Pelaksana Eksekutif LTMPT, Mohammad Nasih dalam konferensi pers melalui zoom meeting dan kanal Youtube resmi LTMPT, pada hari Senin tanggal 14 Juni 2021. Muhammad Nasih mengumumkan ada sepuluh provinsi dengan jumlah peserta terbanyak diterima pada SBMPTN 2021.

Secara nasional, Provinsi Jawa Timur menempati posisi pertama dengan jumlah 25.232 peserta, posisi kedua Jawa Barat 18.899 peserta, dan Jawa Tengah di posisi ketiga dengan peserta tes 16.104 orang. Selanjutnya, Sumatera Utara 14.331 peserta, DKI Jakarta 9.526 peserta, Sulawesi Selatan 9.372 peserta, Sumatera Barat 8.028 peserta, Aceh 6.888 peserta, Lampung 5.374 peserta, dan Sumatera Selatan 5.113 peserta.

Menanggapi masuknya Aceh dalam sepuluh besar nasional yang lolos SBMPTN, Gubernur Aceh, Ir. Nova Iriansyah, M.T. secara khusus memberikan apresiasi dan mengucapkan terima kasih atas pencapaian dan keberhasilan tersebut.

Apresiasi itu ditujukan Nova Iriansyah kepada seluruh jajaran Dinas Pendidikan Aceh, dan khususnya kepada warga sekolah yang terdiri atas kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru, tenaga pendidik, komite sekolah, dan orang tua murid.

Sebenarnya, bila kita menatap masa depan dikaitkan dengan masa lalu, sungguh hal itu merupakan perkara biasa. Perlu diketahui, Aceh adalah negeri Islam yang kuat. Aceh baru dikuasai oleh Belanda belakangan, setelah seluruh bumi pertiwi digenggamnya.

Betapa banyaknya tokoh pejuang bangsa yang kebangsaan Aceh. Semua menunjukkan bahwa mereka terpelajar dan bangsawan. Merekalah yang telah menurunkan generasi demi generasi. Hilang satu tumbuh seribu.

Kita bisa menengok kajayaan kerajaan Islam Samudera-Pasai di Aceh dengan rajanya Malik Al Saleh dan diteruskan oleh cucunya Malik Al Zahir. Sebelum Dinasti Usmaniyah di Turki berdiri pada tahun 699 H-1341 H atau bersamaan dengan tahun 1385 M-1923 M, ternyata nun jauh di belahan dunia sebelah timur, telah muncul Kerajaan Islam Samudera-Pasai yang berada di wilayah Aceh yang didirikan oleh Meurah Silu yang segera berganti nama setelah masuk Islam dengan nama Malik al-Saleh yang meninggal pada tahun 1297.

Selanjutnya, Aceh merupakan negeri yang amat kaya dan makmur pada masa kejayaannya. Menurut seorang penjelajah asal Prancis yang tiba pada masa kejayaan Aceh pada zaman Sultan Iskandar Muda Meukuta Perkasa Alam, kekuasaan Aceh mencapai pesisir barat Minangkabau, Sumatra Timur, hingga Perak di semenanjung Malaysia. Aceh merupakan salah satu bangsa di Pulau Sumatra yang memiliki tradisi militer, dan pernah menjadi bangsa terkuat di Selat Malaka, yang meliputi wilayah Sumatra dan Semenanjung Melayu, ketika di bawah kekuasaan Iskandar Muda.

Sementara itu, penjajahan Belanda baru terjadi di akhir abad 18. Ketika itu, Belanda menyatakan perang terhadap Aceh pada 26 Maret 1873 setelah melakukan beberapa ancaman diplomatik. Sebuah ekspedisi dengan 3.000 serdadu yang dipimpin Mayor Jenderal Johan Harmen Rudolf Köhler dikirimkan pada tahun, namun ekspedisi tersebut berhasil dikalahkan tentara Aceh, di bawah pimpinan Panglima Polem dan Sultan Machmud Syah, yang telah memodernisasikan senjatanya. dan bahkan Köhler sendiripun tewas tertembak di depan Mesjid Raya Baiturrahman pada tanggal 10 April 1873.

Ekspedisi kedua di bawah pimpinan Jenderal Jan van Swieten berhasil merebut istana sultan. Ketika Sultan Machmud Syah wafat pada tanggal 26 Januari 1874, digantikan oleh Tuanku Muhammad Dawood yang dinobatkan sebagai sultan Aceh di mesjid Indrapuri. Pada 13 Oktober 1880, pemerintah kolonial setelah berhasil menguasai istana, menyatakan pada dunia bahwa Aceh telah ditaklukan dan perang telah berakhir. Namun pernyataan pemerintah Belanda ternyata salah besar, perang Aceh terus berlanjut secara gerilya dengan semangat fisabilillah terus berkobar diseluruh Aceh. Perang gerilya ini dilangsungkan sampai tahun 1942 menjelang Jepang datang.

Jadi, pada tempatnya, Aceh kembali bersinar menyala-nyala. Masa lalu gemilang, masa sekarang tenang, dan masa depan cemerlang. Untuk itu, tepat sekali, secara terpisah, Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Aceh, Drs. Alhudri, M.M. mengajak seluruh lapisan masyarakat, terutama perguruan tinggi, untuk dapat bersinergi guna meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan Aceh ke depan. Kadisdik berpesan agar prestasi ini dapat terus ditingkatkan agar prestasi lainnya juga dapat terwujud ke depannya.

Selain melalui jalur SBMPTN, pemerintah juga membuka seleksi melalui jalur undangan atau lebih dikenal dengan istilah Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Melalui jalur ini, Aceh juga masuk dalam sepuluh besar provinsi yang diterima di perguruan tinggi. Dari 15.290 peserta yang mendaftar, sebanyak 5.626 peserta diterima atau sebesar 36,80 persen. Berdasarkan informasi tersebut, jumlah lulusan SMA dan SMK dari Aceh yang telah diterima di perguruan tinggi negeri tahun ini adalah 12.514 orang. Dengan rincian, 5.626 (37%) peserta diterima masuk melalui SNMPTN dan 6.888 (41%) melalui jalur SBMPTN.

Untuk persentase peserta secara nasional yang diterima berdasarkan jurusan, yaitu Bidang Sains dan Teknologi (Saintek), Aceh menduduki peringkat ke-7 dengan jumlah peserta yang mendaftar 16.767 dan yang lulus 3.442 orang atau 20,53 persen, sedangkan untuk Bidang Sosial dan Humaniora (Soshum), Aceh menduduki peringkat ke-9 dengan jumlah peserta 16.767 yang lulus 3.446 orang atau 20,55 persen.

Semakin banyaknya anak muda Aceh yang menjadi ahli, bukan mustahil di masa yang datang dengan semboyannya Pancacita artinya lima cita-cita akan diraih untuk kesejahteraan bersama.

Jelas sekali bahwa murid merupakan hasil didikan guru. Guru merupakan tauladan bagi seorang murid. Hal itu memberi isyarat bahwa murid yang cemerlang dihasilkan oleh guru yang luar biasa. Banyaknya siswa berprestasi karena gurunya berprestasi. Guru berprestasi karena terpengaruh oleh Kepala Sekolah dan Pengawas yang berprestasi.

Karena itu, setiap acara gelaran prestasi di tingkat pendidikan nasional harus diikuti dengan baik karena hal itu adalah bukti keseriusan kita dalam mengabdi. Pendidikan yang berkualitas didorong oleh guru selaku ujung tombak pendidikan, kepala sekolah, pengawas, dan semua stekholder yang berprinsip yang sama. Semoga Aceh selalu gemilang, kini dan masa mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *