Rab. Okt 27th, 2021
JSDI Minta Mendikbudrisek Siapkan Solusi Terhadap Potensi Loss Learning Gelombang Kedua

ACEHSIANA.COM, Jakarta – Jaringan Sekolah Digital Indonesia (JSDI) meminta Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Makarim, untuk menyiapkan solusi terhadap potensi loss learning gelombang kedua. Permintaan tersebut disampaikan Ketua umum JSDI, Muhammad Ramli Rahim dalam rilis yang diterima acehsiana.com pada Minggu (4/7).

Menurut Ramli, Mendikbudristek telah dengan gamblang mengakui kegagalan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di Indonesia dan terus mendorong pembalajaran tatap muka (PTM). Nadiem, tambah Ramli, juga mengakui terjadinya learning loss di akhir tahun 2020 dan berharap pada Januari 2021 PTM bisa kembali agar kondisi learning loss tidak terulang.

“Mendikbudristek tampakknya tidak bisa berharap banyak, Januari PTM jelas tidak bisa dilaksanakan secara maksimal, bahkan sejumlah uji coba PTM dihentikan,” ujar Ramli.

Dikatakan Ramli bahwa fakta rerbaru, Presiden Joko Widodo (Jokowi) resmi mengumumkan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Darurat. Pelaksanaan PPKM tersebut, lanjut Ramli, akan dilakukan di Jawa dan Bali yang akan berlangsung dua pekan. Adapun pemberlakuan PPKM Darurat ini merupakan respons seiring melonjaknya kasus Covid-19 di Indonesia.

Ramli menuturkan bahwa tantangan akan semakin parah karena serangan kedua Covid-19 ini mulai rentan bagi anak. Bahkan berdasarkan paparan Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Dwi Oktavia, sebut Ramli, sebanyak 15 persen dari 9.399 kasus positif hari ini adalah anak-anak di bawah usia 18 tahun.

“Artinya, kemungkinan PTM kembali akan menemui kendala serius. Karena itu, sangat potensial Nadiem Makarim kembali menyatakan kegagalan belajar atau Learning Loss terjadi untuk kedua kalinya tanpa ada tindakan nyata mencegahnya,” ungkap Ramli.

Efek Lanjut Learning Loss

Ramli menjelaskan bahwa dampak learning loss tidak akan berhenti sekalipun sekolah dibuka dan diadakan pembelajaran tatap muka. Apalagi jika tidak ada kebijakan terkait pemulihan kemampuan belajar terlebih dahulu.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Michelle Kaffenberger, dampak learning loss secara global pada peserta didik sangat besar terjadi pada siswa yang sedang duduk di bangku Sekolah Dasar. Hasil penelitian tersebut, kata Ramli, siswa kelas 3 SD yang melewatkan waktu belajar 6 bulan berpotensi kemampuannya tertinggal 1,5 tahun.

Selain itu, terang Ramli, siswa kelas 1 SD yang tidak belajar dalam waktu 6 bulan akan mengalami ketertinggalan hingga 2,2 tahun. Learning loss, tentu ,akan berdampak panjang sehingga menyebabkan masalah ekonomi dan sosial di masa depan.

“Siswa yang kehilangan kesempatan belajar selama 1,5 tahun akan kehilangan pendapatan sebesar 15% saat dewasa. Sedangkan siswa yang kehilangan kesempatan belajar selama 2 tahun akan kehilangan pendapatan sebesar 20% saat dewasa,” tutup dia.

Solusi Mencegah Learning Loss

Ramli menambahkan bahwa salah satu masalah serius di Indonesia diawal pandemi covid 19 adalah adanya lebih dari 60% guru yang tidak mampu menggunakan teknologi untuk pembelajaran jarak jauh yang berakibat pada buruknya kualitas PJJ.

“Data yang kami miliki, hanya 5,7% guru yang memiliki kemampuan dan kreatifitas yang baik untuk menyajikan pembelajaran jarak jauh yang menyenangkan dan tetap berkualitas sementara 33% diantaranya bisa menggunakan teknologi dalam PJJ dengan kualitas seadanya. Angka persentase ini butuh pemetaan ulang,” tutur Ramli.

Karena itu, jelas Ramli, seharusnya yang dilakukan Kemdikbudristek adalah menghentikan sementara seluruh proses belajar mengajar dan mengirimkan seluruh guru di Indonesia selama 2-3 bulan jika memang tak bisa satu semester masuk “bengkel”. Guru yang 5,7% itu ditugaskan untuk melatih guru yang 33% untuk selanjutnya kedua kelompok guru ini melatih guru yang 60% tersebut. Pemetaan awal harus dilakukan dan setiap guru dipastikan bisa memberikan pembelajaran menarik dan berkualitas secara digital dengan miniml 18 metode berbeda untuk 18 pertemuan.

“Pembelajaran harus dihentikan sementara agar yang dilatih dan yang melatih bisa berkonsentrasi penuh menemukan metode mengajar yang paling efektif secara digital tanpa beban berhadapan dengan anak didik,” pungkas Ramli.

Dengan memasukkan guru ke “bengkel”, tutup Ramli, insya Allah Indonesia akan menemukan caranya sendiri untuk menghadirkan PJJ yang berkualitas dan menyenangkan tanpa harus selalu mencari contoh dari negara lain. Pendidikan Indonesia harus bisa menjadi leader, bukan followers. (*)

Editor: Darmawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *