Sel. Nov 30th, 2021
Puncak Sigantang Sira, Magnet Baru Pariwisata Aceh Selatan

Oleh: Dr. Muhammad Yasar, S.TP., M.Sc

Puncak Sigantang Sira sejak dibuka akhir tahun 2020 lalu benar-benar telah menjadi buah bibir dan magnet baru dalam menarik wisatawan ke Kabupaten Aceh Selatan. Walau letaknya mencapai 78 Km atau memerlukan waktu tempuh 1.5 jam dari ibu kota Tapaktuan, tidak menyurutkan animo pendatang untuk menikmati panorama alamnya yang sangat eksotik.

Areal perbukitan yang terletak di daerah Pintoe Angen Gunung Kapur Trumon ini memiliki spot yang tepat untuk menikmati keberadaan objek wisata Pulau Dua dari ketinggian. Dari puncak Sigantang Sira, pengunjung dapat pula menikmati hamparan hutan dan perkebunan rakyat laksana permadani hijau yang berpadu apik dengan birunya Samudera Hindia.

Kehadiran lokasi wisata baru Sigantang Sira ini tidak terlepas dari sosok entrepreneur lokal bernama Teungku Abrar Muda.  Secara swadaya, Teungku Muda, panggilan akrabnya,  berhasil menyulap lahan tersebut menjadi lahan wisata berbasis pertanian. Kehadiran lokasi wisata baru ini menarik untuk diungkap ke publik sebagai motivasi bagi investor lokal lainnya.

Menurut kisah yang dituturkan Tengku Muda, terbentuknya kawasan wisata ini bermula dari kegiatan bertanam jagung yang saat itu hasilnya kurang menggembirakan. Naluri entrepreneurship yang mengalir dalam darah mantan panglima GAM inipun menjadi liar mengkonversi tantangan menjadi peluang. Dengan ide kreatifnya, ia pun bertekad menjadikan lokasi kebun seluas 25 Ha ini menjadi kawasan wisata.

Dilatarbelakangi historis perjuangan beliau di masa konflik, tempat ini kemudian diberi nama Puncak Sigantang Sira. Kata Sigantang berarti satu gantang dan kata Sira berarti garam. Gantang merupakan salah satu bentuk takaran dalam memberi ukuran volume seperti halnya liter. Nama Sigantang Sira mewakili rasa solidaritas dan kesetiakawanan untuk selalu mengingatkan pahit getir masa-masa sulit perjuangan bersama para mantan kombatan dulu. Hanya Sigantang Sira yang membuat mereka mampu survive ditengah rimba belantara sebagai gerilyawan.

Dari ketinggian puncak bukitnya, Teungku Muda menemukan pemandangan yang sangat eksotik apalagi letak lokasinya memungkinkan untuk diintegrasikan dengan potensi objek-objek wisata lain di wilayah Aceh Selatan. Diantaranya Pulau Dua Bakongan Timur dan Air Terjun Tangga Seribu Trumon Timur yang juga sudah sangat terkenal.

Dalam imajinasinya Teungku Muda ingin memvisualisasikan sebuah lokasi wisata terintegrasi yang dilengkapi berbagai fasilitas standar seperti adanya tempat-tempat peristirahatan berupa hotel atau villa, wahana-wahana permainan seperti outbound dan waterboom, wisata kuliner “foodcourt “, serta pusat jajanan dan souvenir khas. Untuk pengembangannya, kawasan ini akan menerapkan konsep Agroekoeduwisata.

Agroekoeduwisata merupakan sebuah konsep pengembangan wisata berbasis kegiatan pertanian, pelestarian lingkungan, dan kegiatan pendidikan. Sesuai istilahnya tersebut, Bukit Sigantang Sira dari sisi Agro atau pertanian akan ditanami dengan berbagai jenis komoditi pertanian terutama tanaman hias dan hortikultura. Kegiatan peternakan dan perikanan juga tidak luput dipadukan dalam bentuk integrated farm.

Dari perspektif Eko atau ekologi, kawasan yang berasal dari Areal Milik Pribadi ini akan memperhatikan kaedah konservasi dalam penatakelolaannya. Tumbuhan-tumbuhan hutan akan dipelihara kelestariannya bahkan akan ditambah dengan kegiatan koleksi plasma nutfah lokal yang akan memperkaya biodiversity kawasan.  Hal seperti ini tentunya memiliki relevansi yang menarik ketika dikaitkan dengan perspektif edu atau edukasi.

Dalam sudut pandang edukasi atau pendidikan, kawasan wisata ini akan dijadikan sebagai pusat riset teknologi dan inovasi baik untuk pengembangan sektor pertanian dan kehutanan, juga berpeluang untuk dimanfaatkan dalam konteks pemanfaatan energi terbarukan (renewable energy). Untuk menggerakkan sisi ini, pihak Sigantang Sira telah merangkul perguruan tinggi setempat yaitu Politeknik Aceh Selatan.

Upaya Teungku Muda ini perlu kita dukung bersama karena kehadiran objek agroekoeduwisata tidak hanya menjadi pesona dalam dunia kepariwisataan tetapi yang terpenting akan menjadi stimulus bagi pemberdayaan ekonomi masyarakat seperti pembukaan lapangan kerja baru, kemitraan UMKM, dan tentunya akan menjadi sumber PAD bagi kabupaten yang terkenal sebagai penghasil pala ini.

Saat ini Agroekoeduwisata Sigantang Sira rintisan Teungku Muda ini berhasil menjadi salah satu nominator yang mewakili Potensi Wisata Aceh di ajang Anugerah Pesona Indonesia (API Award) 2021 untuk kategori Dataran Tinggi Terpopuler. Tentunya ini menjadi momentum strategis untuk mengangkat potensi daerah khususnya di bidang pariwisata. Mari kita dukung bersama! (*)

Penulis adalah Dosen Tetap Fakultas Pertanian Program Studi Teknik Pertanian Universitas Syiah Kuala Banda Aceh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *