Kam. Mei 26th, 2022
Ketua BAN-S/M Sebut Akreditasi Jamin Mutu Sekolah dan Guru

ACEHSIANA.COM, Jakarta – Ketua Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN-S/M) Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek), Dr Toni Toharuddin menyebutkan bahwa akreditasi dapat menjamin mutu sekolah dan guru. Hal itu disampaikan Toni dalam sebuah Fellowship pada Selasa (15/6) di Jakarta.

Menurut Toni, Indonesia selama belasan tahun lamban meningkatkan kualitas pendidikan. Salah satu caranya, lanjut Toni, dengan memperbaiki akreditasi demi menjamin mutu pendidikan sekolah dan guru.

“Selama 15 tahun, kualitas pendidikan kita sedikit lamban untuk meningkat kualitasnya. Kami melakukan reform terhadap sistem yang ada,” ujar Toni.

Dikatakan Toni bahwa saat ini persentase sekolah dari tingkat SD, SMP, SMA, SMK, dan madrasah dengan akreditasi A dan B mengalami peningkatan. Namun, kata Toni, peningkatan akreditasi itu tidak dibarengi peningkatan hasil ujian nasional dan capaian penilaian siswa berskala besar dan internasional atau PISA (the Programme for International Student Assessment). PISA yang disponsori OECD (Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan) bertujuan mengevaluasi sistem pendidikan dari 72 negara di dunia.

“Berdasarkan data, penurunan grafik UN pada 2015. Pada 2019 ada sedikit kenaikan karena pemberlakukan ujian tulis berbasis komputer. Kemudian terdapat penurunan grafik dari 2003-2014 dalam capaian PISA. Data tersebut membuat BAN-S/M introspeksi terhadap data empirik sehingga pada 2018 mereka berkomitmen membuat reform sistem akreditasi,” tutur Toni.

Lebih lanjut Toni menambahkan bahwa ada dua bagian dalam reform yang harus diimplementasikan. Pertama, sistem akreditasi yang sebelumnya tidak menggunakan, dan kedua paradigma akreditasi.

“Kualitas sekolah dapat dipantau dengan memanfaatkan teknologi melalui satu sistem bernama Dashboard Monitoring System. Sistem ini dapat mengetahui bagaimana kualitas sekolah/madrasah dari waktu ke waktu, apakah mengalami improvisasi atau tidak,” terang Toni.

Toni menerangkan bahwa semua sekolah mulai dari kelompok belajar sampai madrasah masuk ke sistem untuk dipantau kualitasnya, khususnya madrasah. Selain itu, tegas Toni, perubahan juga terjadi di paradigma instrumen.

“Instrumen kita yang dulunya berbasis complains, sekarang berbasis performance. Hal ini bisa meningkat secara terus-menerus dari waktu ke waktu,” ucap Toni.

Dengan sistem ini, jelas Toni, BAN-S/M dapat melihat sekolah dengan aspek atau indikator performance. Sehingga nantinya sekolah akan dikawal agar melakukan improvisasi.

“Kalau dulu (basis complains) setelah sertifikat akreditasi mau habis, dia (sekolah/madrasah) akan hidup (aktif) lagi ketika mau akreditasi. Jadi (terkesan) sesuatu bisa disiapkan secara instan. Dengan basis performance, setelah sekolah/madrasah re-akreditasi, kembali akan terbangun budaya improvement kualitas, baik di sisi sekolah maupun pemerintah daerah,” jelas Toni.

Toni menguraikan bahwa guna mendongkrak kualitas tersebut, perlunya perubahan paradigma akreditasi. Ada sejumlah variabel yang perlu diubah, seperti bagaimana proses pembelajaran di sekolah sehingga lulusannya diharapkan menghasilkan SDM yang berkualitas. Karena itu, ia mendorong kepala sekolah menyusun program inovatif sehingga dapat mempengaruhi budaya sekolah dan mampu membangun kehidupan organisasi serta membangun budaya unggul (culture of excellence).

“Mutu guru seperti apa. Kemudian dipengaruhi manajemen sekolah. Jadi kepala sekolah harus mempengaruhi proses pembelajaran dan kualitas guru. Sebagai leader, kepala sekolah harus mensupport proses pendukung pembelajaran di sekolah tersebut,” ungkap Toni.

Toni menegaskan bahwa demi menjaga kualitas pendidikan dan mutu sekolah juga para guru, maka BAN-S/M menjamin akreditasi tetap berjalan dan tidak terganggu pandemi. Sebab, kata Toni, penilaian akreditasi untuk sekolah di masa pandemi Covid-19 tidak terlalu berpengaruh terhadap penilaian secara keseluruhan. Alasannya karena penilaian akreditasi sudah dilakukan sejak 2016 sampai 2020.

“Jadi kalau sekolah mempersiapkan dengan baik, meskipun dengan proses daring maka akan siap baik dengan platform video conference, bahkan dengan grup-grup WhatsApp. Bahkan di daerah-daerah itu guru-guru bisa melakukan dokumentasi dengan baik terkait pembelajaran melalui grup-grup WhatsApp,” sebut Toni.

Toni menuturkan bahwa metode yang dipakai dapat dilakukan melalui wawancara via telepon, maupun platform video conference untuk menggali informasi yang sebenarnya. Walaupun, pungkas Toni, masih ada kendala terkait telaah dokumen, karena tidak semua sekolah membuat dokumen kinerja yang baik.

“Sehingga akan kesulitan melakukan penggalian data khususnya terkait dokumen, jadi para asessor diberikan penguatan agar penggalian data bisa mencapai hasil yang maksimal,” tutup Toni. (*)

Editor: Darmawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *