Sel. Nov 30th, 2021
IGI Lhokseumawe Salurkan Donasi untuk Fitriani yang Menderita Lumpuh

ACEHSIANA.COM, Lhokseumawe – Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kota Lhokseumawe menyalurkan donasi berupa uang tunai dan sembako kepada Fitriani, penderita lumpuh yang sudah 8 tahun terbaring di kamar tidak layak huni. Donasi tersebut disalurkan langsung kepada Fitriani pada Kamis (6/5) di Lhokseumawe.

Ketua IGI Kota Lhokseumawe, Jon Darmawan SPd MPd menjelaskan bahwa donasi tersebut merupakan sumbangan anggota IGI dan para donatur yang tidak mengikat. Diantara donatur tersebut, tambah Darmawan, ada yang berasal dari Lampung, Tamiang, dan Banda Aceh. Selain itu, lanjut Darmawan, tentu banyak pula dari Kota Lhokseumawe yang umumnya merupakan anggota IGI.

“IGI Kota Lhokseumawe mengucapkan terima kasih kepada para donatur yang telah mempercayakan kami untuk menyalurkan bantuan ini. IGI dengan program IGI for Humanity akan berupaya membantu pihak-pihak yang sangat membutuhkan bantuan seperti Fitriani,” ujar Darmawan.

Dikatakan Darmawan bahwa berdasarkan hasil pantauan langsung, maka kebutuhan paling mendasar keluarga Fitriani adalah rumah layak huni. Rumah yang dihuni sekarang, sebut Darmawan, berdiri di atas tanah orang dan sangat tidak layak huni.

“Donasi ini kami harapkan dapat meringankan beban keluarga Fitriani terutama untuk melunasi tanah yang baru dibeli. Meskipun belum cukup, mudah-mudahan aka nada para dermawan yang mau membantu keluarga ini,” tutur Darmawan.

Lebih lanjut Darmawan menambahkan bahwa pihaknya akan tetap menerima donasi untuk keluarga Fitriani jika memang masih ada yang ingin memberikan sumbangan. Hal ini, tutup Darmawan, mengingat keluarga Fitriani sangat membutuhkan rumah yang layak huni. Transparansi donasi akan tetap dilakukan melalui media sosial sehingga para donatur dapat melihat laporan donasi tersebut.

Turut hadir saat penyaluran donasi, Ketua Ikatan Rabithah Alumni Dayah Darul Munawwarah (Iradah) Kota Lhokseumawe, Tgk. Fadli serta para pengurus teras IGI Kota Lhokseumawe.

Sebelumnya diberitakan bahwa sungguh berat penderitaan yang dialami Fitriani. Gadis keahiran Blang Weu Baroh, 21 September 1992 ini tiba-tiba menderita lumpuh sejak lulus dari SMP pada tahun 2013. Fitriani merupakan anak pertama dari pasangan Zainal Abidin Ben dengan Berlian. Ya Ibunda Fitriani meninggalkan dunia keluarganya sekitar 8 tahun yang lalu akibat tidak tahan dengan kondisi keluarga.

Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kota Lhokseumawe, Jon Darmawan SPd MPd bersama Ketua Ikatan Alumni Dayah Kuta Krueng Wilayah Kota Lhokseumawe, Tgk Fadli, beberapa waktu lalu mengunjungi rumah Fitriani. Menurut Darmawan, Fitriani memiliki dua orang adik laki-laki, Heri Mayanda dan Muhammad Taufik. Kedua adiknya hanya sekolah sampai tamat SMP saja. Sama seperti Fitriani. Ketiadaan biaya merupakan alasan mengapa mereka tidak melanjutkan pendidikan.

Heri Mayanda menceritakan kepada Darmawan bahwa pada tahun 2013, Fitriani menderita lumpuh secara tiba-tiba. Keceriaan yang selalu ditampilkan Fitriani berubah menjadi kesedihan mendalam. Ayah Fitriani, Zainal Abidin sudah mencoba membawa Fitriani berobat. Namun, ketiadaan biaya membuat Ayah Fitriani menyerah dan merawat buah hatinya di rumah.

“Ayah Fitriani merupakan penderita kaki gajah. Pekerjaan Ayah Fitriani adalah penarik becak barang di kawasan Cunda, Lhokseumawe. Sementara kedua adik Fitriani tidak bekerja. Ijazah SMP yang diperoleh adiknya sangat sulit mencari lapangan pekerjaan. Praktis, hanya Ayah Fitriani yang menderita kaki gajah sebagai tulang punggung utama mencari nafkah dengan becaknya. Lengkap sudah penderitaan yang dialami keluarga Fitriani,” ujar Darmawan.

Dikatakan Darmawan bahwa rumah Fitriani terletak di pinggir jalan Buloh Blang Ara, kawasan Trieng Dua Peureudee, Blang Weu Baroh Kecamatan Blang Mangat Kota Lhokseumawe. Rumah tersebut, tambah Darmawan, tidak layak huni dan beralaskan tanah. Rumah tersebut hanya memiliki satu kamar tidur tempat Fitriani terbaring siang dan malam. Ayah dan kedua adiknya, lanjut Darmawan, tidur di ruang tamu dengan alas Kasur yang digelar di atas lantai tanah. Rumah tersebut berkonstruksi kayu yang sudah tidak layak huni.

“Tanah tempat rumah mereka dirikan bukanlah tanah sendiri. Tanah tersebut merupakan tanah salah seorang warga Kota Lhokseumawe. Status tanah tersebut milik orang lain, bukan milik Zainal Abidin, ayah Fitriani,” sebut Darmawan.

Lebih lanjut Darmawan menuturkan bahwa Ayah Fitriani pernah memelihara sapi milik warga kampung tersebu dengan sistem mawah. Saat pembagian hasil mawah, ia memperoleh seekor anak sapi. Anak sapi tersebut dipeliharanya selama dua tahun. Setelah besar, Zainal menjual sapi tersebut dan membeli sebidang tanah di gampong Blang Weu Baroh. Tanah tersebut baru saja Ayah Fitriani.

Geuchik Blang Weu Baroh, Maimun SPd menjelaskan bahwa pihaknya melalui dana desa pernah berupaya membantu merehab rumah tersebut. Akan tetapi karena tanah tersebut bukan milik Ayah Fitriani, maka tidak dapat direhab melalui dana desa.

“Kami pernah mengusulkan bantuan kursi roda untuk Fitriani, namun sampai sekarang belum terealisasi. Kondisi keluarga tersebut sangat memprihatinkan. Ibunya meninggalkan mereka pergi ke Malaysia akibat tidak tahan dengan kondisi keluarga,” kata Maimun.

Kepada Darmawan dan Tgk Fadli, Adik Fitriani, Heri Mayanda, menjelaskan bahwa setiap hari ia memandikan Fitriani di dalam kamar tersebut. Kamar tersebut bukan hanya digunakan untuk tidur saja. Fitriani saat mau buang air kecil maupun besar, langsung di dalam kamar tersebut. Akibatnya kamar tersebut menjadi bau dan tidak layak untuk dihuni. Namun apa hendak dikata, itulah yang dapat dilakukan Heri dan keluarganya.

“Untuk makan, kami menunggu apa yang dibawa pulang Ayah. Jika Ayah membawa pulang ikan misalnya, maka saya langsung memasak untuk dimakan bersama keluarga. Jika Ayah tidak membawa pulang apa-apa, maka kami tidak makan,”ungkap Heri.

Darmawan mencoba berdialog dengan Fitriani. Fitriani hanya dapat berdoa semoga penyakit yang dideritanya dapat segera sembuh. Fitriani mengaku sangat mengharapkan bantuan dari donatur agar dapat mengobati penyakitnya dan merehab rumahnya yang tidak layak huni tersebut. Semoga ada donatur atau para dermawan yang mau membantu penderitaan Fitriani dan keluarganya.

Bagi para donatur yang ingin membantu meringankan beban Fitriani dan keluarganya, dapat menghubungi ketua IGI Kota Lhokseumawe pada nomor 081360350319. Ketua IGI Kota Lhokseumawe itu berjanji akan selalu mengupdate secara transparan setiap donasi yang diterima melalui media sosialnya. (*)

Editor: Ami

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *