Jum. Jul 1st, 2022
Number Sense dalam Penyelesaian Permasalahan Numerasi

Oleh: Arhamni,  M.Pd

Ahli psikologi mendefenisikan karakter adalah sebuah sistem keyakinan serta kebiasaan yang mengarahkan tindakan seseorang individu, karakter seseorang dapat diketahui dari bagaimana cara seseorang berpikir, bersikap dan bertindak dalam kondisi-kondisi tertentu.  Pendidikan karakter adalah  pendidikan yang diberikan kepada peserta didik sehingga peserta didik memiliki cara berpikir dan berprilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan berkerjasama, baik dalam lingkungan keluarga.

Pendidikan karakter sekarang ini menjadi program yang digalakkan oleh pemerintah, dengan tujuan dari pemberlakuan pendidikan karakter dapat menghadapi  serta mengatasi  berbagai  krisis moral yang sedang melanda negeri kita ini. Dari berbagai media di tahun 2016 kita mengetahui terjadinya krisis karakter dikalangan remaja yang masih berstatus sebagai peserta didik, terdapat kasus pelecehan seksual, pornografi, pembunuhan, penyalahgunaan narkoba, aborsi serta tawuran. Hasil penelitian Yayasan Kesuma Buana (dalam http:/www.acicis.murdoch.edu.au, diakses pada 10 Maret 2012) “menunjukkan bahwa sebayak 10.3% dari 3,594 remaja di 12 kota besar di Indonesia telah melakukan hubungan seks bebas”, berdasarkan penelitian diberbagai kota besar di Indonesia, sekitar 20 hingga 30 % remaja mengaku pernah melakukan hubungan seks bebas. Data dari DIT TPN Bareskrim Polri dan BNN pada Januari 2013 yang data tersebut dikumpulkan dari tahun 2008 s/d 2012, terdapat 12,30% peserta didik SD, 24, 84% peserta didik SMP dan 60,13 %  peserta didik SMA menjadi tersangka penyalahgunaan Narkoba. Data-data tersebut diatas hanyalah gambaran kecil yang mungkin masih banyak hal yang tidak kita ketahui yang dilakukan oleh para generasi kita.

Istarani  (2012) menyatakan pendidikan karakter bertujuan penanaman nilai dalam diri peserta didik dan pembaharuan tata kehidupan bersama yang lebih menghargai kebebasan individu. Pendidikan karakter bertujuan meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah  yang mengarah pada pencapaiaan pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh.  Pendidikan karakter juga bertujuan agar peserta didik secara mandiri dapat meningkatkan dan menggunakan pengetahuaanya, mengkaji dan mewujudkan nilai-nilai akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari.

Dicky (2013) menyatakan tujuan pendidikan karakter adalah untuk menciptkan kebahagian dunia akhirat, kesempurnaan jiwa bagi individu akan menciptakan kebahagiaan, kemajuaan, kekuatan dan keteguhan masyarakat. Pendidikan karakter bukan hanya bertujuan menguatkan peserta didik dalam sebuah komunitas yang sedikit, namun lebih dari dari itu karena peserta didik juga bagian dari masyarakat.

Soemarno (2010) menyatakan tujuan pendidikan karakter yaitu: membangun jati diri anak bangsa yang dibarengi  pemberian teladan oleh para pemimpim di semua bidang dan tingkatan ketahanan individu dan ketahanan nasional demi mewujudkan cita-cita yaitu bangsa dan negara Indonesia yang makmur, berkeadilan sosial, bersatu, maju, kuat dan berdaulat berdasarkan nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Pancasila.  Pendidikan karakter bertujuan membangun karakter peserta didik sebagai generasi  bangsa yang terakumulasi menjadi karakter bangsa.

Menurut  Sriyono (2010) pendidikan karakter bangsa diidentifikasi dari sumber-sumber berikut ini :

1) Agama: masyarakat Indonesia adalah masyarakat beragama. Kehidupan individu, masyarakat dan bangsa selalu didasari pada ajaran agama dan kepercayaannya. Secara politis, kehidupan kenegaraan pun didasari pada nilai-nilai yang berasal dari agama. Atas dasar pertimbangan itu, maka nilai-nilai budaya dan karakter bangsa harus didasarkan pada nilai-nilai dan kaidah yang berasal dari agama.

2) Pancasila: negara kesatuan Republik Indonesia ditegakkan atas prinsip-prinsip  kehidupan kebangsaan dan kenegaraan yang disebut Pancasila. Pancasila terdapat pada Pembukaan UUD 1945 dan dijabarkan lebih lanjut dalam pasal-pasal  yang terdapat dalam Pembukaan UUD 1945. Artinya nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila menjadi nilai-nilai yang mengatur kehidupan politik, hukum, ekonomi, kemasyarakatan, budaya dan seni. Pendidikan budaya  dan karakter bangsa bertujuan mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara yang lebih baik, yaitu warga negara yang memiliki kemampuan, kemauan dan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupannya sebagai warga negara.

3) Budaya: sebagai suatu kebenaran bahwa tidak ada manusia yang hidup bermasyarakat yang tidak didasari oleh nilai-nilai budaya yang diakui masyarakat itu. Nilai-nilai budaya itu dijadikan dasar dalam pemberian makna terhadap suatu konsep dan arti dalam komunikasi antar anggota masyarakat tersebut. Posisi budaya yang demikian penting dalam kehidupan masyarakat mengharuskan budaya menjadi sumber nilai dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa.

 4) Tujuan Pendidikan Nasional: sebagai rumusan kualitas yang harus dimiliki setiap warga negara Indonesia, dikembangkan oleh berbagai satuan pendidikan di berbagai jenjang dan jalur. Tujuan pendidikan nasional memuat berbagai nilai kemanusiaan yang harus dimiliki warga negara Indonesia. Oleh karena itu, tujuan  pendidikan nasional adalah sumber yang paling operasional dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa.

Sekolah sebagai tempat belajar bagi generasi penerus merupakan tempat yang strategis untuk pembinaan terhadap karakter. Sebagai salah seorang guru pada SMK Negeri Penerbangan Aceh peneliti selama ini bersama rekan-rekan guru juga sering membicarakan serta berdiskusi tentang karakter peserta didik SMK Negeri Penerbangan, selama ini SMK Negeri Penerbangan sebagai sekolah berasrama sering menghadapi masalah-masalah diantaranya: ada peserta didik yang sering kehilangan uang, ada peserta didik yang mengeluhkan perlakuan temannya yang kurang menyenangkan, ada peserta didik yang sering minta pulang dengan alasan sakit padahal setelah ditelusuri dan komunikasi dengan orang tua tidak sakit, ada peserta didik yang sering tidur dikelas saat belajar, ada peserta didik yang kedapatan membawa HP ke sekolah padahal peraturan sekolah melarang membawa HP, ada peserta didik yang kedapatan oleh guru sedang merokok bersama,  ada peserta didik yang berbohong saat waktunya shalat dengan alasan haid, ada peserta didik yang tidak bertanggungjawab saat diberikan tanggungjawab sebagai piket harian untuk membersihkan kelas, dan pernah terjadi perselisihan antara sesama peserta didik  karena sebagian merasa tidak dihargai oleh temannya.

Hasil diskusi peneliti dengan guru BK, banyak juga kasus ditemukan  mengidentifikasikan karakter peserta didik SMK Negeri Penerbangan 75 % peserta didik  terindikasi belum  memiliki karakter jujur, 65%  peserta didik terindikasi  belum memiliki karakter disiplin, 85% peserta didik terindikasi belum memiliki karakter kerja keras, 85%  peserta didik terindikasi  belum memiliki karakter peduli lingkungan, 85%  peserta didik terindikasi  belum memiliki karakter tanggung jawab, masalah tersebut tentunnya perlu dilakukan upaya pembinaan yang terpogram.  Dalam hal ini penuli sebagai guru pada SMK Negeri Penerbangan merasa harus juga bertanggung jawab untuk memperbaiki karakter peserta didik ini, walaupun peneliti bukan guru agama, bukan guru BK dan bukan guru PPKn. Menurut peneliti,  masalah karakter serta upaya perbaikan bukan hanya tanggung jawab rekan-rekan guru agama,  guru BK dan guru PPKn, guru Matematika juga harus bersama-sama mengambil peran dalam melakukan upaya perbaikan terhadap karakter peserta didik, agar peserta didik menjadi generasi yang memiliki  karakter yang baik, sehingga  akan menjadikan Indonesia dihormati ditataran dunia.

Mohammad Rohman (2012) menyatakan tujuan pendidikan karakter bangsa adalah untuk mengembangkan potensi kalbu peserta didik sebagai manusia dan warga negara yang memiliki nilai-nilai budaya dan karakter bangsa, memgembangkan kebiasaaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya  bangsa yang religius, menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab peserta didik sebagai generasi penerus bangsa, mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif, berwawasan kebangsaan, mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, serta dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan (dignity). Berikut nilai-nilai serta deskripsi dari karakter ;

NILAI DESKRIPSI
1.    Religius Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
2.    Jujur Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan dan pekerjaan.
3.    Toleransi Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap dan tindakan orang lain yang yang berbeda dari dirinya.
4.    Disiplin Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
5.    Kerja Keras Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas serta  menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.
6.    Kreatif Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.
7.    Mandiri Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
8.    Demokratis Cara berpikir, bersikap dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
9.    Rasa Ingin Tahu Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajari, dilihat dan didengar.
10.  Semangat Kebangsaan Cara berpikir, bertindak dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
11.  Cinta Tanah Air Cara berpikir, bersikap dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi dan politik bangsa.
12.  Menghargai Prestasi Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat dan mengakui serta menghormati keberhasilan orang lain.
13.  Bersahabat/Komunikatif Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul dan bekerja sama dengan orang lain.
14.  Cintai Damai Damai Sikap, perkataan dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang  dan aman atas kehadiran dirinya.
15.  . Gemar Membaca Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan dirinya.
16.  Peduli Lingkungan Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam sekitarnya dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
17.  Peduli Sosial Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
18.  Tanggung -jawab Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan  kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.

Berpedoman pendapat tersebut diatas maka disusunlah buku saku yang sekaligus menjadi buku control terhadap perkembangan pendidikan karakter peserta didik pada SMK Negeri penerbangan Aceh.

Definisi dari Buku Saku menurut kamus Bahasa Indonesia adalah: buku berukuran kecil yang dapat dimasukkan ke dalam saku dan mudah dibawa ke mana-mana. Menurut Hizair (2013) buku saku merupakan sebuah buku berukuran kecil yang dapat disimpan dalam saku dan mudah dibwa kemana-mana.Andi Prastowo dalam Catur Susanto (2015) menyatakan penyusunan buku saku memiliki arti penting bagi kegiatan pembelajaran bagi peserta didik.  Dari pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa buku saku adalah buku yang berukuran tidak besar dalam makna dapat dimasukkan kedalam saku serta pada buku tersebut  berisikan catatan-catatan penting dari sebuah materi yang dibahas serta merupakan hasil analisa dalam bentuk tertulis.

Pembuatan buku saku  dapat diadopsi dari cara pembuatan  modul, baik dari fungsi, tujuan serta kegunaanya. Fungsi buku saku diantaranya yaitu sebagai salah satu bentuk bahan ajar mandiri bagi peserta didik. Tujuan dari adanya buku saku yaitu: agar peserta didik dapat belajar sendiri secara mandiri tanpa atau dengan bimbingan pendidik, sehingga peserta didik mampu mengembangkan kemampuan kognitif dan afektifnya. Dalam hal ini perkembangan yang diharapkan dengan adanya Buku Saku Pendidikan Karakter adalah perkembangan karakter yang baik. Sedangkan kegunaan Buku Saku Pendidikan Karakter antara lain sebagi penyedia informasi dasar tentang pendidikan karakter, sebagai bahan instruksi atau petunjuk bagi peserta didik dalam melaksanakan aktivitas yang berhubungan dengan upaya perbaikan karakter dan juga berguna sebagai bahan pelengkap dengan ilustrasi serta komunikasi tertulis antara peserta didik dan guru-guru dalam melakukan control serta evaluasi.

Menurut Andi Prastowo yang dikutip oleh Catur Susanto (2015) dalam setiap penyusunan buku teks pelajaran, buku yang baik adalah buku yang memiliki minimal  tiga ciri yaitu; (1) menggunakan bahasa yang baik dan mudah dimengerti, (2) penyajian menarik dan dilengkapi dengan gambar beserta keterangan yang lengkap, (3) isi atau kandungannya disusun berdasarkan kurikulum atau tafsiran tentang kurikulum yang berlaku.

Mohammad (2010) standar penilaian terhadap sebuah buku dikatakan baik adalah: memiliki standar buku teks yaitu meliputi kelengkapan materi, keakuratan materi, kegiatan yang mendukung materi, kemutahiran materi, upaya untuk meningkatkan kompetensi peserta didik. Selain itu buku yang baik memenuhi standar penyajian dimana dalam buku meliputi organisasi penyajian umum, organisasi penyajian perbab, penyajian mempertimbangkan kebermaknaan dan kebermanfaatan, melibatkan peserta didik secara aktif, mengembangkan proses pembentukan pengetahuan, tampilan umum, variasi dalam cara penyampaian serta memperhatikan kesetaraan gender. Standar berikutnya yaitu memenuhi standar keterbacaan yang meliputi penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Berdasarkan pendapat para ahli tersebut maka Buku Saku Pendidikan Karakter disusun dengan berpedoman pada kaidah-kaidah yang tersebut diatas.

Kelebihan Buku Saku Pendidikan Karakter

Menurut Zainudin (1997) buku saku merupakan sumber belajar yang masuk dalam katagori media cetak, buku saku memiliki beberapa keunggulan diantaranya:

  • Dapat secara aktif membantu proses belajar mandiri, karena peserta didik dapat menggunakan waktu menurut yang mereka inginkan, peserta didik juga dapat menentukan tempat serta kesempatan belajar, serta peserta didik dapat membaca berulang-ulang.
  • Lebih mudah dibawa dan diproduksi.
  • Dapat meliputi pengetahuan yang lebih luas dan dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan.
  • Meningkatkan pemahaman dan penalaran.

            Azhar (2006)    juga menyampaikan kelebihan dari media cetak diantaranya yaitu:

  • Peserta didik dapat belajar dan maju sesuai dengan kecepatan masing-masing.
  • Peserta didik dapat mengulangi materi dalam media cetakan dan peserta didik akan mengikuti pikiran secara logis.
  • Panduan teks dan gambar dapat menambah daya tarik serta dapat memperlancar pemahaman informasi yang disajikan dalam dua format yaitu: format verbal dan visual.
  • Khusus pada teks terpogram, peserta didik akan  berpartisipasi atau berinteraksi dengan aktif karena harus memberi respon terhadap pertanyaan dan latihan yang disusun, peserta didik dapat segera mengetahui apakah jawaban benar atau salah.
  • Media cetak dapat diperbanyak dengan ekonomis dan didistribusikan dengan mudah.

Berdasarkan pendapat tersebutlah  penulis merancang Buku Saku  Pendidikan Karakter yang berisi  materi-materi tentang informasi mengenai karakter secara lebih jelas, dan karakter bagaimana yang harus dimiliki serja dilaksanakan  oleh peserta didik secara berkelanjutan, sehingga peserta didik memiliki karakter-karakter yang baik seperti yang diharapkan dari pemberlakuan pendidikan karakter yang mencerminkan generasi bangsa Indonesia, karena Buku Saku Pendidikan Karakter juga terdapat lembar aktivitas karakter yang dapat diisikan oleh peserta didik dan juga lembar kontrol serta evaluasi yang di isi oleh guru-guru, wali kelas, Poltar, dan juga orang tua.  Berikut buku saku pendidikan karakter:

Semoga tulisan ini dapat memberikan inspirasi buat kita para pendidik dalam mengembangkan sistem penguatan pendidikan karakter pada lembaga-lembaga pendidikan, keluarga serta masyarakat.

Penulis adalah guru SMKN Penerbangan Aceh dan fungsionaris IGI Aceh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *