Jum. Sep 24th, 2021
Number Sense dalam Penyelesaian Permasalahan Numerasi

Oleh: Arhamni, M.Pd

Andreas Schleicher dari OECD menuliskan kemampuan numerasi yang baik merupakan proteksi terbaik dalam memahami suatu pemecahan masalah yang berhubungan dengan operasi matematis yang berupa kali, bagi, tambah dan kurang yang sering diistilahkan dengan sebutan KABATAKU. Keterampilan numerasi dibutuhkan dalam semua aspek kehidupan, baik di rumah, di pekerjaan, maupun di masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, ketika berbelanja atau merencanakan liburan, meminjam uang dari bank untuk memulai usaha atau membangun rumah, semuanya membutuhkan numerasi.

Dalam kehidupan bermasyarakat, kita perlu memahami informasi-informasi, misalnya, mengenai kesehatan dan kebersihan. Dalam kehidupan bernegara, informasi mengenai ekonomi dan politik tidak dapat dihindari. Semua informasi tersebut biasanya dinyatakan dalam bentuk numerik atau grafik. Untuk membuat keputusan yang tepat, mau tidak mau kita harus bisa memahami numerasi.

Ketika kita menguasai numerasi, kita akan memiliki kepekaan terhadap numerasi itu sendiri (sense of numbers) dan kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Ketika kita mampu menerapkan kepekaan tersebut, kita akan menjadi bangsa yang kuat karena mampu memelihara dan mengelola sumber daya alam dan mampu bersaing dengan bangsa- bangsa lain dari segi sumber daya manusia.

Soal-soal Numerasi sudah mulai  dijadikan sebagai alat tes dalam penyeleksian serta penyaringan untuk mendapatkan peluang pekerjaan serta melanjutkan studi, pengalaman saya baru-baru ini mengikuti seleksi untuk mendapatkan beasiswa melanjutkan studi dilakukan tes tulis berupa soal-soal Numerasi, tentunya dalam menyelesaikan soal Numerasi ini ada beberapa strategi yang kita perlukan, strategi kepekaan terhadap bilangan  sangat  diperlukan, strategi ini sering diistilahkan dengan sebutan  Strategi  Number Sense.

Dalam tulisan kali ini saya akan memperkenalkan serta menguraikan sedikit tentang strategi Number Sense. Dalam menyelesaikan permasalahan Numerasi ada beberapa hal yang bisa kita gunakan sebagai acuan diantaranya yaitu;

Pertama, Number Magnitude (besaran jumlah): memahami besaran jumlah merupakan komponen penting dari menyelesaikan sola numerasi. Memahami besarnya bilangan melibatkan pemahaman konsep nilai tempat, kemampuan untuk membandingkan bilangan, dan kemampuan untuk mengidentifikasi jumlah antara dua bilangan yang diberikan. Misalnya, seseorang yang telah memahami besaran bilangan dengan mudah memahami bahwa 0,05 lebih besar dari 0,025. Jika diberikan dua bilangan seperti 2,24 dan 2,25, dengan number sense yang baik kita mampu melihat bahwa ada bilangan tak terbatas antara keduanya (kepadatan desimal). Memahami besaran bilangan memungkinkan kita untuk fleksibel membandingkan pecahan seperti 7/11 dan 7/8, dan 18/19 dan 15/16.

Kedua, Benchmarking (patokan): patokan merupakan sebuah kompas yang menjadi sarana berharga untuk navigasi, karena patokan numerik merupakan hal penting sebagai acuan mental untuk berpikir tentang angka. Sebagai contoh, dengan menggunakan 1/2 sebagai patokan, jumlah 2/5 dan 9/20 harus lebih dari 1/2 karena masing-masing angka dekat dengan 1/2. Demikian pula, dengan menggunakan 50% (atau setengah) sebagai patokan, 48% dari 300 harus sekitar setengah dari 300 atau 150. Dalam hal ini, menunjukkan bahwa patokan seperti 10% dan 50% pada dasarnya harus diberikan perhatian khusus sebelum menyelesaikan permasalahn numerasi yang berhubungan dengan persen.

Bergantung sepenuhnya pada aturan (algoritma) mungkin tidak membantu kita dalam memecahkan masalah seperti berikut ini: letakkanlah tanda koma dengan benar pada jawaban: 115,4 x 0,325 = 37505. Secara aturannya adalah menghitung angka dibelakang koma, setelah angka-angka desimal dikalikan, maka aturan tersebut akan memberikan jawaban 3,7505 dengan sebuah pemikiran bahwa ada empat angka dibelakang koma. Keitika kita memiliki number sense yang baik kita  tidak akan menerima jawaban ini, karena jawabannya harus kurang dari 115,4. Penggunaan patokan akan memunculkan suatu penalaran pemecah masalah untuk memutuskan bahwa jawaban yang benar haruslah 37,505.

Ketiga, Estimation, Mental Computation, and Judging Reasonableness (estimasi, perhitungan mental, dan menilai kewajaran): sebuah aspek penting dari numerasi yaitu: penggunaan strategi yang tepat secara fleksibel untuk memecahkan masalah. Kemampuan untuk memperkirakan adalah alat yang berguna yang memfasilitasi pemecahan masalah. Perhitungan mental adalah saran yang kuat untuk melakukan perhitungan numerasi dalam memecahkan masalah. Kedua kemampuan tersebut mampu digunakan secara terpisah atau dalam kombinasi tergantung situasi. Penggabungan keduanya membantu pemecahan masalah berada dalam posisi yang lebih baik untuk menangani dengan nyaman dalam situasi yang sulit. Kemampuan untuk menilai kewajaran hasil sangat penting dalam menyelesaikan soal numerasi karena mendorong refleksi hasil dan proses yang digunakan untuk menghasilkan jawaban.

Keempat, Relatif Effect of Operations (pengaruh relatif operasi), komponen ini merupakan komponen yang juga penting dalam menyelesaikan soal numerasi, karena komponen berkenaan dengan bagaimana operasi matematika mempengaruhi angka. Hal ini membutuhkan pemahaman hubungan antara penambahan dan pengurangan serta hubungan antara perkalian dan pembagian. Pengalaman dengan operasi pada bilangan bulat menyebabkan kita merasa bahwa perkalian membuat angka menjadi “besar” dan pembagian membuat angka “kecil”. Pemahaman dari dampak operasi ini tidak membantu kita pada saat pengoperasian desimal atau pecahan. Ketika berhitung dengan desimal misalnya, mengalikan desimal membuat jawabannya lebih kecil dan membaginya dengan desimal membuatnya lebih besar. Dalam masalah seperti ini mana yang lebih besar 830,05 atau 830,025?. Pada penyelesaian ini kita harus memutuskan dua hal: pertama, kita harus menentukan pembagian yang lebih besar, 0,05 atau 0,025, dan kedua, menentukan apakah pembagian yang lebih kecil atau yang lebih besar yang memberi hasil yang lebih besar.

Kelima, Decomposition or Recompositionof Numbers (dekomposisi atau pengkomposisian ulang bilangan), adalah komponen dari fleksibilitas dalam berhitung dengan bilangan. Kita harus mampu mengurai dan mengkomposisikan ulang bilangan dengan mengekspresikan bilangan dalam bentuk setara untuk memfasilitasi perhitungan mental dan pemecahan masalah. Sebagai contoh, ketika berhadapan dengan masalah seperti berikut ini: manakah lebih besar 28×.52 atau 30×.50. Dalam menyelesaikan masalah ini kita harus memahami dekomposisi dan rekomposisi bilangan, dan memahami efek operasi pada bilangan. Sebagai contoh, 28×52 mampu dianggap sebagai 28x(50 +2), dan 30×.50 mampu dianggap sebagai (28 +2)x50. Sekarang, dalam membandingkan 28×(50 +2) dan (28 + 2)×50, kita harus memahami bahwa 28×.50 ada di kedua kuantitas. Oleh karena itu, perbandingan itu benar-benar 28×.2 dan 2 ×.50. Prosedur ini, tentu saja mampu dilakukan secara mental.

Hal-hal tersebut diatas akan  membantu kita dalam memahamai permasalah numeras dan  mampu membuat pemecahan masalah dengan  lebih mudah serta keakuran dengan lebih baik. Memiliki numerasi yang baik akan berdampak bagus bagi seseorang dalam berfikir untuk memecahkan permasalahan-permasalahn kehidupan sehai-hari dengan  cara pengambilan penyelesaiaan serta keputusan lebih terstruktur, efektif dan efesien, mari kita tingkatkan cara berfikir kita dengan cara melatih otak kita menyelesaikan permaslahan-permaslahan menggunakan konsep number sense dalam menyelesaikan permaslahan numerasi. (*)

Penulis adalah guru SMKN Penerbangan Aceh dan fungsionaris IGI Aceh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *