Rab. Okt 27th, 2021

Oleh: Cut Hani Safira, S.Si.

Perkembangan teknologi semakin melejit sejak awal abad ke 20 sampai dengan sekarang. Mulai dari alat komunikasi sampai transportasi sudah memiliki inovasi yang semakin canggih. Inovasi-inovasi teknologi yang sedang berkembang berpengaruh sangat besar kepada aspek-aspek kehidupan yang kita jalani saat ini. Mulai dari aspek ekonomi, interaksi sosial, hingga kepada aspek pendidikan. Hal tersebut juga berpengaruh pada gaya hidup manusia yang harus mengikuti kecanggihan teknologi yang ada. Sehingga beberapa hal ikut berubah seiring dengan perubahan yang terjadi di sekitar kita.

Dari aspek ekonomi bisa kita lihat di zaman sekarang ini orang tidak perlu lagi keluar rumah untuk membeli sesuatu. Dulu jika ingin berbelanja, maka kita harus ke pasar atau pusat perbelanjaan dan melakukan interaksi langsung dengan para penjual. Tetapi di zaman sekarang ini cukup dengan touch and scroll di layar handphone, semua kebutuhan bisa terpenuhi. Pembeli dan penjual tidak perlu lagi berinteraksi secara langsung, dan tidak perlu jauh-jauh ke luar kota untuk mencari barang-barang tertentu.

Selain transaksi ekonomi, interkasi sosial juga mengalami perubahan. Di zaman dulu orang-orang harus menulis surat untuk bertegur sapa dengan kerabat, menggunakan telepon umum untuk berkomunikasi, dan anak-anak akan bermain di sekitar rumah untuk menikmati waktu bermain mereka. Sekarang semua kebiasaan-kebiasaan itu sudah jarang sekali ditemui. Untuk mengirimkan informasi dan bertegur-sapa cukup dengan menggunakan sosial media. Jika ingin berkomunikasi dengan kerabat jauh cukup dengan video call. Sedangkan untuk menikmati waktu bermain anak-anak lebih senang bermain game online melalui gadget mereka. Apakah semua kebiasaan baru itu salah? Tentu tidak, asalkan dapat digunakan secara positif dan tidak menganggu hubungan interaksi sosial tersebut.

Lalu apa perubahan yang dialami oleh dunia pendidikan di zaman sekarang ini? Kasus yang banyak kita temui sekarang ialah kebosanan siswa dalam belajar. Mereka sudah terbuai dengan konten-konten menarik yang tersedia di smartphone sehingga sedikit abai terhadap pendidikan. Guru-guru sudah kalah dengan para youtubers, dan buku pelajaran sudah dikalahkan oleh media sosial. Lantas apa yang harus dilakukan oleh para guru agar peran mereka tidak tergantikan oleh perubahan tersebut?

Hal mendasar yang perlu dilakukan guru di zaman milenial ini adalah guru harus bisa menarik perhatian siswa. Bagaimana caranya, apakah seorang guru harus berpenampilan layaknya remaja zaman sekarang? Atau harus mahir dalam bermain game online? Tentu tidak. Para guru bisa belajar dari para youtuber yang bisa menyajikan konten-konten menarik dalam video mereka. Hal tersebut membuat remaja sekarang lebih betah berlama-lama menonton video di Youtube dari pada membaca buku pelajaran. Menghadapi perubahan itu, para pendiri lembaga bimbingan belajar online juga sudah banyak bermunculan. Mereka menyediakan video-video pembelajaran yang menarik agar siswa berminat untuk belajar. Lalu bagaimana peran guru? Hal yang paling mendasar yang bisa dilakukan oleh seorang guru untuk mengikuti perkembangan tersebut ialah dengan menyajikan materi pembelajaran menggunakan digital education platform, yaitu sebuah platfom digital yang terkoneksi dengan internet dan dapat digunakan oleh guru untuk menunjang pembelajaran bagi siswa. Banyak video tutorial yang bisa kita akses untuk mempelajari hal tersebut.

Selain menyajikan media pembelajaran online, cara menarik perhatian siswa milenial ialah dengan menjadi guru yang friendly. Bukan jamannya lagi menjadi guru killer yang membawa penggaris kayu panjang ke dalam kelas, menghukum siswa dengan cara menyuruh mereka berdiri di depan kelas sambil menarik telinga mereka, atau menjemur mereka di terik matahari jika tidak membuat pekerjaan rumah. Saat ini siswa membutuhkan guru yang bisa menjadi teman, bukan hanya sebagai pendidik. Guru yang bisa diajak diskusi, bukan hanya menasehati. Jika hal-hal klasik tersebut masih diterapkan oleh guru di zaman sekarang, maka apa yang akan terjadi? Para siswa pasti akan semakin memberontak dan menganggap bahwa belajar tidak menyenangkan.

Rasulullah SAW pernah bersabda: “Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu” – Ali bin Abi Thalib. Dari hadist tersebut Rasulullah sudah mengamanahkan kepada para pendidik untuk bisa mendidik siswa sesuai dengan perkembangan zaman kehidupan mereka. Sekarang zamannya serba digital, siswa pun lebih tertarik media belajar yang digital. Bukan zamannya lagi mereka menghafal perkalian dengan buku perkalian atau poster perkalian yang ditempel di dinding rumah. Tapi mereka akan lebih tertarik untuk menghafal melalui video di Youtube misalnya. Sekarang juga zaman yang serba praktis, semua bisa diakses melalui Google dan media daring. Jadi bukan zamannya lagi siswa harus mencatat materi sampai penuh beberapa halaman di buku tulis. Jika hal-hal klasik seperti itu masih diterapkan, maka siswa akan mengalami bosan dalam belajar.

Cara terkini lainnya untuk mengatasi rasa jenuh belajar pada siswa ialah melalui learning by doing. Pasti para guru dihadapi pada pertanyaan “Bu, kita belajar ini untuk apa?” pertanyaan sederhana itu sering muncul terutama dipelajaran matematika, fisika, dan kimia yang dominan diisi dengan rumus-rumus. Cara yang bisa dilakukan oleh para guru ialah menjelaskan terlebih dahulu tentang penerapan materi pembelajaran yang akan diajarkan dan mengajak siswa untuk melakukan percobaan sederhana yang berkaitan dengan pembelajaran tersebut. Hal sederhana seperti itu akan membuat siswa lebih berminat untuk belajar, karena siswa zaman sekarang ingin berperan aktif dan tak mau menjadi pribadi yang pasif.

Jangan menuntut siswa untuk menjadi seperti gurunya di zaman dahulu, karena mereka hidup di zaman sekarang. Para guru sudah saatnya memodernisasi pembelajaran sesuai kapasitasnya dan menjalani kehidupan sesuai dengan perubahan zamannya. Generasi milenial inilah yang akan menjadi penerus bangsa, dan kita tidak pernah tau perkembangan apalagi yang akan terjadi di masa mendatang. Karena pendidikan merupakan ujung tombak perubahan, sebagaimana yang diungkapkan oleh Nelson Mandela “Pendidikan adalah senjata paling mematikan di dunia, karena dengan pendidikan anda bisa mengubah dunia. (*)

Penulis adalah Guru SMP Sukma Bangsa Lhokseumawe.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *