Rab. Okt 27th, 2021

Oleh: Nurul Pachna, S.Pd.I

 

Rahmat, begitulah namanya. Seorang anak kecil yang saya temui 3 tahun lalu usai melaksanakan tugas mengawas UN si salah satu sekolah dasar. Saya melihatnya berjalan sendiri menyisiri jalan depan sekolah yang banyak dilalui kendaraan, yang menurut saya tidak wajar untuk anak sekecil ini pulang sekolah harus berjalan atau pulang sendiri tanpa ada pengawasan orang dewasa. Saya berhenti  dan mencari informasi,dan ternyata cukup jauh perjalanan si anak untuk kembali pulang ke rumah. Saya memintanya untuk naik dan bermaksud mengantarnya.

Setelah 15 menit perjalanan, saya mulai ragu dan bertanya tentang rumahnya, “di sana, di sana” hanya kata-kata itu yang terlontar dari bibir mungil Rahmat. Melanjutkan perjalanan dan mulai tak terlihat hunian penduduk satupun. Hati mulai takut dan emosi. Saya menghentikan perjalanan dan bertanya  kembali. Kali ini dengan nada yang lumayan tinggi. Dengan santainya  ia  menjawab ”di sana bu”, ”tuyulkah ini?”, sempat terpikir seperti itu, tapi yakin pada hati bahwa ini adalah salah satu hal baik yang bisa saya lakukan padanya. Kembali melanjutkan perjalan dan alhamdulillah, akhirnya mulai terlihat hunian warga.

Hai, ngon soe kawoe?” –red: hai, pulang sama siapa?, terdengar panggilan kecil dari pinggir jalan. Seorang gadis yang ternyata kenal dengan Rahmat. Saya langsung menanyakan perihal tempat tinggal Rahmat dan langsung mengantarnya ke sebuah rumah yang kondisinya kecil, sangat sederhana, beratap daun rumbia, begitulah gambaran rumahnya. Langsung saya mengantarkannya ke sang ibu dan si anak langsung masuk kerumah dan memeluk ibunya. Ada hal menarik yang saya lihat setelah itu, Rahmat keluar dari kamar dengan baju kaos biru dan membantu melanjutkan perkerjaan ibunya yang sempat tertunda karena  kedatangan saya.

Apa itu? Kacang tanah. Si anak memasukkan kacang tanah yang telah digoreng ke dalam kemasan dan pamit pada sang ibu untuk berjualan. “begitulah setiap hari bu” kata si ibu. Dan itu di lakukan si Anak tanpa keluhan apapun. Saya pamit, dan tak sadar air mata mulai menetes.

Syukur, mungkin ini yang terlintas dalam benak dan hati saya. Bagaimana tidak, usia kecil saya dan anak saya saat ini tidak merasakan dan mengalami hal ini. Anak didik saya tak mengalami hal seperti Rahmat, mencoba berjalan kaki untuk pulang ke rumah karena tidak ada yang menjemput, harus berjualan di bawah terik matahari sampai sore dimana seharusnya ia harus beristirahat, bermain, dan belajar. Bagaimana tidak saya harus bersyukur untuk nikmat yang telah Allah berikan pada saya, anak saya, juga anak didik saya.

Tidak ada alasan dan syarat rasanya untuk saya menepis semua nikmat yang Allah berikan. Mungkin ini pengalaman dan cerita menarik yang akan saya ceritakan pada anak dan anak didik saya, agar mereka belajar untuk bersyukur dan menghargai setiap proses. Mulai dari proses orang tua mereka yang mencari nafkah, guru yang harus meninggalkan kelurga dan berjuang di jalan raya untuk belajar bersama mereka di sekolah, dan proses mereka untuk bisa masuk di sekolah yang mereka impikan. Bagaimana tidak, banyak di luar sana yang ingin belajar di sekolah yang bagus atau sekolah ternama di daerah mereka. Tapi apa, takdir berkata lain, banyak alasan yang membuat mereka harus tersingkir dan terpaksa mengurungkan niatnya untuk belajar bersama di sekolah impiannya.

Lalu, bagaimana dengan mereka yang sudah tercapai impiannya? haruskah menyia- nyiakan? Saya rasa tidak, mensyukuri setiap apa yang diberikan tuhan merupakan nilai baik yang harus kita tanamkan pada anak-anak kita, agar mereka dapat menghargai setiap nikmat yang Allah berikan dan menghargai setiap proses kehidupan dan tidak menyia-nyiakan  nikmat yang ada.

Dalam hal ini pula, guru harus ikut andil dan mempunyai peran penting untuk menanamkan nilai syukur pada peserta didik. Jadikan syukur sebagai paradigma  dalam pendidikan. Karena pada dasarnya pendidikan berkisar antara dua dimensi hidup, yaitu penanaman rasa taqwa kepada Allah dan pengembangan rasa kemanusiaan kepada sesama. Dengan demikian, pendidikan seharusnya mampu menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan universal (personality development) seperti masyarakat madani, atau berperadaban. Pada akhirnya, akan muncul penghargaan terhadap sesama manusia, toleran dan nondiskriminatif, dan salah satunya yaitu menghargai proses jalannya kehidupan dan pendidikan.

Contoh sederhana saja, di masa pandemi seperti ini yang mengharuskan siswa untuk belajar secara daring. Apakah semua pelajar memiliki perangkat pendukung pembelajaran daring? tentu  tidak. Banyak pelajar di daerah pendalaman atau mereka dari keluarga sederhana yang mengalami kendala dalam proses ini. Belum lagi mereka yang harus memanjat pohon untuk mendapatkan sinyal. Bisa dibanyangkan bagaimana proses pendidikan itu sangat sulit, tapi saya yakin tak sedikit dari mereka yang mempunyai semangat belajar yang tinggi.

Lalu bagaimana dengan pelajar yang berdomisili di daerah perkotaan atau mereka yang mendapatkan sinyal bagus. Syukurnya, mereka bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik. Tapi tak sedikit pula mereka mengabaikan tugas yang diberikan. Alasannya tentu banyak, dan game online mejadi salah satu penyebabnya. Tidak ada yang salah dengan ini, hanya saja waktu dan cara pemakaian berlebihan yang menjadi tidak tepat. Di saat masa pandemi yang  mengharuskan pelajar menggunakan handphone sebagai media belajar secara daring, tapi masih ada yang mempergunakannya untuk hal yang tidak bermanfaat. Sedangkan di tempat berbeda, pelajar yang di daerah pedalaman atau mereka yang berkehidupan cukup, harus memutar kepala untuk mencari jalan keluar agar tugas yang diberikan selesai. Apakah harus menjadi seseorang yang sukses agar diri kita menjadi orang yang bersyukur? Haruskan menjadi seseorang yang berkehidupan mewah untuk bersyukur? I don’t think so, karena saya yakin, tidak ada syarat apapun untuk menjadikan kita sebagai pribadi yang pandai bersyukur. Percayalah, bahwa mensyukuri apa yang kita miliki akan jauh lebih indah daripada memikirkan sesuatu yang belum kita miliki, karena tak semua orang memiliki nikmat yang sama seperti kita.

 

Penulis merupakan guru SMP Sukma Bangsa Lhokseumawe.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *