Kam. Mei 13th, 2021

Oleh : Fitriadi

 

Menjelang meugang perasaan pawang Jaka terus berkecamuk, hatinya mulai bimbang dengan sesekali menyeka air mata. Pikirannya terus menerawang jauh, mengingat ibunya yang tinggal sendirian dikampung halaman. Biasanya setiap bulan pawang Jaka mengirimkan sedikit penghasilannya dari melaut untuk Ibunya yang tinggal sebatang kara di Kampung, tapi sudah tiga bulan ini dia tidak pulang karena tidak ada ikan yang didapatnya.

Tidak ada harapan bagi pawang Jaka menjelang Meugang ini, cuaca yang tidak bersahabat membuat dia harus pasrah menunggu nasib. Sebenarnya untuk kebutuhan dirinya, hal ini tidak masalah karena dia masih bisa mengutang di warung depan. Namun bukan itu yang membuat dirinya terus bersedih. Hatinya sedih karena terus mengingat nasib ibunya di kampung, dia tidak bisa membayangkan ketika ibunya harus mencium aroma “Sie Ruboh” dan juga “Masak Puteh” dari rumah tetangganya.

Pawang Jaka terus menghayal jauh, dia membayangkan Ibunya yang sudah tua menunggunya dipintu rumah, ibunya yang sedang menunggu anaknya pulang merantau menjinjing sedikit daging, beberapa botol sirup cap patong sebagai persiapan puasa esok hari. Namun anak yang ditunggunya tidak kunjung datang walaupun hari sudah menjelang petang.

Jaka terus membathin, sambil sesekali menyeka air mata mengingat ibunya di kampung yang sedang menunggunya pulang. Namun dia harus pasrah pada kenyataan, tiga bulan melaut tidak didapatkanya ikan sehingga dia tidak bisa pulang menjeguk ibunya di hari meugang.

Matahari sedikit demi sedikit menenggelamkan diri dan digantikan oleh cahaya bulan dan juga bintang, dipandangi indahnya langit, perpaduan warna yang sungguh menakjubkan. Terbesit di hatinya, andai cuaca membaik di tiga bulan ini, sungguh aku akan bisa mendapatkan uang untuk dibelikan daging meugang untuk ibu.

Jaka tidak sadar matanya sudah lembab dengan air mata, apalagi dia ingat pesan Ayahnya sebelum meninggal, Nak jaga ibumu dengan baik, rawat dia seperti dia merawatmu ketika kecil, ibumu tidak pernah marah kepadamu dan dia begitu sayang kepadamu, dia rela tidak makan ketika nasinya hanya cukup untukmu, dia rela menahan diri agar bisa membelimu daging meugang agar kamu tidak bersedih ketika anak-anak lain seusiamu menikmatinya bersama keluarga mereka.

Pesan sang Ayah membuat dia makin terenyuh mengingat nasib Ibunya, dia tidak yakin tetangga belakang rumah akan datang mengantar “Sie Puteh” untuk Ibunya, namun dia terus membathin mengingat Ibunya yang sudah tua menunggunya pulang, sambil berkata “Nak, Ibu baik-baik saja, kamu tidak perlu risau bila tidak bisa membawa daging meugang untuk ibu, kamu datang menjeguk ibu itu sudah melebihi dari segalanya”.

*Penulis merupakan Pegiat Literasi IGI Aceh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *