Rab. Okt 27th, 2021
Pemantik

Oleh: Siti Sarayulis, S.I.Kom., M.A.

Apabila kita kehilangan harta, sebenarnya tidak ada yang hilang. Apabila kita kehilangan kesehatan, ada sesuatu yang hilang, dan apabila kita kehilangan watak, segalanya akan hilang (Anonim).

Kutipan pembuka di atas membuat kita memahami bahwa karakter merupakan penentu dalam berkhidmat di mana pun. Membangun karakter membutuhkan proses yang tidak habisnya. Berkiprah di manapun tidak terlepas dari kerikil-kerikil masalah, tentunya membutuhkan kebiasaan-kebiasaan baik yang telah dilatih secara terus menerus. Habitual positif yang telah berbudaya pada diri masing-masing individu menjadi pelatuk  dalam mengambil tindakan apapun.

Lingkungan sekolah, di mana anak-anak menghabiskan sebagian besar waktunya untuk beraktifitas, baik belajar maupun bermain menjadi pertimbangan para orang tua untuk memilihnya. Jika ini sekolah dasar akan menaungi si anak hingga 6 tahun lamanya. Sedangkan sekolah menengah pertama dan atas akan ditempati si anak selama 3 tahun. Tahun menjadi hitungan, bukan hanya hari. Tentunya ini butuh pijakan yang kuat dari sisi orang tua ketika memutuskan ingin melanjutkan pendidikan anaknya ke sekolah manapun.

Lingkungan Positif

Terlepas dari pendidikan formal, keluarga juga menjadi pendukung dalam menyukseskan pendidikan. Keluarga menjadi sumber awal lingkungan tempat anak-anak belajar. Bobbi DePorter dan Mike Hernacki dalam bukunya Quantum Learning (2004:33) menuliskan bahwa pada usia empat tahun, struktur otak bagian bawah telah berkembang sebanyak 80 persen, dan kecerdasan yang lebih tinggi mulai berkembang; fungsi motor sensorik yang berkembang melalui kontak langsung dengan lingkungan, sistem emosional-kognitif yang berkembang melalui bermain, meniru, dan pembacaan cerita, serta kecerdasan yang lebih tinggi yang berkembang jika dirawat dengan benar.

Treatment yang tepat selama proses anak berkembang adalah hal yang diperlukan untuk mencapai tujuan, yaitu menciptakan generasi emas menghadapi era 2045; generasi yang mampu memahami dan menjaga 4 pilar negara, memiliki jiwa dan raga yang sehat sehingga mampu bersaing dengan bangsa lain, memiliki keahlian, keterampilan, dan profesionalisme yang tinggi di bidangnya, menguasai ilmu pengetahuan, mahir teknologi, dan mampu beradaptasi dengan segala inovasi pada masanya. Nah, di sinilah dibutuhkan lingkungan pendidikan yang menumbuhkan rasa senang dan semangat untuk belajar. Belajar banyak materi itu penting, tetapi hal yang lebih penting adalah mengajarkan cara belajar agar generasi emas ini mempunyai hasrat belajar terus menerus sepanjang hidupnya.

Lingkungan yang tepat dan sehat menjadi pendukung tumbuh anak menjadi pribadi yang sehat secara fisik dan emosional. Kartono dalam buku Menjadi Guru untuk Muridku (2011: 143) menuliskan bahwa temuan riset perihal kecerdasan emosional menyebutkan bahwa keberhasilan seseorang hanyalah 10 persen kontribusi inteligensinya, sedangkan 90 persen keberhasilan ditentukan kecerdasan emosinya, terutama semangat juang ketika menghadapi tantangan. Yang perlu diajarkan kepada anak-anak kita di sekolah adalah semangat juang untuk mendapat nilai 100. Di dalamnya termuat usaha-usaha atau proses bekerja sungguh-sungguh untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Semangat juang yang tumbuh karena pembiasaan menjadi modal mereka untuk bisa bertahan di tengah melejitnya inovasi di segala bidang. Ketahanan dalam menghadapi tantangan ke depan patut ditempa sejak usia sekolah.

Nilai Positif

            Menghayati ungkapan di atas sebagai pembuka tulisan ini, pada bagian menuju akhir, hal penting yang penulis ingin tekankan adalah pentingnya pembiasaan nilai-nilai positif sebagai pembentukan karakter. Latihan terus-menerus sehingga merasa “hampa” jika tidak dilakukan adalah indikator jika pembiasaan ini telah membudaya. Contoh hal kecil; membuang serpihan kecil dari sobekan kemasan permen di tempat sampah atau jika tidak menemukan tempat sampah, sampah tersebut diselipkan oleh si anak ke dalam kantong baju atau celananya, yang kemudian akan dibuang pada tempatnya. Hal ini terlihat sepele, namun pembiasaan yang dibutuhkan usaha besar untuk membuatnya menjadi suatu kebiasaan. Banyak hal positif dari penanaman karakter baik tersebut, di antaranya; disiplin berbuat baik, meskipun tidak ada seorang pun yang melihat, dan kesadaran menjaga lingkungan karena kecintaan pada lingkungan yang ditempatinya.

            Hal tersebut merupakan segelintir hal positif yang membutuhkan energi besar untuk membiasakannya. Tentunya tempat si anak berkembang menjadi pendukung untuk mewujudkan nilai-nilai positif ini tertanam dalam setiap diri individu si anak. Salah satunya, yaitu sekolah di mana si anak akan menempuh pendidikannya. Pertimbangan program sekolah dan budaya sekolah menjadi fokus ketika menentukan sekolah pilihan, di samping jarak tempuh dan biaya partisipasi pendidikan tentunya. Istilah ‘coba-coba’ tidak ada dalam kamus mendidik anak.

Menanam nilai positif di lingkungan positif secara probabilitas akan menghasilkan kepuasan bagi kita penanam saham, yaitu orang tua dengan tingkat kepuasan maksimal. Proses panjang yang melibatkan semua pihak, terutama kesadaran dalam diri si anak ini juga menjadi determinasi ia dalam bersikap dan bertindak. Namun, setidaknya kita dari sisi orang tua sudah berusaha hingga ambang batas dengan memfasilitasi orang-orang dewasa yang berlaku positif di sekeliling tumbuh kembang anak-anak kita. Anak-anak yang nantinya akan menjadi generasi emas pada 2045 mendatang, di mana tantangan bukanlah dianggap rintangan, namun “keberkahan” yang mengharuskannya untuk senantiasa menjadi manusia pembelajar. Generasi yang bermodalkan curiosity (rasa ingin tahu yang tinggi), sehingga karakter ‘relearn’ dalam setiap individu ini akan sangat mudah dipantik. Mari ciptakan the man behind the gun (pengemban tugas) yang bijak menuju kesuksesan tepat guna. (*)

Penulis merupakan alumni Master of Art in Teacher Education, Tempere University, Finland dan saat ini menjabat sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMP Sukma Bangsa Lhokseumawe.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *