Sel. Nov 30th, 2021

Oleh Angkasah, S.H.I

“Barangsiapa yang ingin sukses di dunia maka hendaklah dengan ilmu, barangsiapa yang ingin sukses di akhirat maka hendaklah dengan ilmu, dan barangsiapa yang ingin sukses pada keduanya (dunia dan akhirat) maka hendaklah dengan ilmu (pula)” – Imam Syafi’i.
Kalam hikmah yang diutarakan Imam Syafi’i di atas membuat kita ingin dan sangat bernafsu mendapatkan ilmu sebanyak-banyaknya. Hal ini mungkin dikarenakan semua kita sangat berharap menjadi sosok yang meraih kebahagiaan dalam dua negeri, yakni dunia dan akhirat. Maka untuk menjadi pribadi yang berilmu, jalan lurus yang harus ditempuh adalah belajar. Belajar dan terus belajar karena segala pengetahuan yang dapat membantu manusia dalam menjalani kehidupan hanya dapat diperoleh dengan cara belajar.
Keberhasilan menuntut ilmu tidaklah cukup hanya belajar untuk ilmu. Akan tetapi bagaimana ilmu tersebut bisa membangun kesantunan dalam interaksi sosial, seperti menghargai ilmu, menghargai ahli ilmu, bahkan hingga menjadi sosok yang bermanfaat bagi orang lain. Alhasil tidak akan pernah terjadi adanya guru yang menangis akibat tingkah muridnya, tidak ada pemanggilan oleh konselor sekolah karena pertengkaran di kelas, dan tidak muncul yang namanya kesombongan orang-orang berilmu apalagi angkuh dalam tata cara pengamalan ilmu, terlebih jika itu ilmu agama. Kemanfaatan ilmu tidak dilihat dari perspektif formil, akan tetapi pada aspek kedalaman yang memengaruhi wilayah batin (hati nurani) dapat muncul ke permukaan dengan menampilkan situasi yang memberikan ketenangan, kearifan, dan manfaat bagi orang yang lain. Hal ini sebagaimana yang telah digambarkan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no: 3289).
Sementara itu, bias dari covid-19 saat ini telah menjadikan situasi belajar-mengajar dipetakan kedalam dua model yakni Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dan pembelajaran tatap muka langsung di sekolah. Kondisi ini secara tidak langsung telah menciptakan paradigma bahwa belajar hanya untuk ilmu. Keterbatasan guru untuk menyampaikan adanya hubungan antara ilmu, akhlak, dan pergaulan ketika belajar secara PJJ ini membuat kekhawatiran baru yang tumbuh di dalam pendidikan saat ini. Maka perlu adanya support dari berbagai pihak agar peserta didik selalu memahami pentingnya belajar bukan hanya semata untuk ilmu, melainkan menjadikan mereka pribadi yang lebih baik dengan memberikan ketenangan, kearifan, dan manfaat bagi orang lain. Peserta didik perlu dilatih secara serius dengan menanamkan nilai-nilai kesabaran, konsistensi, dan tahan terhadap gangguan yang menerpa mereka ketika proses penting ini (belajar) dilakukan. Mereka perlu diberi kekuatan yang maksimal seperti nasehat, teguran, peringatan, dan yang paling penting saling mendoakan antara murid dan guru atau anak dan orang tua, agar proses belajar-mengajar dari guru, dosen, ustadz, maupun orang tua dapat berjalan sesuai cita-cita mulia kehidupan manusia yakni kebahagiaan dunia dan akhirat.
Berdasarkan UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, secara implisit tersirat makna bahwa penyelenggara pendidikan bagi seluruh warga Negara Indonesia pada hakikatnya untuk membentuk sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang memiliki karakter, watak, serta kepribadiaan yang tangguh dan berwawasan kebangsaan. Hal ini dimaksudkan agar generasi bangsa Indonesia siap menghadapi tantangan masa depan, baik internal maupun ekternal (global) seperti kondisi saat ini. Disamping itu pada tahun 2009 pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Nasional menggulirkan wacana pendidikan karakter. Wacana ini bertujuan untuk mengatasi kerusakan moral yang semakin melanda bangsa ini, terutama remaja atau generasi muda. Pendidikan karakter pada dasarnya lahir disebabkan oleh hilangnya aspek nilai moralitas dalam dunia pendidikan kita. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, sekolah lebih mementingkan pengembangan intelektualitas dan sedikit mengabaikan pembinaan akhlak (moral).
Pada akhirnya tugas mulia pendidikan untuk mewujudkan manusia yang berilmu dan beradab tidak mungkin dilaksanakan oleh penyelenggara pendidikan semata. Lagi-lagi campur tangan orang tua/wali murid serta masyarakat sangat penting dalam memonitoring hingga menjadi pelopor pendidikan di rumah dan di lingkungan masing-masing. Karena belajar tidak melulu matematika, biologi, fisika, kimia melainkan pendidikan karakter juga mempunyai andil yang besar dalam keberhasilan seorang murid. Hal ini terlepas dari murid yang sangat menyukai beberapa pelajaran seperti tersebut di atas. Iktiar mereka yang berada di luar lembaga formal tidak maksimal tanpa adanya dukungan dari orang tua dan masyarakat, tugas yang dilaksanakan di sekolah terstruktur dengan baik akan sia-sia jika keluarga di rumah tidak memerhatikan dan mengontrol anak-anak saat di rumah. Idealnya kerjasama pendidik dengan orang tua peserta didik harus diperhatikan dengan serius. Melalui tulisan ini, penulis ingin mengajak orang tua atau wali murid dan masyarakat untuk senantiasa meningkatkan kepedulian kita kepada dunia pendidikan anak. Mudah-mudahanan perubahan baik ini segera terjadi dan berkelanjutan tanpa lupa untuk saling mendoakan. Amin ya robbal ‘alamin! (*)

Penulis adalah guru SMPS Sukma Bangsa Lhokseumawe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *