Rab. Jul 6th, 2022

Acehsiana. Com. Sejujurnya saya puas dengan pelaksanaan Kongres III IGI di Bandung, kadang saya berpikir hikmah besar ketika saya tidak menang. Tim kesekjenan IGI yang saya komandoi menjadi pusat awal data peserta kongres III IGI. Proses validasi utusan dengan SK yang dikeluarkan PP IGI menjadi fokus utama yang sangat menyita waktu. Hingga akhirnya keluarlah Data Pemilih Tetap (DPT) yang kami bisa mempertanggungjawabkan secara akuntabel. Jika saja saya menang bisa jadi sorotan data yang debatable.

Beberapa pihak sempat menyesalkan kami tidak menyelesaikan secara mufakat, memberi kepercayaan kepada salah satu diantara kami untuk menjadi Ketua Umum tanpa harus voting. Syukurnya setelah pemilihan semua bisa melihat masalah ini cukup jernih karena kita puas hasil yang transparan. Apapun pilihan pengambilan keputusan sebenarnya berpotensi memantik konflik, termasuk mufakat sekalipun.

Siapa pun yang kalah belum tentu bisa menerima dikalahkan dengan mufakat, terutama konstituen yang mengamanahkan kami menjadi IGI-1. Kedewasaan guru diuji di sini, cara kontestan Caketum meyakinkan konstituen saat kalah juga sangat menentukan. Alhamdulillah guru IGI lulus ujian dengan sempurna.

Kami sempat dilabeli dengan guru berjiwa kerdil karena tidak mampu mufakat. Kami juga sempat dituding membuat gaduh jika voting diteruskan. Sebenarnya kami di ruangan yang berlima itu, sangat ceria berdiskusi dan berkomitmen saling mendukung meski apapun hasil voting. Toh selesai pesta demokrasi, semua mengucapkan selamat pada yang menang, termasuk konstituen saya. Kita berkhidmat pada IGI bukan pada person.

Organisasi ini sangat dinamis, gairah para guru untuk memimpin organisasi semakin besar di saat organisasi ini lebih besar. Para calon pemimpin pun yakin memperoleh dukungan dengan berbagai daerah, terbukti selisih suara kami berdispersi kecil. Istilah statistika Matematika data ini berdistribusi normal. Artinya figur yang dipercaya oleh teman-teman guru se Indonesia sudah tepat dan layak.

Membandingkan dengan Kongres II IGI di Makassar tahun 2016 jauh berbeda. Saat itu saya sekretaris IGI Aceh Timur, tidak ada istilah berdasarkan SK PP IGI mengenai DPT saat teman-teman berangkat ke Makassar. Proses mufakat sangat memungkinkan terjadi, karena jika dilanjut voting pun akan mudah digugat terlebih tidak semua daerah berangkat ke Makassar dan belum ada pemikiran menggunakan platform pemilihan online saat itu.

Jadi sebenarnya, Kongres III IGI di Bandung tahun 2021 kita memulai SK DPT dari PP IGI di kongres III IGI, wajar kita lumayan kelabakan terutama pada proses validasi dan pembuatan akun untuk pemilihan online.

Ke depan, saya dan Mas Kholiq Sagusanov serta Dinda Faisal Fais pernah diskusi sambil ngopi dibayarin Mas Kholiq, karena ngopinya di Hotel Shangri La Surabaya. Tahun 2026 pemilihan Ketua Umum IGI bisa saja diikuti oleh seluruh guru IGI yang misalnya sudah menjadi anggota minimal satu bulan. Justru SK PP IGI mengenai DPT sangat lentur, hanya tinggal menyebut jumlah berdasarkan sisfo satu bulan terakhir jelang kongres tidak perlu mencamtumkan nama pemilih. Admin sisfo PP IGI menonaktifkan admin daerah dan wilayah agar tidak lagi menambah pendaftaran anggota satu bulan jelang kongres.

Cara seperti ini justru membuat daerah dan wilayah berlomba-lomba membuat kegiatan peningkatan kompetensi guru yang berkualitas untuk setidaknya merekrut anggota baru. Bukan dengan cara menggratiskan terlalu sering, karena organisasi butuh dana yang salah satunya dari pendaftaran anggota.

Apakah perlu TPS di setiap IGI Daerah atau di kecamatan ? Besar pula biaya yang dibutuhkan untuk pengadaan logistik dan pengawasan termasuk tim independen Pemilihan Langsung Ketum IGI (PILTUM IGI). Belum lagi calon harus punya modal untuk saksi di TPS. Mana pula saat penghitungan suara berjenjang dikhawatirkan kelelahan dan ada yang meninggal saat penghitungan suara. Heboh seantero pemilihan Ketua Umum IGI.

Kongres III IGI kita secara terhormat menunjukkan kredibiltas pola voting online yang memuaskan setiap pihak. Kongres IV IGI kita bisa bangun sistem pemilihan di masing-masing akun sisfo anggota IGI. Virtual, tanpa perlu TPS, tanpa perlu saksi, tak perlu penghitungan kertas suara, tak perlu pula logistik. Guru anggota IGI cukup membuka sisfo pada hari pemilihan, di sisfo pribadi tersebut sudah tersedia menu pemilihan Ketua Umum IGI. Silahkan memilih dengan sekali kesempatan, hasilnya bisa real time dan disaksikan langsung akumulasi suara secara otomatis.

Sehingga kita hanya perlu bermufakat untuk menerima dengan lapang dada hasil voting online melalui akun sisfo IGI. Tentu semua bisa senang karena terlibat menentukan Ketua Umum IGI untuk lima tahun yang akan datang.

Jika ini terjadi, negara belajar dari IGI membuat sistem pemilihan damai nan murah namun tetap berkredibilitas dan terjamin akuntabilitas.

Siapkah kita untuk PILTUM IGI 2026 ?

Aceh, 1 Februari 2021

Khairuddin
Sekjen PP IGI Demisioner

Note :
Tulisan ini hanya ide awal melibatkan partisipasi masif anggota IGI. Masih sangat debatable dan perlu dimatangkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *