Sel. Nov 30th, 2021
Urgensi Literasi Bagi Guru

Oleh: Azwar Anas, S.Pd

“Mencerdaskan kehidupan bangsa” merupakan sepenggal kalimat yang termuat dalam teks pembukaan UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945. Kalimat tersebut seakan mengindikasikan besarnya cita-cita bangsa ini setelah kemerdekaan untuk mencerdaskan masyarakatnya dengan segala upaya. Harapan dan cita-cita bangsa ini menjadi resolusi besar yang dipundakkan oleh pemerintah kepada seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) pendidikan terutama guru sebagai garda terdepan di dalamnya.

Menindaklanjuti harapan mulia tersebut, pemerintah berupaya dengan maksimal untuk mencapai kecerdasan bangsa melalui berbagai program yang dicanangkan, salah satunya adalah program literasi yang telah diatur dalam permendikbud nomor 23 tahun 2015.  Secara sederhana literasi merupakan suatu kegiatan yang menitikberatkan pada kemampuan membaca dan menulis. Namun dalam konteks yang lebih luas National Institute for Literacy mendefinisikan literasi sebagai kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung, dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat.

Lembaga survei kualitas pendidikan dunia Program for International Student Assessment (PISA) kembali merilis hasil survei mereka pada tahun 2018 terhadap kualitas pendidikan beberapa negara di dunia pada Selasa (3/12/2019) lalu. Lembaga yang melakukan riset terhadap 600.000 anak berusia 15 tahun dari 79 negara tersebut, aktif melakukan surveinya setiap tiga tahun sekali. Survei yang dilakukan fokus pada kajian tentang kemampuan matematika, membaca, dan kinerja sains.

Rilis hasil survei yang telah dipublis PISA tersebut bisa dikatakan belum melegakan apalagi membahagiakan. Dari 79 negara yang diteliti, Indonesia berada pada peringkat ke 74 pada kategori membaca. Sementara untuk kategori matematika, Indonesia berada pada urutan ke 73. Terakhir kategori kinerja sains, berada pada posisi ke 71. Hal ini menjadi indikator akan lemah dan minimnya literasi bangsa kita. Padahal saat ini literasi menjadi kebutuhan pokok setiap manusia dalam menghadapi berbagai gejolak perkembangan khususnya di era disruspi sekarang ini (Azwar, 2020).

Pentingnya Literasi Bagi Guru

Dewasa ini budaya literasi sangat penting untuk dikembangkan oleh guru dan siswa sebagai bagian dari elemen masyarakat. Selain karena faktor kebutuhan akan ilmu pengetahuan melalui kegiatan membaca dan menulis, faktor lain yang tak kalah penting adalah mengingat literasi merupakan salah satu hal yang harus dimilki manusia dalam menghadapi era industri 4.0. Jika kemampuan ini tidak dimiliki manusia, maka tidak mustahil ia akan tergerus oleh zaman ketika informasi dan teknologi yang semakin maju sementara manusia sendiri masih jalan ditempat.

Sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mendidik dan mengajar, guru kiranya perlu menumbuhkan budaya literasi dalam dirinya. Hal ini sangat berguna untuk bahan pembelajaran agar sang guru bisa menyampaikan informasi yang aktual dan kontekstual kepada siswanya. Jangan sampai ilmu yang disampaikan guru tidak sesuai dengan perkembangan zaman, using, dan tidak berdasarkan kebutuhan peserta didik.

Guru yang sekarang ini hidup di zaman teknologi dengan segala perkembangannya juga harus melek dalam literasi digital dan jangan gaptek. Jangan sampai guru terdahului oleh peserta didiknya dalam mengetahui berbagai informasi atau ilmu pengetahuan, mengingat peserta didik sekarang ini sangatlah kritis dengan penguasaan teknologi informasi yang relatif tinggi dan cepat karena hampir semua peserta didik sudah akrab dengan internet yang dapat diakses dengan mudah dimanapun dan kapanpun. Jika hal ini terus dibiarkan, maka tidak menutup kemungkinan posisi guru dalam pembelajaran tidak lebih sebagai pelengkap saja namun tidak memberikan kontribusi yang cukup signifikan.

Menyulut Semangat Literasi Guru

Menumbuh kembangkan budaya literasi bukanlah hal yang mudah, apalagi jika tidak dibarengi dengan niat yang kuat. Sebagai garda terdepan dalam pendidikan, guru harusnya mampu menjadi contoh dan pelopor gerakan sadar literasi serta memiliki minat yang tinggi untuk membaca dan menulis. Akan jauh lebih bagus jika guru mampu menghasilkan karya tulis sendiri sebagai buah dari hasil bacaan dan pikirannya. Selain sebagai suatu kebanggaan, karya tulis juga bisa menjadi motivasi dan inspirasi bagi rekan seprofesinya bahkan sebagai pemacu bagi siswanya untuk melakukan hal yang sama. Maka dari itu, sesekali guru harus mengazamkan dalam hatinya untuk menghasilkan karya baik berupa buku maupun tulisan atau artikel serta hasil penelitian dan jurnal yang dimuat di mading, majalah atau koran. Kegiatan menulis sangat penting dilakukan oleh guru tidak hanya bagi dirinya sendiri namun juga bagi lingkungan sosial, sekolah, maupun siswanya. Mengingat seorang guru harus cerdas, maka dari itu tidak dapat dipisahkan dari kegiatan membaca dan menulis karena sudah menjadi tugasnya dalam membuat siswa cerdas pula.

Di masa sekarang ini, untuk menulis tentunya harus mengupayakan inspirasi lewat membaca. Tak ada inspirasi, ide atau ilham yang jatuh dengan sendirinya dari langit tanpa dilalui usaha membaca terlebih dahulu. Sudah sepatutnya guru harus menyempatkan diri dan waktu untuk mengeluarkan tenaga dan biaya dalam menumbuhkan budaya membaca. Karena hampir seluruh guru sekarang ini mendapatkan tunjangan profesi sehingga guru dapat memanfaatkannya untuk membeli bahan bacaan yang dapat memperkaya pengetahuan dan wawasan keilmuannya.

Guru merupakan kunci energi pembangkit budaya literasi di sekolah. Selain karena kebutuhan akan literasi yang harus dilakukannya sebagai bekal dalam pembelajaran, literasi juga harus dibudayakan mengingat bangsa ini sedang menghadapi era industri 4.0 dengan segala kompleksitasnya, disamping juga untuk “mencerdaskan kehidupan bangsa” sebagai mana yang sudah diamanahkan dalam pembukaan UUD 1945. Maka dari itu, sudah saatnya literasi menjadi salah satu resolusi para guru saat ini untuk menyongsong Indonesia cerdas dan berprestasi. Semoga! (*)

Penulis adalah Guru SMP Sukma Bangsa Lhokseumawe dan merupakan pegiat isu-isu pendidikan. Buah pikirnya tentang pendidikan telah dituangkan dalam buku yang berjudul “Suara Sang Guru” dan “Veni Vidi Vici: Seni Guru dalam Menaklukkan Pandemi”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *