Kam. Sep 16th, 2021
Dirjen Dikti Sebut Pandemi Covid-19 Tantang Dunia Pendidikan Gunakan Teknologi

ACEHSIANA.COM, Jakarta – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menyebutkan bahwa prinsip pengembangan kurikulum focus pada capaian pembelajaran dan berkualitas. Hal itu disampaikan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kemdikbud, Nizam, dalam keterangannya pada Minggu (29/11) di Jakarta

Menurut Nizam, prinsip yang paling penting dalam pengembangan kurikulum yaitu learning outcomes atau capaian pembelajaran dan berkualitas global. Capaian pembelajaran, kata Nizam adalah keseluruhan proses pengalaman dalam belajar.

“Keseluruhan, jatuh bangunnya mahasiswa yang pada akhirnya akan menghasilkan lulusan-lulusan yang mempunyai kompetensi yang sesuai dengan kesarjanaannya,” ujar Nizam.

Selain itu, kesiapan dalam berkompetisi dalam tingkat global harus didukung penuh. Contoh kecil yang bisa diimplementasikan seperti bekerja sama dengan mitra global, dan kelas yang ada didorong untuk bisa lebih kolaboratif serta partisipatif.

“Dalam menerapkan kebijakan Kampus Merdeka, strategi pembelajaran saat ini lebih bersifat e-learning dan ketika mahasiswa memiliki eksplorasi potensi terhadap bangsanya maka banyak serapan-serapan ide dan referensi yang bisa mereka kembangkan untuk bisa memahami permasalah-permasalahan bangsa,” ungkap Nizam.

Lebih lanjut, ia menjelaskan di era transformasi digital yang penuh dengan tantangan dan peluang ini dibutuhkan kreativitas untuk bisa mengubah tantangan tersebut menjadi peluang. Setiap revolusi industri sedikit banyak mempengaruhi lapangan kerja. Lapangan kerja yang ada seketika dapat hilang di era revolusi industri 4.0.

Saat ini pekerjaan bersifat dinamis, sehingga menuntut perubahan pola pembelajaran yang dilaksanakan di setiap perguruan tinggi agar tetap bisa menghasilkan lulusan yang kreatif dan peka terhadap peluang yang ada.

“Di saat yang sama, perkembangan mesin yang diciptakan manusia bisa menjadi pesaing, sehingga jika tak kreatif dan kompeten, manusia dapat kehilangan pekerjaan. Dulu pekerjaan yang banyak dilakukan manusia adalah berpikir, saat ini mesin juga berpikir,” pungkas Nizam. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *