Rab. Jul 6th, 2022
Dirjen Vokasi Sebut Pelajar SMK Harus Ditanamkan Soft Skill

ACEHSIANA.COM, Yogyakarta – Direktur Jenderal (Dirjen) Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Wikan Sakarinto, menyebutkan bahwa pelajar SMK harus ditanamkan soft skill. Pernyataan tersebut disampaikan Wikan saat mengunjungi SMKN 2 Yogyakarta pada Selasa (22/9) di Yogyakarta.

Menurut Wikan, soft skill yang harus ditanamkan pada pelajar SMK diantaranya kemampuan komunikasi, sikap, dan karakter baik oleh tenaga pendidik. Wikan meyakini bahwa para lulusan SMK nantinya akan mampu berkomunikasi dengan baik saat nantinya mereka menjadi wirausaha atau bekerja di dunia industri.

“Jadi disamping hard skill yang diajarkan kepada anak didik, soft skill lebih utama yang harus diajarkan tenaga pendidik ke anak didik,” ujar Wikan.

Wikan meminta para guru SMKN 2 Yogyakarta harus bisa meyakinkan para siswa, jikalau mereka tidak salah memilih bangku SMK saat melanjutkan pendidikan dari SMP.

“Jadi kalian harus katakan dengan bangga, kalau siswa SMK di sini tidak salah pilih untuk melanjutkan pendidikan,” tegas Wikan.

Lebih lanjut Wikan mengharapkan kepada tenaga pendidik, agar semua kegiatan sekolah di posting secara terbuka. Bahkan bila perlu, tambah Wikan, undang wartawan lokal di Yogyakarta, agar kalangan industri memiliki kepercayaan penuh dengan kualitas siswa yang ada di SMK.

Saat berkunjung ke SMK Negeri 2 Yogyakarta, Wikan tidak lupa melakukan swafoto bersama di bengkel teknik pemesinan dan laboraturium keahlian multimedia dan sija. Pada saat berkunjung, Dirjen Wikan disambut baik oleh Kepala Balai Dikmen Yogyakarta, Rr Suhartati bersama manajemen dan guru SMK Negeri 2 Yogyakarta.

Sebelumnya Wikan mengatakan, saat ini banyak di antara lulusan SMK yang langsung terjun di dunia kerja. Hal ini tak lepas dari kurikulum diterapkan di SMK sudah sesuai dengan kebutuhan industri. Menurut Wikan, fasilitas dan kurikulum beberapa SMK di Indonesia yang sudah menerapkan link and match atau “penikahan massal” dengan Industri dan Dunia Kerja (Iduka) tidak kalah dibandingkan sekolah vokasi di negara Jepang.

“Meski awalnya terkejut dan bingung, semuanya menyatakan senang sekali bisa kita cek langsung, mulai dari kurikulum hingga menggali potensi produk-produk hasil karya mereka,” pungkas Wikan. (*)

Editor: Darmawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *