Rab. Jul 6th, 2022
KPAI: Kuota Umum Internet Harusnya Diperbesar

ACEHSIANA.COM, Jakarta – Mata pelajaran Sejarah selama ini didominasi oleh sejarah Jawa, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) untuk memperbaiki Kurikulum Sejarah.

Permintaan tersebut disampaikan Komisioner KPAI, Retno Listyarti pada Senin (21/9) di Jakarta.

Menurut Retno, Kemdikbud harus memperbaiki materi dan metode pembelajaran mata pelajaran sejarah.

“Saya menilai memang ada muatan-muatan kurikulum sejarah yang harus diperbaiki, begitupun metode pembelajaran sejarahnya, mumpung Kemendikbud sedang menyederhanakan kurikulum,” ujar Retno. 

Dikatakan Retno, bahwa muatan kurikulum mata pelajaransejarah harus diperbaiki dengan dua alasan. Pertama, tambah Retno, kurikulum sejarah Indonesia didominasi oleh sejarah perang dan kekerasan. Oleh karena itu kurikulum sejarah harus diperbaiki agar generasi muda tidak salah menafsirkan seolah-olah bangsa kita penuh kekerasan.

“Dengan demikian pembelajaran sejarah sejatinya dapat menjadi  instrumen strategis untuk membentuk identitas dan karakter generasi muda sebagai penerus bangsa. Dikhawatirkan generasi mudanya akan menyelesaikan masalah dengan kekerasan, bukan dengan dialog,” ungkap Retno. 

Alasan kedua, lanjut Retno, kurikulum sejarah didominasi oleh sejarah Jawa dan kurang memberikan tempat sejarah wilayah lain. Kondisi ini, terang Retno, menyebabkan anak Aceh, Papua, Kalimantan, Sulawesi, Sumatera kebanyakan belajar sejarah Jawa.

Lebih lanjut Retno membeberkan bahwa metode pembelajaran sejarah oleh para guru selama ini memang cenderung sebatas menghafal. Seharusnya, pungkas Retno, pelajaran sejarah berisi pemaknaan dan esensi nilai-nilai apa saja dari suatu peristiwa sejarah tersebut bagi perjalanan bangsa.

“Pembelajaran sejarah cenderung membosankan bagi anak-anak karena hanya hafalan seputar apa kejadian, dimana kejadiannya, siapa saja tokoh sejarahnya, kapan terjadinya dan dimana kejadiannya. Sementara bagaimana proses peristiwa sejarah itu terjadi jarang digali dan didalami melalui dialog. Jika terus menghafal, cenderung mudah dilupakan dan tidak dipahami makna suatu peristiwa sejarah,” tutup Retno. (*)

Editor: Darmawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *